Agenda RUA III 2010/Tantangan Wikimedia Indonesia

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Organisasi Nirlaba

Menurut Tor Hernes (2004) organisasi adalah kesatuan yang terikat dalam waktu dan wilayah tertentu yang dibentuk untuk melakukan kegiatan dan sebagai wadah berinteraksi.[1] Dalam organisasi terdapat sekumpulan sumberdaya yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Dibedakan oleh tujuannya, organisasi ada yang bertujuan untuk laba dan nirlaba. Kata nirlaba disini berarti sumber dana ataupun keuntungan yang diterima organisasi tersebut telah diatur untuk tidak dibagikan kepada pemiliknya. “Keuntungan” disini merupakan istilah teknis akunting yang bermakna kelebihan antara pemasukan atas pengeluaran.

Pada tahun 1950an istilah organisasi nirlaba tidak banyak digunakan. Organisasi-organisasi nirlaba dengan tujuan sosial seperti Rumah Sakit , melihat diri mereka sebagai Rumah Sakit dan bukan organisasi nirlaba, organisasi Remaja Mesjid, melihat diri mereka sebagai organisasi Remaja Mesjid dan tidak melihat korelasi persamaan keberadaan mereka dengan Rumah Sakit, demikian juga dengan panti asuhan. Organisasi nirlaba adalah organisasi yang oleh peraturan diatur untuk tidak membagikan keuntungan.

Sementara organisasi untuk laba mengupayakan jasa dan produk dalam lini usaha mereka, organisasi nirlaba tidak berupaya menjual produk ataupun jasa, ataupun mencoba menciptakan peraturan dan kontrol seperti yang dilakukan oleh organisasi pemerintahan. Menurut Drucker (1990), seorang pakar manajemen untuk organisasi nirlaba, produk organisasi nirlaba bukanlah sepasang sepatu atau peraturan yang efektif. Produk organisasi nirlaba adalah “perubahan menjadi manusia yang lebih baik”. Institusi nirlaba adalah agen perubahan pada manusia. Pada institusi nirlaba “produk” nya adalah pasien yang sembuh, seorang anak yang berhasil mempelajari sesuatu, dan anak muda yang tumbuh menjadi pribadi dewasa yang menghargai diri mereka sendiri; dan apabila dilihat dalam bentuk keseluruhannya: perubahan pada kehidupan manusia.[2]

Dalam upaya-upayanya menjadikan manusia-manusia yang berubah menjadi lebih baik, organisasi-organisasi nirlaba banyak yang ‘alergi’ dengan istilah “manajemen” karena orang-orang yang berada dibalik operasional organisasi nirlaba beranggapan bahwa manajemen itu hanya diberlakukan dalam institusi bisnis untuk mencari laba, sementara mereka tidak bertujuan untuk laba. Secara umum kata "manajemen" masih berarti manajemen bisnis. Penanganan secara profesional manajemen dalam organisasi nirlaba dianggap sebagai penanganan "penggalangan dana”, padahal organisasi nirlaba memerlukan upaya jelas dalam berkonsentrasi menghidupkan misi organisasi, mengasah kepemimpinan, dan melakukan manajemen sumber daya. [2]

Tujuan dari organisasi nirlaba adalah untuk memenuhi kebutuhan seseorang atau banyak orang dalam suatu komunitas. Setiap organisasi nirlaba menjabarkan tujuannya dalam pernyataan misi. Beberapa tipe jasa nirlaba yang paling umum adalah asosiasi seni, kepentingan sipil, kebudayaan, pendidikan, kesehatan, dan jasa-jasa kemanusiaan. Jasa nirlaba besarnya sangat bervariasi mulai dari yang sangat besar seperti Palang Merah Internasional, hingga yang sangat kecil seperti organisasi yang dibuat oleh sekelompok sukarelawan yang bekerja paruh waktu.


