Creative Commons Global Summit 2015/Laporan

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Rencana Anggaran Laporan Dokumentasi aktivitas Laporan Penggunaan Dana

Logo Creative Commons Global Summit 2015

Halaman ini berisikan laporan naratif dari perwakilan Creative Commons Indonesia selama menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2015.

Didukung oleh


Partisipasi CC Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2015 dimungkinkan atas dukungan dari Creative Commons Corporation dan Wikimedia Indonesia.


Laporan Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2015

14 Oktober 2015

Rangkuman Diskusi Jaringan Afiliasi Asia-Pasifik

Pada tanggal 14 Oktober 2015, panitia Konferensi menyediakan waktu untuk jaringan afiliasi CC berkumpul dan berdiskusi mengenai kegiatan afiliasi. Diskusi yang dipimpin oleh Paul dari CC HQ dan Kamil dari CC Poland dimulai dengan pembahasan hasil kuesioner daring yang dibagikan kepada afiliasi satu minggu sebelumnya. Diskusi kemudian dikelompokkan berdasarkan jaringan afiliasi regional, dibagi menjadi tiga tingkat kerja sama kegiatan, yaitu kegiatan yang sedang atau akan dilakukan di dalam satu jaringan afiliasi regional, di antara satu jaringan afiliasi regional dengan jaringan afiliasi regional lainnya, dan di antara afiliasi dan kantor pusat (HQ).

Afiliasi Asia-Pasifik, dengan bantuan Jane Park dari CC HQ sebagai notulen, berdiskusi dengan mengelompokkan kegiatan ke dalam dua kategori, yaitu tantangan dan peluang. Diskusi afiliasi Asia-Pasifik dihadiri oleh perwakilan dari CC Australia, CC Mongolia, CC Aotearoa New Zealand, CC Indonesia, CC Malaysia, CC Bangladesh, CC India, CC Japan, CC Taiwan, CC China Mainland, CC Philippines, CC Hong Kong, dan CC Korea. Mayoritas kegiatan afiliasi Asia-Pasifik hanya berada di dalam wilayah negara masing-masing dan kami belum memiliki agenda khusus sebagai kegiatan di dalam jaringan afiliasi regional ini. Adapun kendala yang dialami oleh mayoritas anggota afiliasi Asia-Pasifik adalah penerjemahan CC 4.0 ke dalam bahasa-bahasa yang berbeda di setiap negara, kurangnya dukungan dana, dan sulitnya memperoleh pekerja sukarela.

Peserta Diskusi Jaringan Afiliasi Global CC

Diskusi dilanjutkan dengan membagi peserta ke dalam 8 kelompok untuk mendiskusikan masa dengan CC, berdasarkan “tiga tingkat kerja sama kegiatan” sebagaimana diskusi pertama. Nita berpartisipasi dalam diskusi kelompok 4 dengan perwakilan CC Guatemala, CC Spanyol, CC Lebanon, CC Taiwan, dan CC Portugal. Berdasarkan diskusi tersebut, kelompok 4 menghasilkan 5 saran untuk CC: agar CC HQ menjadi “jembatan” dengan pemerintah untuk penerapan Sumber Pendidikan Terbuka pada jaringan afiliasi global, pembuatan kelompok bahasa tetap untuk penerjemahan lisensi CC (baik CC 4.0 maupun versi selanjutnya), perbaikan komunikasi penentuan proyek CC HQ dengan jaringan afiliasi global, pembuatan CC Awards untuk menghargai inisiator dan pelaksana proyek terkait CC, dan pembuatan “daftar ahli” untuk setiap jaringan afiliasi regional untuk membantu afiliasi yang kesulitan dalam menjalankan proyek CC di negaranya.

Acara tanggal 14 Oktober 2015 ditutup dengan ramah tamah (welcome reception) di restoran hotel IBIS Style Ambassador Myeongdong.



15 Oktober 2015

Pada tanggal 15 Oktober 2015, yaitu hari pertama dari rangkaian Konferensi ini, peserta diarahkan ke National Museum of Korea untuk melaksanakan daftar ulang. Peserta yang membawa materi publikasi serta teh dan kudapan dari negara masing-masing juga diberi kesempatan untuk mengumpulkannya kepada panitia agar dapat dipamerkan dan dibagikan ke peserta lain.

