Creative Commons Global Summit 2017/Laporan

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Rencana Anggaran Laporan Laporan Penggunaan Dana

Logo Creative Commons Global Summit 2017

Halaman ini berisikan laporan naratif dari perwakilan Creative Commons Indonesia selama menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2017.

Didukung oleh


Partisipasi CC Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2017 dimungkinkan atas dukungan dari Creative Commons Corporation dan Wikimedia Indonesia.


Laporan Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2017

Pra Acara - 27 April 2017

Sambutan oleh John Abele di Special Joint Reception William and Flora Hewlett Foundation Annual OER Meeting. Foto oleh Sebastiaan ter Burg/CC BY.

Pada hari kamis (27/4/2017), satu hari sebelum dilangsungkannya Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2017, peserta konferensi diundang untuk mengikuti resepsi bersama yang diadakan oleh Creative Commons dan William and Flora Hewlett Foundation pada Annual OER Meeting (Pertemuan Tahunan Sumber Pendidikan Terbuka) yang diadakan di Kingbridge Centre, Ontatio, Kanada. Pada pertemuan ini peserta-peserta konferensi dipertemukan dengan para peserta Annual OER Meeting yang juga berasal dari seluruh dunia untuk membahas strategi dan pengalaman mereka terkait aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan OER. Acara ini diisi dengan pidato John Abele, pendiri lembaga Boston Scientific, yang salah satu isinya adalah cerita pengalaman pertama William and Flora Hewlett Foundation bekerja sama dengan Creative Commons dalam aktivitas yang berkaitan dengan pengadaan OER. Dalam kesempatan ini Ryan Merkley, CEO Creative Commons, juga mengungkapkan bahwa bekerja sama dengan William and Flora Hewlett Foundation begitu berbeda dengan bentuk-bentuk kerja sama Creative Commons dengan yayasan lainnya. "Mereka benar-benar berperan menjadi donor yang baik, dengan tidak melepaskan kami begitu saja dalam setiap pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan di kegiatan yang mereka danai. Mereka terus mendampingi kami sampai akhir kegiatan tersebut.

Seusai sesi bincang-bincang, peserta kemudian dikumpulkan di satu ruangan untuk saling berinteraksi secara bebas sambil menikmati hidangan yang disiapkan oleh Kingbridge Centre.




28 April 2017

Tanggal 28 April 2017 merupakan hari pertama dari rangkaian Konferensi ini. Creative Commons menggunakan ruangan-ruangan yang ada di lantai 2 dan lantai 3 Hotel Delta untuk mengadakan setiap sesi yang disajikan di Konferensi ini. Sebelum melakukan daftar ulang dan mengikuti sesi pembukaan, peserta-peserta yang merupakan 'newbie summiters' dikumpulkan terlebih dahulu di lantai dua untuk mengikuti sarapan bersama dan berkenalan dengan para koordinator di acara ini. Acara yang dipandu oleh Simeon Oriko (Koordinator Jaringan Global Creative Commons) ini mengajak 'newbie summiters' untuk membuat ilustrasi wajah mereka dan menuliskan 3 harapan yang ingin mereka capai dengan mengikuti Konferensi ini. Setelah itu peserta diinstruksikan untuk berpindah tempat duduk untuk menambahkan jaringan pertemanan dan menghilangkan kecanggungan mereka selama mengikuti Konferensi ini.


Sarapan Pagi Bersama Newbie Summiters.jpg Sesi Rolling Desk Newbie Summiters.jpg Ilustrasi Diri Newbie Summiters Dikumpulkan oleh Panitia Konferensi.jpg
Simeon memandu newbie summiters (kiri). Sesi desk rolling untuk newbie summiters (tengah). Ilustrasi diri newbie summiters yang dikumpulkan oleh panitia Konferensi (kanan). Foto oleh Sebastiaan ter Burg/CC BY.