Target khalayak

Ada beberapa target khalayak dalam organisasi nirlaba:[3]

  1. Khalayak pengguna (klien) – seluruh upaya nirlaba pada akhirnya berujung pada melayani kebutuhan kliennya atau pengguna jasa nirlaba. Dengan catatan bahwa jasa ini dapat berarti hal yang kongkrit (terlihat) atau abstak (tidak langsung terlihat hasilnya).
  2. Dewan-dewan terdiri dari kumpulan individu yang berasal dari komunitas. Hukum dan teori yang berlaku menjabarkan bahwa dewan berkuasa dan bertanggung jawab langsung atas keputusan dan kebijakan mereka dalam mengarahkan kemana dan bagaimana khalayak pengguna (klien) dari organisasi akan menikmati jasa yang diupayakan. Kewenangan yang dimiliki oleh dewan diberikan oleh Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga organisasi. Dewan kemudian dapat menentukan stuktur terbaik bagaiamana organisasi pengemban status nirlaba menjalankan sumber dayanya melalui peraturan tertulis yang secara spesifik tertuang dalam ART atau peraturan lainnya. Anggota dewan dari organisasi nirlaba biasanya termotivasi dari kepuasan melayani komunitas dan kepuasan batin tersendiri karena telah menjadi sukarelawan. Anggota dewan dari organisasi nirlaba bisa jadi tidak menerima kompensasi dalam bentuk uang saat menjabat sebagai dewan.
  3. Ketua Dewan – peran ketua dewan pengawas merupakan pusat penting dari pengkoordinasian pekerjaand dewan-dewan lain, direktur pelaksana, dan komite-komite dibawahnya. Peran Ketua Dewan bisa jadi memiliki kekuatan untuk menentukan komite, tergantung dari apa yang dinyatakan dalam peraturan. Kekuatan dari ketua dewan biasanya lahir melalui bujukan dan kepemimpinan umum.
  4. Komite – secara umum dewan memilih untuk menjalankan fungsi-fungsi operasionalnya melalui berbagai macam komite dewan-dewan.
  5. Direktur pelaksana – dewan pada umumnya memilih untuk meminta satu orang yang menjabat sebagai direktur pelaksana untuk menjalankan keinginan dewan. Direktur Pelaksana bertanggung jawab langsung atas hasil kerja staf dan mendukung kerja komite-komite dibawahnya.
  6. Sukarelawan – sukarelawan adalah pekerja-pekerja yang tidak dibayar yang membantu staf bekerja dalam komite-komite dan umumnya bekerja dibawah pengarahan direktur pelaksana.


Tiga aspek utama struktur nirlaba

Organisasi nirlaba umumnya terbagi menjadi beberapa fungsi utama. Fungsi-fungsi ini umumnya meliputi administrasi terpusat dan program-program.[3]

  1. Pengaturan (governance) – Fungsi pengaturan pada organisasi nirlaba bertanggung jawab untuk menyediakan pengarahan strategis, bimbingan, dan pengendalian. Seringkali istilah “pengaturan” terkait dengan hal-hal yang dibicarakan.di tingkat dewan. Namun banyak orang yang mulai memperimbangkan pengaturan sebagai fungsi yang dijalankan oleh dewan dan manajemen tingkat atas. Keefektifan pengaturan bayak bergantung dari hbgunang pekerjaan antara dewan dan manajemen tingkat atas.
  2. Program – pada umumnya organisasi nirlaba bekerja dari misi umum mereka atau tujuan, untuk mengidentifikasi beberapa dasar-dasar tujuan yang harus dipenuhi agar berahasil mencapai misi mereka. Sumber daya diatur menjadi program-program agar dapat mencapai tujuan-tujuan spesifik yang keseluruhannya mencerminkan misi organisasi. Program dipertimbangkan mulai dari input, proses, output dan hasil. Masukan (input) adalah berbagai macam sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan program; contoh: dana, fasilitas, klien-klien, staf untuk program, dan seterusnya. Proses adalah bagaimana program dijaankan; contoh: klien diberi keahlian tertentu, anak-anak berhasil dirawat dan diasuh, seni diciptakan, anggota perkumpulan mendapat dukungan. Sementara keluaran (output) adalah dampak yang terjadi bagi para penerima keuntungan (klien); contoh kesehatan mental meningkat, peningkatan rasa apresiasi terhadap seni dan tumbuhnya sudut pandang lain dalam melihat kehidupan, peningkatan efektifitas antar anggota, dan seterusnya.
  3. Administrasi Pusat adalah staf dan fasilitas-fasilitas yang umum digunakan untuk menjalankan program-program. Biasanya hal ini termasuk direktur pelaksana dan karyawannya. Nirlaba umumnya berjuang untuk menekan biaya-biaya administrasi pusat serendah mungkin dibandingkan biaya menjalankan program.