Materi Publikasi dari Jaringan Afiliasi Global

Konferensi ini dibuka dengan pidato dari Jeong-wook Seo, selaku Ketua CC Korea. Ia merasa kebebasan untuk memperoleh informasi secara gratis dan lengkap sudah semakin berkembang khususnya dengan era internet, terlebih lagi bila dibandingkan dengan pada saat ia masih menjadi mahasiswa. Pada saat itu, ia harus menghubungi secara langsung orang-orang di beberapa negara untuk mendapatkan informasi apapun tentang hukum sebuah negara – saat ini, banyak hal sudah tersedia di internet. Ia berharap akses gratis terhadap informasi dapat berkembang secara merata dan semakin lebih baik lagi di seluruh dunia.

Senada dengan Jeong-wook Seo, perwakilan dari sponsor acara ini yaitu Rick Falkvinge dari Private Internet Access menyatakan bahwa, “Copyright monopoly does not mean success, CC gains success by weaken monopoly of copyright” (Monopoli hak cipta tidak berarti kesuksesan, CC mendapatkan kesuksesan dengan melemahkan monopoli hak cipta). Sebagai contoh dari hal tersebut, Jay Yoon (Ketua Proyek CC Korea) kemudian berbagi beberapa proyek CC Korea yang mengubah cara pandang atas CC, seperti proyek transparansi dana pemerintah.

Foto bersama Prof Lawrence Lessig

Yochai Benkler dari Harvard Law School kemudian menyampaikan presentasi tentang bagaimana CC mengubah dunia dengan lisensi hak cipta. Pembukaan Konferensi hari pertama ditutup dengan pidato singkat dari Prof Lawrence Lessig sebagai salah satu pendiri CC. Prof Lessig yang sedang berada di tengah kesibukan kampanye di Amerika Serikat berbagi cerita tentang bagaimana ia mendirikan CC untuk memenuhi janji kepada seorang teman untuk membuat organisasi bagi "the commons."

Setelah makan siang, Reda Zine dari CC Italy mengisi sesi tentang “CC in Art and Film” dengan menjelaskan proyek filmnya "The Long Way to the Hall of Fame". Reda merasa hak cipta seringkali menjadi kendala seseorang untuk membuat dan/atau mengembangkan ciptaannya, bahkan untuk menyebarluaskan kembali berbagai ciptaannya. Setelah presentasi dari Reza, Andrés Guadamuz dari University of Sussex dan CC UK (sebelumnya ia bekerja dengan CC Costa Rica), berbagi pengalaman untuk CC GLAM (Gallery, Library, Archive, Museum). Andrés berpendapat bahwa penyebarluasan informasi pada GLAM akan efektif dengan "melepaskan hak cipta." Sayangnya tidak semua undang-undang hak cipta di seluruh dunia mengizinkan hal ini, contohnya Indonesia yang tidak mengakui “pelepasan ciptaan ke dalam domain publik”. Andrés merekomendasikan CC0 sebagai "jalan tengah" untuk ciptaan berhak cipta dan menandai ciptaan pada domain publik dengan "Public Domain Mark", karena kedua hal tersebut berjalan cukup efektif di Eropa dan beberapa negara lain seperti Australia dan New Zealand.

Konferensi hari pertama ditutup dengan presentasi Lila Tetrikov tentang perkembangan Wikipedia dan bagaimana lisensi CC membantu perkembangan tersebut, dilanjutkan dengan foto bersama seluruh peserta. Setelah sesi foto bersama, jaringan afiliasi global CC dan seluruh pembicara pada Konferensi diundang untuk makan malam di Art Center NABI.

16 Oktober 2015

Poster dan Gambar Dinding di Lokasi Konferensi

Hari kedua dari Konferensi ini dibuka oleh Paul Brest dan Ryan Merkley, mewakili CC HQ. Ryan menyampaikan bahwa CC secara organisasi telah berkembang dengan pesat. Secara keanggotaan, semakin banyak afiliasi yang bergabung ke dalam jaringan afiliasi global CC. Selain itu, CC juga mendapatkan sorotan publik yang semakin besar sehingga semakin banyak donor pribadi yang ingin ikut serta mendukung kegiatan CC. Sebagai contoh, kampanye Kickstarter tentang (kasi link di sini dan penjelasan proyeknya) berhasil mendapatkan (berapa USD dari targetnya) dan menjaring (berapa banyak donor baru). Kesuksesan dalam penggalangan dana tersebut membuat Ryan semakin optimis bahwa kegiatan CC akan dapat berkembang pesat dan menjaring semakin banyak pihak dari seluruh dunia untuk mewujudkan budaya bebas dan mendukung upaya untuk menyebarluaskan pengetahuan tanpa batas. Setelah sesi pertama selesai, acara dilanjutkan dengan tiga sesi paralel, yaitu mengenai “Sharing City”, penggunaan prinsip fair use dalam bisnis, serta penerapan dan pengembangan sumber pendidikan terbuka.

