Creative Commons Global Summit 2011/Laporan

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Rencana Anggaran Laporan Dokumentasi aktivitas Laporan Penggunaan Dana

EnglishBahasa Indonesia


Logo Creative Commons Global Summit 2011

Halaman ini berisikan laporan naratif dari perwakilan Creative Commons Indonesia selama menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2011.


Didukung oleh


Partisipasi CC Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2011 dimungkinkan atas dukungan dari CC Internasional dan PT Saling Silang.

Laporan Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2011

Hari Pertama, 16 September 2011
  • KTT dibuka dengan sambutan oleh CEO CC Catherine Casserly yang, dibantu oleh mantan CEO CC Joichi Ito, menegaskan kembali visi dari CC, yaitu “akses universal untuk riset dan pendidikan, serta partisipasi penuh dalam kebudayaan”.
  • Acara dilanjutkan dengan pertemuan afiliasi untuk masing-masing wilayah dalam rangka melaporkan perkembangan terbaru masing-masing afiliasi dan tukar menukar pengalaman dalam implementasi lisensi CC di negaranya masing-masing. Dalam pertemuan regional Asia, Australia, dan Selandia Baru yang dimoderatori oleh Chiaki Hayashi sebagai Koordinator Proyek Asia, CC Indonesia menyampaikan perkembangan implementasi CC di Indonesia dan mempromosikan pemanfaatan lisensi CC oleh individu maupun kelompok di Indonesia. Individu dan kelompok yang telah menggunakan atau tertarik untuk menggunakan lisensi CC (unported) tersebut antara lain adalah Pandji Pragiwaksono (Penyiar Radio, Penyanyi, dan Pencipta Lagu), Adhitia Sofyan (Penyanyi dan Pencipta Lagu), Bottle Smoker (Kelompok Musik), Indonesia Bercerita (Kelompok Masyarakat) dan Internet Sehat (Organisasi Non-Pemerintah).
  • Pada hari pertama ini disampaikan juga rencana peluncuran lisensi CC versi 4.0. Dengan lisensi CC versi 4.0 ini diharapkan dapat diberlakukan lisensi CC secara internasional dan tidak terbatas pada satu yurisdiksi saja karena akan mengacu pada konvensi internasional yang relevan. Saat ini CC internasional masih membahas lisensi CC versi 4.0 secara mendalam dengan memperhatikan masukan dari afiliasi-afiliasinya.
  • Ada juga beberapa sesi diskusi mengenai sosialisasi dan pemanfaatan lisensi CC di sekolah serta pemanfaatan lisensi CC untuk kegiatan penerbitan ilmiah.
  • Acara hari pertama ditutup dengan pertemuan antara Dewan, staf, dan afiliasi CC. Inti pertemuan adalah memperkenalkan Dewan dan staf CC Internasional kepada seluruh afiliasi CC yang hadir.


Hari Kedua, 17 September 2011
  • Pada hari kedua diselenggarakan berbagai macam sesi terkait implementasi lisensi CC di berbagai bidang, antara lain di bidang pemerintahan, riset, pendidikan, bisnis, dan seni budaya, serta presentasi berbagai proyek yang telah dan akan dilakukan oleh afiliasi-afiliasi CC. Proyek yang dinilai paling berhasil adalah Proyek E-Government yang diprakarsai oleh CC Australia. Dalam proyek itu, CC Australia berhasil meyakinkan Pemerintah Australia untuk menggunakan lisensi CC untuk seluruh materi publikasi pemerintah. Panduan yang dibuat CC Australia dalam Proyek E-Government ini bahkan menjadi acuan banyak afiliasi CC dalam menjalankan proyek e-government di negaranya. Prof. Brian Fitzgerald dari CC Australia menawarkan bantuannya kepada CC Indonesia seandainya CC Indonesia juga ingin melaksanakan proyek e-government sebagaimana dilakukan di Australia.
  • Dalam sesi “5 Minutes of OER Fame”, ada delapan afiliasi CC, termasuk CC Indonesia, yang diberikan kesempatan untuk menyampaikan idenya dalam rangka mendukung sumber pendidikan terbuka (open educational resources). Dalam sesi tersebut, CC Indonesia menyampaikan gagasan proyek CC Indonesia untuk mempromosikan dan melestarikan bahasa dan aksara daerah di Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi fakta bahwa Indonesia memiliki lebih dari 150 bahasa dan aksara lokal di berbagai daerah di Indonesia, namun hanya sedikit orang yang mengenal dan mengetahuinya. Oleh karena itu, CC Indonesia bermaksud memperkenalkan berbagai bahasa dan aksara daerah itu dalam berbagai desain kaos menarik yang nantinya akan ditampilkan dalam suatu situs khusus agar diketahui luas oleh publik. Desain kaos itu bebas untuk dicetak pada kaos dan diperjualbelikan oleh siapapun karena menggunakan lisensi CC BY-ND-SA. Dalam desain kaos yang menggambarkan bahasa dan aksara daerah tersebut akan tercantum juga penjelasan singkat mengenai bahasa dan aksara daerah tertentu, serta tautan menuju halaman pada situs Wikipedia untuk penjelasan yang lebih lengkap. Pemilihan media kaos ini berdasarkan fakta bahwa dalam budaya pop kaos telah menjadi media yang efektif sebagai sarana menyampaikan pesan tertentu, sehingga diharapkan bahasa dan aksara daerah yang dituangkan dalam desain kaos yang menarik dapat lebih mudah diperkenalkan kepada generasi muda.
  • Acara pada hari kedua ditutup dengan ceramah dari Prof. Lawrence Lessig, salah seorang pendiri CC. Dalam ceramahnya, Prof. Lawrence Lessig menyampaikan refleksi 10 tahun perkembangan CC. Ia menyampaikan betapa pentingnya akses yang terbuka terhadap pengetahuan untuk kepentingan riset dan pendidikan. Oleh karena itu, lisensi CC harus terus disosialisasikan agar dapat dipahami oleh berbagai kalangan sehingga dapat dimanfaatkan secara luas diberbagai bidang untuk mendukung akses yang terbuka terhadap pengetahuan.


