Diskusi Terbatas Lisensi Creative Commons untuk Indonesia/Hasil

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
EnglishBahasa Indonesia



Pelaksanaan Diskusi

Diskusi Lisensi Creative Commons untuk Indonesia telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 Juli 2012 pada pukul 09.00-15.00. Susunan acara yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

Sabtu, 7 Juli 2012
Waktu Acara
09.00 - 09.30 Registrasi
09.30 - 10.00 Pembukaan acara oleh Idaman Andarmosoko
10.00 - 11.00 “Lisensi Creative Commons dalam Konteks Hak Cipta di Indonesia”
dan “Pembahasan Hasil Terjemahan Kode Legal Lisensi Creative Commons”
oleh Ivan Lanin dan Ari Juliano Gema
11.00 - 12.30 Sesi tanya jawab
12.30 - 13.30 Istirahat dan makan siang
13.30 - 14.30 “Lisensi Creative Commons dalam Konteks Hak Cipta di Indonesia”
oleh Agung Damarsasongko (Perwakilan Ditjen HKI), Ivan Lanin, dan Ari Juliano Gema
14.30 – 15.00 Pemutaran film pendek, penutupan diskusi,
dan pengumuman diskusi CCID bulan Oktober 2012


Hasil Diskusi

Pada awal acara yang dipandu oleh Idaman Andarmosoko, Ari Juliano Gema dan Ivan Lanin selaku pimpinan proyek Creative Commons Indonesia menjelaskan perjalanan proyek Creative Commons di Indonesia. Posisi lisensi Creative Commons dalam hak cipta adalah lisensi Creative Commons melindungi hak cipta, yang mana merupakan yakni hak eksklusif bagi pencipta atau yang diberi hak oleh pencipta untuk menggunakan, mengkomersialkan dan memperbanyak karya. Tindak pidana di bidang hak cipta di Indonesia termasuk dalam delik biasa, sehingga memungkinkan aparat penegak hukum memulai penyelidikan adanya dugaan pelanggaran hak cipta tanpa laporan dari sang pencipta. Creative Commons mencoba memberi jalan tengah terhadap permasalahan hak cipta dengan menganut sistem status for your work atau memberi status terhadap ciptaan. Lisensi Creative Commons memiliki empat spektrum pilihan yaitu atribusi, nonkomersial, tanpa turunan, dan berbagi serupa. Dengan lisensi Creative Commons, hak cipta tetap dapat dipertahankan, namun memperbolehkan pihak lain untuk memperbanyak dan mendistribusikan ciptaan kita berdasarkan ketentuan dari lisensi yang digunakan. Saat ini, sudah ada 72 negara yang terafiliasi dengan Creative Commons. Hal ini mempermudah open access terhadap ilmu pengetahuan. Beberapa situs yang telah menggunakan lisensi Creative Commons ini seperti Flickr, Wikipedia (melindungi lebih dari 185.000 artikel berbahasa Indonesia), Youtube (lisensi atribusi, 10.000 video dengan lisensi ini yang berguna untuk penelitian), dan MIT Open Course Ware (situs berbagi materi kuliah). Di Indonesia, beberapa seniman yang telah menggunakan lisensi Creative Commons ini antara lain rapper Pandji dalam albumnya “Merdesa” dan Bottlesmoker, kelompok musik elektronik dari Indonesia.


Dalam pembahasan hasil terjemahan kode legal lisensi Creative Commons dalam Bahasa Indonesia yang dipandu oleh Anggara, Ari Juliano Gema menyatakan bahwa pada dasarnya ketentuan yang ada di dalam lisensi Creative Commons dapat dirujuk kembali ke dalam Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia. Saran yang didapatkan dari peserta diskusi antara lain adalah perlunya dibuat interactive mode agar masyarakat dapat dengan mudah mengerti isi lisensi ini, membuat selebaran dengan kalimat yang lebih efektif, membuat video dan sesuatu hal yang lebih visual untuk menjangkau orang banyak. Pihak penegak hukum juga perlu mengetahui lisensi Creative Commons, sehubungan dengan jenis tindak pidana pelanggaran hak cipta yang merupakan delik biasa.


Dalam sesi dengan Agung Damarsasongko (perwakilan Direktorat Jenderal Hak atas Kekayaan Intelektual), Ari Juliano Gema, dan Ivan Lanin, yang dipandu oleh Idaman Andarmosoko, Agung Damarsasongko menjelaskan mengenai ratifikasi Indonesia atas Konvensi Bern. Beliau menyatakan bahwa hak cipta adalah hak eksklusif yang mengintai pencipta, terdiri dari hak ekonomi dan hak moral, di mana ciptaan seorang pencipta tidak boleh diambil dan diubah tanpa seizinnya. Hak ekonomi adalah hak memperbanyak dan juga mengumumkan ciptaannya. Dalam hak ekonomi ini, pencipta dapat melisensikan ciptaannya kepada orang dan dapat mendapat royalti atau keuntungan darinya. Sementara itu, hek moral adalah hak yang melekat yaitu sumber darimana ciptaan tersebut berasal. Hak moral merupakan pilihan yang dapat dipilih oleh pencipta. Ari Juliano Gema memaparkan bahwa terdapat kekhawatiran akan keberlakuan lisensi Creative Commons dalam hukum Indonesia, karena lisensinya bersifat terbuka, tidak seperti dalam hukum Indonesia yang menganut lisensi tertutup dan harus menggunakan izin tertulis dari penciptanya. Hal ini ditanggapi oleh Agung Damarsasongko bahwa penggunaan lisensi Creative Commons tidak menyalahi hukum hak cipta di Indonesia karena pilihan untuk menggunakan lisensi Creative Commons adalah kebebasan yang dipegang oleh pencipta.


Diskusi ini ditutup dengan pemutaran film pendek mengenai hak cipta dan lisensi Creative Commons, sesi foto bersama, dan pengumuman mengenai pelaksanaan konferensi internasional dari Creative Commons Indonesia di bulan Oktober 2012.

Dokumentasi

Menyusul.