Pada sesi fair use dalam bisnis, teman-teman dari Korea Selatan berbagi mengenai pelaksanaan bisnis situs Pikicast. Situs tersebut menyediakan gambar-gambar yang diambil dari potongan film atau foto-foto yang dapat ditemukan di internet, yang kemudian diberikan tulisan atau dibuat dalam bentuk *.GIF (disebut juga sebagai meme). Situs tersebut tidak mengambil keuntungan komersial dari penggunaan gambar-gambar yang disediakan di dalamnya, dan pengguna situs dapat terus menambahkan gambar-gambar ke dalam katalog mereka. Sayangnya, terdapat kendala hak cipta di dalamnya. Film yang masih dilindungi hak cipta tidak dapat digunakan dengan bebas dan cuplikan dari film tersebut tentunya tidak dapat diambil dan digubah tanpa izin pemegang hak ciptanya. Oleh karena itu, pembuat dan pengelola situs ini ingin berdiskusi dan melihat apakah kegiatan yang mereka lakukan di dalam situs tersebut dapat dikategorikan sebagai fair use. Pertanyaan tersebut muncul karena hukum hak cipta di Korea Selatan tidak secara jelas menyatakan hal-hal apa saja yang termasuk di dalam fair use.

Menurut hukum di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, pembuatan parodi bukanlah suatu pelanggaran hak cipta. Parodi dianggap sebagai fair use, sebuah pengecualian atas perlindungan hak cipta, di mana pembuatan parodi tanpa izin terlebih dahulu tidak akan dianggap sebagai pelanggaran hak cipta dari ciptaan asli. (cek batasan fair use untuk parodi di AS). Michael Caroll dari University of Washington merasa apa yang dilakukan oleh penyedia konten (situs apa namanya) nampak sebagai pelanggaran hak cipta karena pada akhirnya situs tersebut menampilkan iklan-iklan yang membayar kepada pengelola situs, dan pihak yang beriklan menjadi tertarik untuk beriklan karena banyaknya pengakses situs yang ingin melihat beberapa potongan gambar dari film-film berhak cipta. Solusi dari ancaman anggapan pelanggaran hak cipta adalah untuk menyediakan gambar-gambar gubahan dari ciptaan berlisensi CC.

Pada sesi tentang sumber pendidikan terbuka atau open educational resources, Cable Green dari CC HQ menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan penerapan sistem tersebut. Menurut Cable, perlu ada pelatihan tersendiri untuk guru-guru, khususnya untuk calon guru yang masih berkuliah di bidang pengajaran (teacher’s college). Selain diperlukannya sosialisasi agar para guru secara aktif menggunakan sumber pendidikan terbuka dan membiasakan para siswa dan mahasiswa untuk menggunakannya, para guru juga perlu secara aktif diimbau untuk membuat dan mengembangkan sumber pendidikan terbuka. Hanya melalui proses yang demikian, kita dapat memastikan bahwa sumber pendidikan terbuka akan terus terbarui dan bertambah jumlahnya, mengakibatkan penyebarluasan pengetahuan tanpa batas. Cable sendiri secara personal ingin membantu afiliasi yang memerlukan bantuannya dalam melobi pemerintah, khususnya kementerian pendidikan, untuk membuka akses untuk sumber pendidikan seluas-luasnya.

Setelah makan siang, Parker Higgins dan Maira Sutton dari Electronic Frontier Foundation membahas mengenai Trans-Pacific Partnership (TPP). Sesi ini membahas bagaimana TPP akan berdampak kurang baik untuk akses terhadap ciptaan berhak cipta. Salah satu kendala yang dapat muncul dari masuknya beberapa negara ke dalam TPP adalah bertambahnya jangka waktu perlindungan hak cipta, salah satunya adalah hak cipta atas buku menjadi seumur hidup penulisnya ditambah 70 tahun setelah ia meninggal dunia. Hal tersebut berarti semakin lama pula bagi sebuah ciptaan untuk dapat diakses dan digunakan secara bebas oleh publik, apabila penciptanya tidak ingin melisensikan buku tersebut dengan lisensi CC. Sebagai lanjutan dari diskusi ini, CC HQ membuat pernyataan untuk menolak TPP.[1]