Berbeda dengan organisasi yang bertujuan untuk keuntungan, organisasi nirlaba biasanya memiliki karakteristik khusus akan kemampuan manajemen peran-peran penting yang diperlukan di dalamnya. Kemampuan unik yang diperlukan dalam manajemen nirlaba adalah:[3]

  • Pengetahuan dan kemampuan yang umumnya diperlukan dalam manajemen;
  • Pengetahuan dan kemampuan dalam melaksanakan aktifitas-aktifitas manajemen;
  • Kemampuan menggalang dana dan kemampuan menulis permintaan untuk dana hibah;
  • Pengaturan (Sukarelawan Dewan Dewan Direktur);
  • Anggaran dan Akunting untuk Nirlaba;
  • Pengembangan Program dan Evaluasi;
  • Peraturan dan Kebijaksanaan yang menyangkut Publik;
  • Program Sukarelawan.

Pendapatan organisasi nirlaba: iuran dan penggalangan dana

Iuran bisa jadi didapatkan dari jasa dan harga yang ditetapkan untuk individual yang menerima jasa yang mereka terima (contohnya orang tua yang menitipkan anaknya di sarana penitipan anak) atau pihak ketiga seperti pemerintah yang mendukung jasa-jasa seperti yang disediakan oleh organisasi. Tidak seperti sektor swasta dimana harga produk dan jasa harus dapat menutupi seluruh biaya, institusi nirlaba harus dapat menggalang dana dan mencari sumber dana tambahan. Penting untuk diingat bahwa walaupun banyak organisasi nirlaba berguna untuk masyarakat, sulit untuk mengukur hasil pasti layanan yang mereka sediakan. Perubahan sikap pada seseorang atau pada komunitas bisa jadi memakan waktu tahunan untuk dapat disadari dampaknya. Walaupun begitu organisasi nirlaba terus menerus ditantang untuk dapat menunjukkan hasi karena lembaga donor makin lama makin pintar dan sumber pendanaan makin terbatas.[3]

Untuk penggalangan dana, manajer nirlaba (dan dewan-dewan direktur) harus dapat bersinergi untuk menggalang dana dengan tujuan mendapatkan kebutuhan dana untuk organisasi. Umumnya penggalangan dana bukan menjadi tugas yang menyenangkan untuk direktur pelaksana. Penggalangan dana bisa jadi aktifitas yang memakan tenaga, menyedot kemampuan kreatif dan energi sosial. Direktur pelaksana terus menerus diuji untuk menyeimbangkan waktu yang mereka habiskan untuk menggalang dana dan manajemen program. Terlalu sedikit waktu yang dihabiskan dalam satu area dapat menjadikan organisasi kekurangan dana atau kualitas pelayanannya.

Ada beberapa sumber-sumber mendasar dalam pendanaan di sektor nirlaba. Yang pertama adalah hibah. Hibah dapat diberikan oleh departemen-departemen di dalam pemerintahan, yayasan, atau perusahaan, yang biasanya diberikan untuk mengoperasionalkan suatu program spesifik. Seperti yang pernah dijabarkan sebelumnya, badan-badan yang menerima hibah pemerintah untuk menjalankan program jasa kemanusiaan biasanya melakukan jasanya berdasarkan biaya dari jasa tersebut. Hibah dari yayasan-yayasan atau perusahaan biasanya diberikan di muka dan menuntut laporan akan aktiftas-aktifitas program yang dilakukan dan biaya yang dikeluarkan pada akhir program hibah.[3]

Organisasi nirlaba bisa juga memberikan dana pada individual. Sumbangan individual juga dapat datang dari dana keanggotaan atau penerima keuntungan (contohnya pemirsa penikmat siaran televisi publik atau penghuni rumah komunitas pengaman lingkungan). Sumbangan – sumbangan ini biasanya merupakan sumbangan dalam bentuk kecil, dan idealnya sumbangan dalam bentuk kecil ini datang dari orang yang banyak. Pemberian yang besar bisa juga datang dari individu atau perseorangan yang seringkali disebut sebagai donor besar. Memupuk hubungan dengan donor-donor besar membutuhkan banyak energi (ketelatenan) dan kecerdikan dari dewan dan direktur. Banyak organisasi nirlaba melangsungkan acara-acara khusus untuk meraih dana, dan caranya bervariasi mulai dari berjualan kue hingga melangsungkan acara besar.

