Digitalisasi Konten 2017/Laporan

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


Berikut adalah laporan proyek Digitalisasi Konten 2017 mengenai:

  • Hasil yang sudah dicapai
  • Hasil yang belum tercapai
  • Tantangan dan hambatan
  • Pembelajaran selama proyek berjalan

Hasil tercapai

Dalam rencana pencapaian yang dibuat saat proyek dimulai, hasil yang akan dicapai dalam proyek ini adalah:

  • Digitalisasi surat berbahasa Belanda dari Museum Dewantara Kirti Griya sejumlah 600 halaman
Hingga proyek berakhir, Wikimedia Indonesia telah mendigitalisasikan 981 halaman (atau lebih dari 360 nomor katalog) dalam bentuk PDF dan tersedia di Wikimedia Commons dalam lisensi CC BY-SA 3.0 Tanpa Adaptasi.[1]
  • Digitalisasi majalah berbahasa Jawa dari Yayasan Sastra Lestari sebanyak 100 edisi
Hingga proyek berakhir, Wikimedia Indonesia telah mendigitalisasikan lebih dari 100 edisi Majalah Kajawen dalam bentuk JPG dan PDF dan tersedia di Wikimedia Commons sebanyak 100 edisi.[2]
  • Transkripsi surat berbahasa Belanda oleh sukarelawan dari Belanda
Hingga 12 Maret 2018, seorang sukarelawan asal Belanda, Wilma Veerburg, membantu transkripsi surat-surat tersebut hingga 84 nomor katalog di Wikisource bahasa Belanda.[3]
  • Penerjemahan surat-surat berbahasa Belanda
Penerjemahan surat-surat ini dilakukan oleh Revo Arka Giri Soekatno dan telah menyelesaikan 250 lembar.[4]
  • Pelatihan Wikipedia dan Wikisource untuk memperkenalkan lisensi dan konten bebas
Selama proyek berlangsung, terselenggara satu kali acara syukuran dan pengenalan lisensi bebas di Yogyakarta dan dua kali pelatihan Wikisource, di Yogyakarta dan Jakarta. Pelatihan Wikipedia tidak dilaksanakan karena belum ada bahan materi yang cocok untuk digunakan dalam pelatihan Wikipedia.

Hasil tak tercapai

  • Pelatihan Wikipedia
Selama proyek berlangsung, hanya terlaksana pelatihan di Wikisource menimbang bahan yang tersedia lebih sesuai dengan proyek Wikisource.
  • Penggunakan hasil digitalisasi sebagai referensi dalam 100 artikel Wikipedia
Tidak terlaksana karena materi hasil digitalisasi diterjemahkan terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia guna memudahkan komunitas yang menggunakannya.
  • Tiga pelatihan dan dihadiri 10 peserta dalam tiap pelatihan
Hanya dua kali pelatihan terlaksana, di Yogyakarta dan Jakarta.

Tantangan dan hambatan

Kerja sama

Selama proyek berjalan, tantangan yang dihadapi adalah mensosialisasikan tujuan dan manfaat yang diperoleh dari proyek ini kepada instansi-instansi yang dituju. Lisensi Creative Commons yang memberikan keleluasaan bagi pemegang hak cipta harus disampaikan dengan benar dan mudah dipahami agar tidak terjadi kesalahtafsiran dan memunculkan anggapan bahwa lisensi ini menghapus hak cipta karya dari pemegang hak cipta aslinya.

Penyampaian yang baik dan lugas juga diperlukan agar tidak menimbulkan anggapan bahwa hasil digitalisasi yang disebarluaskan ke internet akan dapat dikomersialisasikan. Dari satu sisi, anggapan tersebut benar, namun dari sisi yang lain, tindakan komersialisasi yang demikian dapat diminimalisasikan bahwa ada bahan materi/konten yang sama yang dapat digunakan secara bebas dan gratis alih-alih menggunakan konten yang komersial.

Teknis

Hal yang cukup menghambat digitalisasi Majalah Kajawen terjadi pada periode triwulan ketiga (September s.d. Desember 2017) adalah gangguan pada mesin pemindai buku di Surakarta. Beberapa masalah yang timbul, antara lain (1) hasil dari potret kamera tidak jelas, (2) cahaya lampu yang berlebihan hingga mengakibatkan tulisan di majalah menjadi tidak terlihat dalam foto, dan (3) metadata Majalah Kajawen tidak semuanya tersedia di situs sastra.org dan sesuai dengan jumlah koleksi sehingga membutuhkan ahli bahasa Jawa untuk membaca aksara hanacaraka dari majalah.

Sumber daya manusia

Hal yang perlu mendapat perhatian adalah diperlukannya satu orang staf paruh waktu untuk mengerjakan digitalisasi, masing-masing di Yogyakarta dan Surakarta. Pada triwulan kedua (Juni s.d. September 2017), keberadaan satu orang staf paruh waktu di Yogyakarta dan satu orang staf paruh waktu di Surakarta cukup membuat aktivitas digitalisasi di kedua daerah berjalan lancar. Pada triwulan ketiga dan keempat, aktivitas di dua kota itu menjadi dilaksanakan oleh satu orang staf yang berdomisili di Yogyakarta. Hal ini cukup menghambat aktivitas karena ia harus membagi waktu untuk melakukan perjalanan ke Surakarta, ditambah lagi harus membagi waktu untuk mengerjakan tugas-tugas perkuliahan.

Pembelajaran selama proyek berjalan

Beberapa hal yang menjadi pembelajaran untuk melakukan proyek serupa di masa mendatang adalah pendekatan kerja sama harus dilakukan sedini mungkin sebelum aktivitas dimulai. Proses pendekatan kerja sama juga memerlukan seorang ahli yang memahami penggunaan lisensi bebas dan dapat memberikan gambaran manfaat yang diperoleh dengan menggunakan lisensi bebas tersebut.

Laporan triwulan

  • Laporan triwulan pertama (13 Maret – 12 Juni 2017):
Digitalisasi Konten 2017/Laporan/Triwulan I
  • Laporan triwulan kedua (13 Juni – 12 September 2017):
Digitalisasi Konten 2017/Laporan/Triwulan II
  • Laporan triwulan ketiga (13 September – 12 Desember 2017):
Digitalisasi Konten 2017/Laporan/Triwulan III
  • Laporan triwulan keempat (13 Desember – 12 Maret 2018):
Digitalisasi Konten 2017/Laporan/Triwulan IV

Catatan kaki

  1. Koleksi dapat diakses di Category:Letters from Tamansiswa Dewantara Kirti Griya Museum library
  2. Koleksi dapat diakses di Category:Majalah Kajawen
  3. Daftar transkripsi dapat diakses di Wikisource:Project Brieven uit de bibliotheek van het Taman Siswa Dewantara Kirti Griya Museum
  4. Hasil terjemahan dapat diakses di masing-masing halaman pembicaraan surat-surat berbahasa Belanda dalam Category:Letters from Tamansiswa Dewantara Kirti Griya Museum library