Seluruh peserta kemudaian diarahkan ke SoCo Ballroom untuk mengikuti upacara pembukaan Creative Commons Global Summit 2017. Acara dibuka dengan upacara spiritual oleh Whabagoon Walker, tetua dari suku Ojibwe (suku asli pedalaman Amerika Utara) untuk melancarkan penyelenggaraan Konferensi selama tiga hari kedepan. Kemudian acara dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Wakil Perdana Menteri Ontario, Deb Matthews, yang menyampaikan rencana-rencana keterbukaan Ontario. Kata sambutan selanjutnya disampaikan oleh David Lametti (Sekretaris Parlemen Kementrian Inovasi: Pembangunan Ekonomi dan Ilmu Pengetahuan) yang menyampaikan dukungan terhadap semangat keterbukaan sebagai jiwa dari rezim hak cipta di Kanada.

Kata sambutan dari CEO Creative Commons, Ryan Merkley. Foto oleh Sebastiaan ter Burg/CC BY.

Bagian berikutnya dari acara pembukaan adalah kata sambutan dari CEO Creative Commons, Ryan Merkley. Dalam kesempatan ini Ryan menyampaikan tiga hal sebagai petunjuk arah bagi para individu maupun komunitas yang akan menjadi bagian dari Konferensi selama tiga hari kedepan. Ketiga hal ini adalah Everything is political, no small fights, dan collective acts. Ia menyampaikan bahwa tiga hal ini lah yang menjadi inti dari gerakan keterbukaan Creative Commons. Sebagai penutup kata sambutannya, Ryan memberikan instruksi kepada para peserta Konferensi untuk melihat ke bawah kursi mereka masing-masing dan mengambil satu kopi buku mewarnai berjudul Uncommon Women yang diproduksi oleh Kelsey Merkley dari Creative Commons Canada.

Peluncuran Laporan Tahunan Creative Commons - State of The Commons 2016 oleh Jane Park. Foto oleh Sebastiaan ter Burg/CC BY.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan peluncuran situs web laporan tahunan Creative Commons oleh Jane Park. Laporan ini merupakan laporan tahunan terbesar yang pernah dikerjakan oleh Creative Commons. Selain merangkum 12 kisah inspiratif tentang keterbukaan dari seluruh dunia, laporan ini juga menyediakan data-data dari kanal konten-kanal konten yang menyediakan konten dan pilihan lisensi CC. Laporan tahunan ini tersedia dalam 12 bahasa yang diterjemahkan secara sukarela oleh berbagai komunitas dari setiap negara. Upacara pembukaan ditutup dengan pameran proyek #NEWPALMYRA yang dikerjakan oleh Creatvie Commons bersama re:3D. Proyek ini berupaya mewujudkan cita-cita salah satu pekerja proyek CC Syria yang hingga saat ini belum diketahui keberadaannya sejak tahun 2015 lalu, Bassel Khartabil. Bassel berkeinginan untuk membuat cetakan model 3 Dimensi Tetrapylon, salah satu dari bagian bangunan bersejarah Palmyra, yang telah dihancurkan oleh ISIS.


Pameran Model 3 Dimensi Tetrapylon dari New Palmyra Project oleh Creative Commons dan re:3D. Foto oleh Sebastiaan ter burg/CC BY.

Strategi Jaringan Global Creative Commons (Creative Commosn Global Network - CCGN)

Setelah sesi istriahat selama 30 menit, acara dilanjutkan dengan presentasi Strategi Jaringan Global Creative Commons (Creative Commosn Global Network - CCGN). Sesi ini disampaikan secara bergantian oleh beberapa para anggota perumus CCGN yaitu Alek Tarkowski, Evelin Heidel, Claudio Ruiz, dan Ryan Merkley. Dalam sesi ini disampaikan bahwa CCGN memiliki tiga hal yang menjadi pondasi utama yakni Country Teams, Platform, dan Governance.

  • Country Teams merupakan sistem jaringan global baru yang akan menggantikan sistem afiliasi. Tim ini nantinya akan terdiri dari:
    • Network Members (Individual)
    • Network Partners (Organisasi)
    • Contributors.