Hari kedua ditutup dengan diskusi singkat mengenai Open Internet dan bagaimana lisensi CC adalah jembatan terbaik untuk memungkinkan setiap orang mendapatkan informasi seluas-luasnya dengan tetap paling tidak melindungi hak moral dari pembuat konten (penggunaan CC BY). Diskusi ini diisi oleh Yochai Benkler dan Kil-nam Chon, dimoderatori oleh Renata Avila dari CC HQ. Setelah diskusi selesai, seluruh peserta dan panitia berkumpul untuk CC Party di SAI.

17 Oktober 2015

Hari ketiga dibuka oleh Michael Carroll dari American University, salah satu perwakilan CC HQ. Dalam pidato singkatnya, ia menyampaikan harapan agar hak cipta tidak terus menerus dibatasi dan menghambat akses setiap orang terhadap kesenian dan pengetahuan, khususnya terkait dengan persetujuan beberapa negara untuk bergabung ke dalam TPP. Setelah pengantar dari Michael, Julia Reda dari partai Pirates of Europe bicara tentang perkembangan hak cipta di Eropa. Salah satu kemajuan dari kerja sama perlindungan hak cipta antara anggota Uni Eropa adalah persetujuan perlindungan freedom of panorama melalui hukum nasional masing-masing negara. Walau kerja sama regional untuk perlindungan hak cipta sudah berkembang positif, Julia merasa Konvensi Bern perlu untuk diperbarui, menyesuaikan dengan perkembangan hak cipta khususnya di era digital.

Pada sesi Open Design, diskusi diarahkan untuk membahas keberlakuan lisensi CC untuk desain ciptaan 3 dimensi (3D), di mana di dalamnya mungkin terkandung unsur fungsional yang merupakan ranah paten atau desain industri (dua rezim kekayaan intelektual yang berbeda dari hak cipta). Hal tersebut merupakan kendala dari penggunaan lisensi CC, karena tidak ada pedoman yang jelas untuk membedakan unsur artistik dan unsur fungsional dari ciptaan 3D. Masalah selanjutnya adalah pemberian dan penempatan atribusi pada ciptaan 3D. Lisensi CC memiliki sebuah syarat yang tidak dapat dihapuskan yaitu BY (atribusi), namun pemberian dan penempatan atribusi yang tepat untuk ciptaan 3D lebih sulit untuk dipenuhi dibandingkan dengan pada foto atau artikel.

Pada waktu makan siang, jaringan afiliasi Asia-Pasifik mengadakan rapat regional. Rapat dimulai dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan kegiatan yang saat ini dilakukan oleh afiliasi. Sebagaimana yang diketahui dari rapat sebelum Konferensi dimulai, jaringan afiliasi Asia-Pasifik saat ini tidak memiliki proyek bersama dan lebih fokus pada pengembangan dan penyebarluasan informasi terkait lisensi CC di masing-masing negara. Salah satu kendala yang ditemukan adalah perbedaan bahasa di masing-masing negara, sehingga tidak memungkinkan adanya “kerja sama penerjemahan lisensi CC”. Muid dari CC Malaysia sempat menyarankan agar CC China Mainland, CC Hong Kong, dan CC Taiwan dapat bekerja sama dalam menerjemahkan lisensi CC sehingga jaringan afiliasi Asia-Pasifik memiliki kerja sama antar afiliasi, namun mereka tidak ingin menimbulkan masalah yang serupa dengan tim penerjemahan lisensi CC ke bahasa Spanyol dan bahasa Arab, yaitu proses penerjemahan menjadi berkepanjangan akibat adanya perbedaan penggunaan beberapa kata di masing-masing negara.

Jaringan afiliasi kemudian membahas rencana pertemuan regional CC tahun 2016 dan bagaimana mengembangkan sistem kerja sama dan komunikasi yang lebih baik. CC Hong Kong dan CC Philippines menyarankan untuk menghidupkan kembali http://creativecommons.asia sebagai media komunikasi antara jaringan afiliasi Asia-Pasifik pada khususnya dan komunikasi dengan masyarakat Asia-Pasifik pada umumnya. Dr. Haggen So (CC Hong Kong) dan Soo-Hyun Pae (CC Korea, Koordinator Regional Asia-Pasifik) bersedia untuk bertanggung jawab untuk “proyek sistem komunikasi” tersebut. Sempat muncul keraguan mengenai akses untuk domain tersebut, namun saat ini sudah diketahui bahwa kunci domain tersebut sudah dipegang oleh tim teknis CC HQ. Walau demikian, belum ada tindakan lebih lanjut mengenai sistem komunikasi ini.