Penggalangan dana bisa jadi pekerjaan penuh waktu (atau menjadi obsesi penuh waktu) dari direktur pelaksana untuk organisasi nirlaba. Tantangan direktur pelaksana adalah untuk mengimbangkan waktunya dalam menggalang dan melakukan manajemen program. Apabila terlalu banyak waktu difokuskan untuk menggalang dana, staf dan program-program yang berjalan bisa jadi tidak mendapatkan arahan, penerangan, dan pelatihan yang mereka butuhkan. Di lain pihak apabila penggalangan dana mendapatkan tempat setelah manajemen program, aliran dana organisasi bisa terhambat.[3]

Ada dua faktor yang dapat meningkatkan upaya penggalangan dana. Salah satunya adalah program yang baik. Program-program yang memenuhi kebutuhan penting komunitas dan menunjukkan hasil akan mampu menjual diri tanpa banyak campur tangan. Dewan yang berkomitmen dalam tanggung jawab penggalangan dananya juga bisa menjadi aset untuk organisasi. Anggota – anggota dewan yang menanggap serius peran mereka sebagai individu yang harus membantu menggalang dana dapat mempromosikan organisasi dan membantu membawa berbagai macam sumberdaya masuk.


Jantung kehidupan organisasi: kepemimpinan dan manajemen

Dalam riwayatnya, seluruh organisasi nirlaba yang sukses terdapat kepala pelaksana dan jajaran dewan pelaksana yang efektif. Pemimpin-pemimpin ini harus dapat bekerja dengan visi kedepan, memiliki keahlian, dan mendapatkan sumber daya yang cukup untuk dapat memenuhi misi organisasi. Saat daya kendali untuk memimpin terbagi-bagi, kemampuan manajemen untuk hal-hal yang kritis tetap harus terletak pada kepala pelaksana (head of executive). Walaupun begitu, dewan harus memiliki kemampuan yang cukup dalam manajemen untuk membantu tugas direktur dalam menyediakan yang perlu dalam keputusan-keputusan strategis.[3]


Nilai utama

Nilai-nilai yang diperjuangkan adalah yang menjadi motor penggerak dalam organisasi nirlaba. Hal ini jugalah yang menjadi masalah utama untuk jajaran pelaksana. Bagaimana program disetujui, perkembangannya ditinjau, dan suksesnya diukur? Bagaimana prioritas diambil dan bagaimana mencapai konsensus? Bagaimana menghargai para staf dan sistem kontrol apa yang tersedia? Konsultan yang telah berpengalaman mungkin diperlukan dari waktu ke waktu untuk membantu tim menjawab pertanyaan tentang kualitas, pertanyaan-pertanyaan provokatif, berat sebelah dan emosional, serta dapat terfokus akan sistem manajemen yang cocok.[3]

Keberagaman dalam organisasi sebaiknya dicerminkan tidak hanya pada ras dan etnik yang berbeda-beda, namun juga pada nilai dan sudut pandang yang berbeda. Keberagaman yang kuat merupakan keuntungan yang besar untuk organisasi nirlaba karena masukan dari berbagai macam sudut pandang biasanya menjadi jaminan bahwa pada situasi tertentu telah mendapatkan pertimbangan yang matang dan masukan ide-ide baru. Walaupun begitu, pegawai nirlaba harus yakin bahwa mereka mengembangkan diri dan tetap membuka diri pada nilai-nilai dan perspektif yang baru.[3]


Kesulitan ganda organisasi nirlaba skala kecil

Sebagian besar organisasi nirlaba memiliki karyawan dalam jumlah kecil dan anggaran yang juga kecil, contohnya: kurang dari USD 500,000,-; dan hal ini menggandakan kesulitan yang mereka hadapi, apalagi bila mereka terikat untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan oleh komunitas dalam skala besar yang akan mereka layani. Untuk mereka yang baru dalam organisasi nirlaba, seringkali berpikiran bahwa karena organisasi nirlabanya kecil, maka masalah yang dihadapi organisasi kecil ini seharusnya secara alami menjadi sederhana. Pada kenyataannya sebaliknya, sebagian besar organisasi-organisasi (diluar seberapa besar organisasi tersebut) mengalami masalah yang sama; contohnya: tantangan dalam merencanakan, mengorganisasi, memotivasi, dan membimbing. Apabila masalah-masalah ini terjadi pada organisasi yang kecil, sifatnya menjadi sangat tidak stabil (dinamis) dan kompleks.[3]