Dengan adanya sistem ini diharapkan CC HQ dapat secara langsung memberikan bantuan kepada komunitas-komunitas yang aktif dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan Creative Commons. Komunitas yang menjadi penerima bantuan dari CC HQ nantinya dipilih dari kesesuaian aktivitasnya dengan platform-platform yang tengah dirumuskan oleh para platform coordinator. Hasil perumusan Platform ini nantinya akan dibagikan ke komunitas-komunitas Creative Commons untuk kemudian dibahas bersama supaya dapat menjadi suatu panduan kegiatan yang dapat dilakukan oleh seluruh komunitas dari setiap negara. Selain itu setiap kegiatan yang berada di bawah bendera CCGN akan dikawal oleh serangkaian peraturan (Governance) yang ditetapkan oleh Global Network Council. Kemudian, CC HQ menetapkan kalender kegiatan CCGN yang dimulai dari tiga hari Konferensi untuk memetakan platform, dan rencana kegiatan. Lalu hasil dari setiap pembicaraan di dalam konferensi akan dikembangkan dari bulan Juli hingga April 2018, yang akan diselingi dengan pertemuan Country Teams pada bulan Desember 2017 atau Januari 2018.

Seusai makan siang, peserta mulai tersebar untuk mengikuti sesi yang dikehendaki. Perwakilan CCID mengikuti sesi berjudul Working Programs for the New CC Global Network: How Can We Work Together?. Sesi ini dipimpin oleh Carolina Botero, Claudia Cristiani, Isla Haddow-Flood, Paul Keller, dan Alek Tarkowski. Di dalam sesi ini peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diinstruksikan untuk merumuskan poin-poin peraturan yang nantinya menjadi syarat pengusulan Platform CCGN. Kelompok yang diikuti oleh perwakilan CCID merumuskan bahwa Platform harus memiliki nilai berkelanjutan dan tidak bersifat eksklusif (hanya dapat dilakukan di satu area).

Setelah itu perwakilan CCID mengikuti sesi CC Search: Usability, Features, and Partners yang dipandu oleh Ryan Merkley, Liza Daly, Rob Myers, & Maarten Zeinstra. Di dalam sesi ini Creative Commons yang diwakili Ryan Merkley mempresentasikan proyek mesin pencari terbaru CC yang menyediakan fitu pencarian yang memungkinkan pencarian konten digital koleksi museum-museum seperti MET dan Europeana. Ryan menekankan bahwa proyek ini dilakukan untuk memperbaiki metadata berkas-berkas berlisensi CC yang ada di dalam jaringan. Sesi selanjutnya yang diikuti oleh perwakilan CCID adalah surprise talk, yaitu presentasi proses pengerjaan #NEWPALMYRA oleh Creative Commons dan re:3D yang merupakan sesi penutup Konferensi hari pertama.

29 April 2017

Hari kedua konferensi dimulai dengan sesi-sesi terpisah yang diadakan di setiap ruangan lantai 2 dan 3 Hotel Delta Toronto. Sesi pertama yang diikuti oleh perwakilan CCID adalah An Explosion of Languages and Versions of Early Literacy Content yang difasilitasi oleh Tessa Welch (African Storybook Initiative) dan Purvi Shah (Pratham Books). Tessa dan Purvi memberikan 3 hal yang menjadi hal pokok dalam penyediaan sumber pendidikan terbuka (OER) dengan muatan lokal. Tiga hal tersebut adalah Target, Effectivity (efektifitas), dan Parnters (rekanan). Target artinya adalah kita harus memastikan bahwa materi pendidikan ini dapat digunakan dan memang disediakan untuk semua orang. Selain itu sebaiknya konten tersedia dalam bahasa yang diakrabi oleh pembaca, misalnya bahasa daerah yang sehari-hari digunakan oleh pembaca. Dengan begitu konten-konten tersebut akan menjadi sepenuhnya terbuka, yaitu konten-konten yang berbicara tentang ketertarikan serta pengalaman sehari-hari para pembacanya. Setelah itu baru kita memetakan efektifitas penyebaran konten, penyebaran harus disesuaikan dengan kondisi suatu negara, untuk kemudian dapat diputuskan konten akan disediakan secara digital atau fisik. Setelah konten sukses dibuat dan diumumkan, kita kemudian dapat mulai mencari rekanan untuk membantu persebaran konten, misalnya para peneliti, penerbit konten pembelajaran daring, perpustakaan, atau bahkan lembaga pendidikan pemerintah setingkat kementrian.