Pada sesi Right Statements, the Public Domain Mark, and Extending the CC Infrastructure, Diane Peters dari CC HQ menjelaskan bahwa saat ini CC HQ sedang membuat sebuah plug-in untuk peranti lunak seperti Microsoft Word untuk melekatkan lisensi CC pada suatu literatur. Apabila alat tersebut sudah rampung, CC HQ berharap penggunanya dapat dengan mudah melekatkan lisensi CC tanpa harus menyalin pernyataan penggunaan lisensi yang saat ini bisa didapatkan melalui pemilih lisensi CC daring. Serupa dengan pernyataan Andrés Guadamuz pada sesi GLAM di hari pertama, Diane merasa CC0 dapat menjadi solusi berupa pernyataan sepihak dari pencipta di negara-negara yang tidak secara hukum memperbolehkan pelepasan sebuah ciptaan ke dalam domain publik. CC0 menjadi kendala tersendiri di Indonesia karena: (1) pengetahuan mengenai Creative Commons dan CC0 di Indonesia belum merata, sehingga (2) terdapat kemungkinan seseorang diadukan ke kepolisian[2] atas penggunaan sebuah ciptaan, yang ternyata ditandai dengan CC0.

Pada sesi Design dan Open Hardware, diskusi dimulai dengan mengacu pada sesi sebelumnya, yaitu Open Design. CC HQ sebelumnya mempertimbangkan perkembangan dunia internet yang begitu pesat sehingga lisensi CC sangat memperhatikan dunia digital, namun kemudian merasa perlu pula untuk mengembangkan perlindungan bagi ciptaan dalam bentuk 3D. Di Amerika Serikat, serupa dengan konsep lisensi untuk hak cipta, para akademisi sedang mengembangkan konsep lisensi untuk hak paten. Apabila hal tersebut dapat terpenuhi, kesulitan awal untuk membedakan unsur fungsional dan artistik dalam 3D dapat “diabaikan” karena pencipta dapat memiliki pilihan melisensikannya dengan lisensi hak cipta atau dengan lisensi paten. Dalam hal demikian, lisensi CC memiliki kemungkinan untuk juga berkembang ke ranah paten. Namun, masalah lain muncul ketika hak cipta kemudian bersinggungan dengan desain industri yang memiliki pengaturan yang berbeda dari hak cipta dan paten. Di Eropa, perlindungan atas sebuah ciptaan di bawah hak cipta atau hak atas desain industri seringkali sulit dibedakan karena banyaknya tolok ukur yang serupa. Di beberapa negara, sebuah undang-undang mengatur hak cipta maupun desain industri sehingga tidak terlalu menjadi masalah. Di Indonesia, di mana terdapat dua undang-undang yang berbeda untuk hak cipta dan desain industri, kejelasan kategori ciptaan yang masuk ke dalam ranah hak cipta atau desain industri sangat diperlukan, karena pada akhirnya menentukan apakah sebuah desain dapat dilisensikan dengan lisensi CC atau tidak.

Acara kemudian dilanjutkan dengan telepon video via Skype dengan Jessica Coates, yang pada saat itu menjabat sebagai Koordinator Regional Asia-Pasifik dan Koordinator Jaringan Global CC, menyatakan pengunduran dirinya. Sebagai salah satu penutup Konferensi ini, Carolina Botero (Koordinator Regional CC South America) membuat ringkasan mengenai apa yang sudah CC capai selama 13 tahun ke belakang, dan apa yang harus dikembangkan lebih lanjut oleh CC. Untuk menutup Konferensi ini, Ryan Merkley selaku CEO CC meringkas isi Konferensi dan mengingatkan jaringan afiliasi global untuk ikut serta mengisi laporan CC tahun ini yang berjudul State of the Commons.

 Laporan Anitha Silvia versi .PDF

Rujukan

  1. Creative Commons, Trans-Pacific Partnership Would Harm User Rights and the Commons, (16 November 2015).
  2. Pasal 120 Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.