Hari Ketiga, 18 September 2011
  • Pada hari ketiga, terdapat sesi mengenai laporan perkembangan hubungan afiliasi CC di berbagai negara dengan organisasi pengumpul royalti (collecting societies). Pada sesi tersebut diketahui bahwa terdapat masalah antara beberapa afiliasi CC dengan organisasi pengumpul royalti di negaranya. Organisasi pengumpul royalti tersebut tetap memungut royalti atas pengumuman suatu ciptaan oleh pihak lain meski ciptaan tersebut menggunakan lisensi CC. Walaupun telah mendapatkan royalti atas ciptaan tersebut, namun organisasi pengumpul royalti tersebut tidak membagi hasil pungutan royalti itu kepada penciptanya dengan alasan penciptanya tidak mendaftar sebagai anggota organisasi pengumpul royalti yang bersangkutan. Pencipta tersebut tidak mendaftar sebagai anggota organisasi pengumpul royalti tersebut karena dengan menggunakan lisensi CC pada ciptaannya pencipta merasa tidak membutuhkan peran organisasi tersebut. Hal inilah yang kadang menimbulkan perselisihan antara afiliasi CC dengan organisasi pengumpul royalti setempat.
  • Terdapat juga beberapa sesi mengenai membangun tim afiliasi yang meliputi cara membentuk struktur tim, mencari dana dan menjaga keberlanjutan organisasi. Dalam sesi ini masing-masing afiliasi memberikan informasi mengenai upaya-upaya untuk membangun afiliasinya. Dari sesi-sesi tersebut diketahui bahwa CC Yordania dipimpin oleh para pekerja di bidang periklanan sehingga mereka dapat dengan mudah mensinergikan kegiatan-kegiatan CC Yordania dengan kegiatan promosi usaha klien-kliennya. CC Qatar ternyata berada di bawah manajemen otoritas bidang telekomunikasi sehingga mendapat dukungan penuh dari pemerintah Qatar untuk kegiatan-kegiatannya, baik dukungan finansial maupun non-finansial. Sebagian besar afiliasi CC diketahui berada di bawah manajemen perguruan tinggi atau lembaga penelitian, baik yang independen maupun yang menginduk pada perguruan tinggi, sehingga mereka dapat memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi atau lembaga penelitian itu untuk menunjang kegiatan mereka. Sebagian afiliasi CC lainnya berada di bawah manajemen asosiasi lokal Wikimedia, seperti halnya CC Indonesia yang berada di bawah manajemen Wikimedia Indonesia.
  • Dalam sesi menjelang penutupan acara, masing-masing pemimpin atau moderator dari pertemuan wilayah melaporkan secara umum perkembangan masing-masing afiliasi di wilayahnya serta rencana kegiatan di masa mendatang. Untuk wilayah Asia, Australia, dan Selandia Baru akan dibuat suatu media komunikasi khusus untuk wilayah tersebut guna menjaring usulan dan masukan dari afiliasi-afiliasi CC di wilayah tersebut berkaitan dengan aktivitas CC di wilayah tersebut.
  • KTT ditutup dengan sambutan penutupan oleh CEO CC Catherine Casserly yang menyampaikan penghargaannya terhadap afiliasi-afiliasi CC yang telah melakukan berbagai proyek dan kegiatan di negaranya masing-masing dalam rangka mengimplementasikan lisensi CC. Dia juga memberikan semangat kepada afiliasi-afiliasi CC agar terus mensosialisasikan lisensi CC sehingga visi dari CC dapat segera terwujud.


Karena dalam satu hari kadang ada lebih dari dua sesi yang diselenggarakan dalam waktu yang bersamaan, CC Indonesia yang hanya mengirimkan dua orang tidak dapat menghadiri seluruh sesi yang diselenggarakan dalam KTT tersebut. Hanya sesi-sesi tertentu yang dianggap relevan dengan kebutuhan CC Indonesia saat ini sebagaimana disampaikan di atas yang akhirnya dihadiri.