Peserta kembali dikumpulkan untuk mendengarkan pidato dari Ashe Dryden (AlterConf dan Fund Club). Dalam sesi bertajuk "Time Traveling: A Primer" ini Ashe mengajak peserta untuk mendiskusikan mengapa perasaan belas kasih dalam berbagi lebih penting daripada hanya melulu berfokus pada efisiensi. Dryden juga mengungkapkan bahwa niat baik merupakan hal yang penting dalam membangun masa depan dunia teknologi yang damai. Dalam sesi pidatonya Dryden memberikan penekanan terkait pentingnya keberlanjutan dan inklusivitas di dalam suatu komunitas dengan cara yang menghibur dan begitu ringan.[1]

Sesi Advancing Open Education Through Open Government. Foto oleh Sebastiaan ter turg/CC BY.

Setelah itu peserta kembali tersebar untuk mengikuti sesi-sesi yang di ruangan yang berbeda-beda. Perwakilan CCID mengikuti sesi Advancing Open Education Through Open Government yang difasilitasi oleh Nicole Allen. Dalam kelas ini Nicole menunjukan peta negara-negara yang telah bergabung dalam perjanjian multilateral berjudul Open Government Initiative. Dalam kesempatan ini perwakilan CCID menyampaikan bahwa di Indonesia hal-hal ini telah direalisasikan melalui situs-situs seperti data.go.id, data.go.jakarta.id, dan pertemuan CCID dengan PDII-LIPI untuk membahas repositori dan depositori terbuka untuk jurnal-jurnal produk penelitian yang dibiayai LIPI. Sesi ini terus berlanjut hingga jam makan siang. Pada jam makan siang peserta disuguhi dengan cuplikan film terbaru Robin McKenna berjudul "The Gift" yang diikuti dengan sesi tanya jawab hingga selesai jam makan siang.

Acara dilanjutkan dengan pidato dari editor Vice Motherboard, Sarah Jeong di Soco Ballroom. Pada pidatonya, Sarah memaparkan alur pemanfaatan media sosial oleh lembaga-lembaga pemberitaan sebagai tempat menyalurkan konten-konten pemancing klik saja. Ia mampu membuktikan bahwa setiap kabar yang kita temukan di internet, bukan merupakan hal yang kita cari secara aktif, namun kabar tersebut datang dengan sendirinya, karena situs-situs media sosial yang kita gunakan telah mengetahui kebiasaan kita serta apa yang kita sukai, untuk kemudian memberikan kita kabar-kabar yang ingin kita lihat saja. Sarah menyimpulkan bahwa alat seperti Creative Commons dapat membantu kita mencari jalan keluar dari monopoli yang dilakukan oleh lembaga pemberitaan serta kanal-kanal diseminasi beritanya. "Creative Commons bukan sekedar hobi, Creative Commons adalah kewajiban moral", tutupya.


Sesi CC Certificates oleh Paul Stacey, Kelsey Merkley, Alan Levine, & Kamil Śliwowski. Foto oleh Sviatlana Yermakovich/CC BY.

Sesi selanjutnya diikuti oleh perwakilan CCID adalah Creative Commons Certificates - Spread The Cred oleh Paul Stacey, Kelsey Merkley, Alan Levine, & Kamil Śliwowski. Pada permulaan sesi, Paul langsung memberikan kesempatan kepada peserta kelas untuk menanyakan hal yang ingin mereka ketahui, dan bermaksud untuk langsung menjawabnya sebelum presentasi dimulai. Dalam kesempatan tersebut perwakilan CCID langsung menanyakan bagaimana sertifikat tersebut dapat diadaptasi oleh afiliasi di tiap negara. Paul menyatakan bahwa untuk saat ini sertifikat CC yang terdiri dari 4 jenis sertifikat (Core, Lib, Govt, dan Edu) tersebut sedang dalam pengembangan dan paling tidak baru bisa selesai pada tahun depan. Paul memberikan instruksi bahwa para afiliasi boleh terus melakukan lokakarya lisensi CC di negaranya, namun setelah sertifikat ini selesai, mereka wajib untuk melakukan sertifikasi. Untuk lokakarya lisensi CC bermodel ToT, afiliasi dapat membuat versi lokal sertifikat terlebih dahulu, yang kemudian wajib dilaporkan ke pihak CC Certificates untuk diperiksa kesesuaian materinya.