Kurangnya dana untuk membayar pemimpin yang tepat

Dengan ketiadaan uang, kemampuan menarik dan menahan manajemen yang berbayar juga menjadi masalah serius. Kerja keras dengan kesempatan perkembangan karir yang kecil mendorong seringnya pergantian direktur pelaksana dan staf yang dibutuhkan untuk menjalankan operasional organisasi. Hal ini dapat menghambat kerja organisasi nirlaba. Keahlian yang dibawa oleh para pemimpin ini untuk memberi saran-saran manajemen, ikut pergi saat pemimpinnya pergi.[3]

Kurangnya pelatihan manajemen organisasi nirlaba

Banyak manajer organisasi nirlaba dipromosikan tanpa mempertimbangkan latar belakangnya yang bukan dari manajemen dan tidak memiliki kemampuan manajemen yang memadai untuk menjalankan organisasi nirlaba. Pelatihan dan konsultasi akan banyak membantu pemimpin-pemimpin baru dan manajer-manajer baru yang bermunculan untuk mendapatkan keahlian yang mereka cari dan membantu mereka menghadapi lekukan-lekukan kesulitan berwarna-warni yang harus mereka lewati.[3]

Pimpinan pelaksana merangkap terlalu banyak jabatan

Pimpinan pelaksana dari organisasi nirlaba harus menjadi ahli masa kini dalam perencanaan, marketing, manajemen informasi, telekomunikasi, manajemen properti, sumber daya manusia, keuangan, rancang sistem, penggalangan dana, dan evaluasi program. Tentu saja hal ini mustahil, diluar besar-kecilnya organisasi nirlaba tersebut. Organisasi besar mungkin dapat membayar ahli-ahli untuk bekerja secara internal, namun untuk organisasi kecil, hal ini menjadi mustahil. Ditambah lagi teknologi maju dalam bidang manajemen berkembang sangat cepat untuk orang yang bukan ahli dapat mengikuti bagaimana cara pikir baru dan keahlian-keahlian baru, diluar besar-kecilnya organisasi. Ahli yang didatangkan dari luar seringkali menjadi keharusan untuk organisasi besar dan kecil.[3]

Saran ahli terlalu mahal

Kebanyakan organisasi nirlaba, bahkan yang besar sekalipun, seringkali ragu untuk menghabiskan uang untuk “biaya” administrasi seperti pembayaran konsultan, atau ahli dari luar karena terasa seperti membuang-buang uang yang berharga untuk jasa yang mahal. Tentu saja seringkali hal ini bukan pilihan, bisa jadi organisasi nirlaba tidak memiliki uang yang cukup, bahkan untuk mempertimbangkan konsultan yang mematok harga sama bagi organisasi yang bergerak demi laba. Bantuan yang murah, berdasarkan kesuka-relaan, seringkali menjadi solusi yang lebih tepat.[3]

Tidak cukup satu kali konsultasi

Sementara banyak organisasi konsultan ingin memberi pelajaran untuk para manajer “bagaimana cara memancing” dibandingkan dengan “memberi ikan”, “memancing” (disini berarti kemampuan pengelolaan dan pengambilan keputusan) bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari melalui satu kali pertemuan. Apalagi pada area-area teknis seperti komputer, pembelajaran datang dari penanganan masalah atau mengelola masalah dari waktu ke waktu. Membangun kapasitas manajemen internal memerlukan banyak waktu dan tidak bisa dilakukan melalui satu kali pertemuan. Permintaan bantuan yang berulangkali bukan tanda-tanda kegagalan, namun tanda tanda pertumbuhan – kebutuhan untuk ingin tahu telah muncul ke permukaan.[3]