Setelah waktu istirahat, perwakilan CCID masuk ke ruangan Messy Market. Pada sesi tersebut perwakilan CCID mendapat kesempatan untuk bertemu dengan pekerja proyek Freemusicarchive.org (FMA), Cheyenne dan Ross. Dalam kesempatan ini perwakilan CCID menyampaikan keinginannya untuk mengunggah koleksi musik tua Indonesianya ke situs FMA. Seusai mengikuti Messy Market, perwakilan CCID kemudian mengikuti sesi Open Democracy Project Workshop oleh Avery Au & Chris Cowperthwaite. Dalam sesi ini mereka menjelaskan bahwa Open Democracy Project adalah sebuah platform yang dapat digunakan untuk membuatkan kampanye untuk segala jenis pemilihan yang pengguna sedang ikuti. Setiap kampanye yang diunggah di platform ini menggunakan lisensi CC BY-NC. Sesi ini merupakan salah satu sesi penutup hari kedua Konferensi. Pada pukul 8 malam waktu setempat peserta diundang ke Boxcar Social Harbourfront untuk ikut serta dalam pesta dengan iringan musik dari Basic Soul Unit dan Invisible City.

30 April 2017

Hari ketiga Konferensi merupakan hari terakhir dari rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi Dunia Creative Commons 2017. Untuk mengawali hari itu, perwakilan CCID mengikuti sesi "Developing a Vision for CC's Legal Initiatives: What's critical and Exploring Paths for Collaboration Across the Network" yang difasilitasi oleh Diane Peters & Alek Tarkowski. Pada sesi ini peserta dibagi ke beberapa kelompok sesuai dengan tempat mereka saling berhadapan. Kemudian peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi dan menentukan isu terpenting yang perlu segera ditanggulangi oleh tim legal CC HQ. Salah seorang peserta dari Jerman mengeluhkan bagaimana beberapa Pencipta di Jerman menggunakan kewajiban atribusi sebagai celah untuk melakukan pemerasan melalui pelaporan pelanggaran hak cipta. Peserta tersebut menyarankan dibuatnya tambahan ketentuan terkait kewajiban atribusi agar dapat menghapus celah pemerasan yang dapat dilakukan oleh Pencipta-Pencipta tersebut.

Seusai istirahat selama 30 menit, peserta kemudian berkumpul di Soco Ballroom untuk mengikuti sesi "How to Make Good on the Creative Commons Promise?" yang dipimpin oleh Charles M. Roslof. Dalam sesi ini Charles mengungkapkan bahwa janji Creative Commons sebagai lisensi yang dapat melindungi hak cipta Pencipta atau Pemegang Hak Cipta belum berjalan secara ideal. Charles kemudian mengajak pesera untuk memberikan pendapat-pendapat terkait pemenuhan janji yang harus segera ditepati oleh Creative Commons ini. Disepakati bahwa masalah yang paling sering muncul adalah kelalaian pengguna ciptaan dalam memberikan atribusi terhadap ciptaan yang digunakan. Peserta sesi dibagi ke beberapa kelompok sesuai dengan tempat duduk mereka untuk mengumpulkan usulan berupa solusi atas permasalahan ini. Perwakilan CCID berada dalam satu kelompok dengan Aris (CC Tanzania) dan Shivi (Learning Equality). Kelompok kami menyepataki bahwa permasalahan ini sebenarnya bukan merupakan permasalahan global, karena sebagai bukan warga negara maju, hal-hal ini belum menjadi masalah genting di negara kami. Namun, pada akhri diskusi kami menyepakati kalau hal ini penting karena konsep berbagi secara daring menghadapkan Pencipta dan Ciptaannya terhadap potensi penggunaan secara global, maka penekanan terkait ketaatan terhadap kewajiban atribusi kepada pengguna tetap menjadi hal penting yang layak untuk ditegakkan.

Kemudian, peserta disuguhi dengan sajian keynote dua kalib berturut-turut sebelum makan siang. Keynote pertama disajikan dalam format talkshow dengan bintang tamu Ana Garzón Sabogal dengan panduan María Juliana. Anna adalah seorang pendidik yang aktif mengkampanyekan budaya bebas di Kolombia. Ia menceritakan tentang kontribusinya dalam memberikan advokasi keterbukaan melalui klub bercerita dan pembangunan koalisi di daerah-daerah bekas konflik Kolombia. Sesi Keynote selanjutnya diisi oleh Hillary Hartley, Kepala Bagian Komunikasi dan Informasi Pemerintah Daerah Ontario. Ia menceritakan kembali pengalamannya ketika bekerja bersama "18f", memimpin sejumlah pekerja dalam sebuah proyek pembangunan pelayanan pemerintahan berbasis internet di Amerika Serikat. Hillary mengingatkan kepada peserta bahwa ketentuan keterbukaan di pemerintahan dapat memberikan dampak sosial yang besar dalam kehidupan bermasyarakat.

Setelah makan siang, perwakilan CCID ikut serta dalam sesi yang dipimpin oleh Paul Stacey dengan judul "A Platform for Big Thinking About the Future of the Commons". Dalam sesi ini Paul memberi peserta sticky notes dalam 3 warna . Paul juga menempel tiga kertas besar di dinding kelas yang warnanya sama dengan ketiga sticky notes yang dibagikan pada peserta. Kemudian, peserta diinstruksikan untuk menuliskan ide-ide terkait pembangunan komunitas di stiky notes berwarna oranye, model bisnis terbuka di sticky notes berwarna kuning, dan pemanfaatan teknologi di sticky notes berwarna hijau. Setelah peserta tuntas menuliskan ide-idenya, mereka kemudian dikumpulkan di depan kelas untuk saling menukar kertas-kertas tersebut, mendiskusikannya, dan memberikan skor pada ide-ide yang ada di kertas. Kemudian, Paul memberikan perintah pada peserta yang memegang kertas ide dengan skor tertinggi untuk ditempelkan di tiga kertas besar sesuai dengan warnannya. Paling tidak ada tiga ide yang ditempelkan di masing-masing kertas besar. Peserta kemudian diinstruksikan untuk memberikan stiker berwarna merah pada ide yang tidak dapat dilaksanakan sekarang, stiker warna hijau untuk ide yang paling mungkin dilakukan sekarang, dan stiker kuning untuk yang dilakukan setelahnya. Selain untuk menarik ide-ide dari para peserta untuk disampaikan ke CCGN, Paul juga ingin memperkenalkan model pencarian ide bernama Game of Big Thinking ini kepada peserta agar dapat dimanfaatkan juga dalam forum-forum jajak pendapat yang mereka lakukan di negara mereka masing-masing.

Setelah diselingi dengan istirahat selama tiga puluh menit, seluruh peserta kembali dikumpulkan di Soco Ballroom untuk mengikuti upacara penutupan. Pidato penutupan Konferensi ini dipimpin oleh Ryan Merkley. Sebelum Konferensi resmi ditutup, Ryan memberikan kejutan berupa satu buket bunga kepada Allison yang telah mengabdikan waktunay selama tiga hari sebagai koordinator Konferensi kali ini. Selain itu, Ryan juga memberikan kesempatan kepada Communia untuk mengingatkan para peserta lagi untuk mendukung usaha mereka menghadirkan rezim hak cipta yang ramah terhadap pendidikan di Eropa. Ryan menutup Konferensi dengan memberikan instruksi secara berurutan kepada panitia Konferensi, pekerja CC HQ, afiliasi, dan semua peserta untuk berdiri dan memberikan tepuk tangan atas kontribusi yang mereka berikan hingga saat ini.

Rujukan