Kurangnya jaringan

Banyak khalayak diluar sektor nirlaba bertanya-tanya, “Mengapa direktur-direktur organisasi nirlaba tersebut tidak berkumpul bersama lebih sering lagi, berbagi saran, dan bekerja sama dalam bidang tersebut?” Banyak alasannya. Pertama, menjalankan organisasi yang sukses (memberikan pelayanan yang berkualitas yang dapat memenuhi misi organisasi) tidaklah cukup. Kebanyakan direktur pelaksana dari organisasi nirlaba menjalankan bisnis kedua – untuk menopang upaya yang pertama. Kedua, upaya ini sama kompleksnya dan aktifitas untuk melakukan hal ini memakan waktu, apalagi apabila direktur pelaksananya merangkap berbagai macam jabatan. Kedua, mengembangkan jaringan atau mencari-cari peluang untuk usaha bersama memakan waktu, mahal, dan penuh resiko.[3]

Ketiadaan dana dan ketiadaan waktu

Pemilik dana seringkali berpikir bahwa aktifitas riset dan percobaan bukanlah hal yang tepat untuk dibiayai, menimbang kemungkinannya untuk berhasil atau menghasilkan sesuatu yang kongkrit, kecil. Sementara organisasi nirlaba bersifat lebih berani untuk mencoba dibandingkan pemilik dana, untuk mereka hanya sedikit yang dipertaruhkan. Perencanaan bersama bisa ditingkatkan menggunakan sarana komputer dan telekomunikasi, namun investasi ini pun sulit dan mahal untuk didanai. Pada beberapa cara, kebutuhan untuk melakukan riset dan percobaan diganti dengan membayar konsultan, paling tidak pada tingkat feasibility. Pada banyak kasus, konsultan dapat menjalankan organisasi melalui perencanaan yang dibutuhkan agar mampu mengembangkan sistem baru yang memasukkan kerjasama, merjer, atau mekanisme otomatis yang menjamin hal ini dilakukan.[3]

Kebutuhan manajemen dan bantuan teknis rendah biaya

Organisasi nirlaba adalah aset berharga komunitas yang harus dikelola dengan efektif. Kebutuhan untuk menyediakan bantuan manajemen yang murah, dapat diakses, dan bantuan teknis sangat jelas untuk seluruh alasan yang telah disebutkan diatas: kerumitan tugas organisasi nirlaba, kurangnya keahlian dari dewan dan anggota internal, kurangnya waktu dan uang, kebutuhan yang berubah-ubah, lekukan-lekukan pembelajaran yang hanya bisa dilakukan dengan menjalankannya, dan sebagai penutupnya adalah betapa pentingnya hasil-hasil untuk komunitas. Karena apa yang telah dicapai dengan baik adalah sesuatu yang dijalankan dengan baik.[3]

Karakteristik umum perencanaan dalam organisasi nirlaba

Untuk kebanyakan organisasi nirlaba, mereka tidak memiliki banyak waktu, uang, atau sumber daya untuk merancang perencanaan yang strategis, menyeluruh, dan canggih. Fokus dari organisasi ini biasanya pada masalah-masalah besar yang mereka hadapi dan secepatnya ditangani. Kebanyakan tantangan besar yang dihadapi oleh fasilitator adalah pelatihan dasar untuk para penggiat tentang konsep perencanaan, membantu organisasi nirlaba untuk tetap fokus, dan mempertahankan sumberdayanya yang terbatas dalam perencanaan, dan menjamin strategi-strategi yang muncul benar-benar strategis dan bukan hanya berjalan dengan ukuran operasional/ efisien, serta membantu merencanakan pertemuan-pertemuan kecil dan terfokus yang akan menelurkan rencana-rencana realistis yang dapat dilakukan.[3]

Referensi

  1. Hernes, Tor. The Spatial Construction of Organization (Advances in Organization Studies). John Benjamin B.V Publishing. 2004. P 11.
  2. 2,0 2,1 Drucker, Peter Ferdinand. Managing the non-profit organization. Butterworth-Heinemann Publishing, Massachuset. 1990. P x (preface).
  3. 3,00 3,01 3,02 3,03 3,04 3,05 3,06 3,07 3,08 3,09 3,10 3,11 3,12 3,13 3,14 3,15 3,16 3,17 3,18 McNamara, Carter. Field Guide to Consulting and Organizational Development With Nonprofits. Authenticity Consulting, LLC. 2005.