Diskusi Terbatas Lisensi Creative Commons untuk Indonesia/Notulensi

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
EnglishBahasa Indonesia


Notulensi Diskusi Terbatas Lisensi Creative Commons untuk Indonesia

09.30-10.00

Pembukaan Acara oleh Idaman Andarmosoko

10.00-12.00

Diskusi I dan II

“Lisensi Creative Commons dalam Konteks Hak Cipta di Indonesia”
Moderator: Idaman Andarmosoko
Pembicara: Ari Juliano Gema dan Ivan Lanin

  • Pada 2011 akhir diadaptasi lisensi CC di Indonesia Creative Commons bermulai dari ide yang diwujudkan dalam ekspresi ide yang nantinya akan menjadi asset kekayaan intelektual yang dilindungi dalam HAKI, yakni hak yang timbul dari kekayaan intelektual manusia.
  • HAKI yang diakui di Indonesia mencakup 6 hal yakni hak cipta, merek, rahasia dagang, paten, desain industri, DTLST.
  • Contoh 1: sebuah HP HTC; 1.“Google” sebagai merek; 2. Aplikasi dalam HP tersebut masuk kedalam perlindungan Hak Cipta; 3. Desain dari Handphone tersebut masuk kedalam perlindungan Desain Industri; 4. Sistem di dalam handphone tersebut masuk ke dalam perlindungan Paten.
  • Contoh 2: Coca Cola; Awalnya dijadikan formula obat, konon hanya 2 eksekutif coca cola di Atlanta, Georgia, USA yang mengetahui formula di dalam Coca Cola. Hal ini dapat dilindungi oleh rahasia dagang.
  • Dimana posisi CC dalam hak cipta ini? CC melindungi hak cipta, yakni hak eksklusif bagi pencipta atau yang diberi hak oleh pencipta untuk menggunakan, mengkomersialkan dan memperbanyak karya. Yang masuk ke dalam bidang ini misalnya film, fotografi, buku, dan karya seni.
  • Tindak pidana di bidang hak cipta, di Indonesia termasuk dalam delik biasa, sehingga memungkinkan aparat penegak hukum memulai penyelidikan adanya dugaan pelanggaran hak cipta tanpa laporan dari sang pencipta. Contohnya adalah ketika diadakan razia DVD bajakan, yang tidak memerlukan aduan terlebih dahulu, hanya perlu dugaan awal dari pihak kepolisian pun dapat dilaksanakan.
  • Gerakan Copywrong, hal ini adalah dimana seorang pencipta membebaskan karyanya untuk digunakan secara luas, karena tidak setuju dengan konsep hak cipta. Permasalahan yang muncul dalam hal ini adalah ketika ada pihak pihak tidak bertanggung jawab yang mendaftarkan karya orang lain sebagai karyanya sendiri. Hal ini dapat merugikan pencipta karya tersebut dan masyarakat luas.
  • CC mencoba memberi jalan tengah terhadap permasalahan hak cipta ini. CC menganut sistem “Status for your works” atau memberi status terhadap karya tersebut. Hal ini sesederhana menggunakan status dalam Facebook.
  • Spektrum pilihan:
  1. Atributif : tetap mencantumkan sumber, kredit bagi pencipta.
  2. Non-Komersil : boleh diperbanyak tapi tidak diperdagangkan, kecuali dengan izin dari pencipta.
  3. Non-derivatives : boleh memperbanyak karya asli, namun bukan turunan dari karya asli tersebut.
  4. Share alike : dapat diperbanyak dan dimodifikasi, tapi harus diberikan lisensi yang sama seperti lisensi awal.
  • Dengan CC, copyright tetap dipertahankan, namun memperbolehkan pihak lain untuk memperbanyak dan mendistribusikan karyanya dengan lisensi yang ada.
  • Sudah ada 72 negara yang terafiliasi dengan CC dan lisensi dibawah CC ini. Hal ini mempermudah open access terhadap ilmu pengetahuan.
  • Beberapa website yang telah menggunakan lisensi CC ini misalnya FLICKR, WIKIPEDIA (melindungi lebih dari 185,000 artikel berbahasa Indonesia), YOUTUBE (lisensi atribusi, 10.000 video dengan lisensi ini yang berguna untuk penelitian), MIT Open Course Ware (situs berbagi materi kuliah). Di Indonesia, beberapa seniman yang telah menggunakan lisensi CC ini antara lain rapper Pandji dalam albumnya “Merdesa” dan Bottlesmoker, yakni group musik elektronik yang telah menggunakan konsep lisensi ini. Intinya, sepanjang disebutkan sumbernya, karya karya dengan lisensi CC tersebut dapat dipergunakan secara luas oleh publik.

11.00-12.00

Tanya Jawab

  1. SUPRIYANTO (IN GARDA PETA)
  • Pertanyaan 1: Penemuan mengenai daun jarak yang digabung dengan daun lain, yang memiliki khasiat khusus. (ramuan tradisional)
  • Jawaban: Dalam UU, traditional knowledge yang sudah dikenal umum, namun tidak diketahui penciptanya siapa, hak ciptanya dipegang oleh negara (folklore). Sehingga ketika nantinya ada pihak luar yang menggunakan hal ini, bila ada sengketa, akan disengketa kepada negara. Prakteknya masih sulit dalam hal implementasinya. Bila ada pihak luar yang menjual mahal obat yang sangat dibutuhkan oleh rakyat (Bio-Piracy), dapat diterapkan paten oleh pemerintah (lisensi wajib), yakni pengambilalihan paten dan produksi obat oleh pemerintah, lalu dijual secara murah. Dalam hal undang-undang mengenai Traditional Knowledge ini, hal paling penting adalah kepentingan umum
  • Pertanyaan 2: Kutipan dalam buku
  • Jawaban: Pengecualian terhadap karya cipta, misalnya untuk penelitian, pendidikan, asal disebutkan sumbernya, tanpa mengurangi kepentingan yang wajar bagi penelitiannya, tidak harus meminta izin kepada pencipta karya.
  • Pertanyaan 3: Belum ditemukan penangkal penyakit AIDS. Saya telah meneliti akar Murbei, yang saya temukan memiliki zat zat kimia yang mampu menangkal HIV.
  1. DANIEL PUTRA SENTOSA (UNIVERSITAS TRISAKTI)
  • Pertanyaan: CC adalah organisasi nonprofit, dilatarbelakangi oleh privat. Apakah diakui lembaga lembaga negara, atau hanya diakui oleh beberapa kalangan saja?
  • Jawaban: HC tidak memerlukan rezim pendaftaran, karena muncul seketika ketika karya lahir. Kontrol utama terhadap karya tersebut ada pada pencipta / pemegang hak karya tersebut. CC adalah organisasi resmi yang terdaftar di Amerika. Di negara lain, pastinya da format format khusus untuk organisasi non-profit. Di Indonesia, CC adalah badan hukum yang sah berdasarkan hukum Indonesia. Tantangan terhadap CC ini adalah bagaimana sebuah karya yang dilindungi lisensi terbuka CC (kebanyakan ada di internet) dengan konsep delik biasa berdasarkan hukum Indonesia. Contohnya ketika kita mengakses situs yang mengandung lisensi terbuka. Hal ini terafiliasi dengan konsep perjanjian diam- diam. Perlu diingat lagi bahwa CC hanya memberi lisensi melalui simbol-simbol, tapi perlindungan terhadap karya kembali lagi kepada hukum negara masing masing. Namun disadari bahwa diperlukan sosialisasi mengenai hal ini kepada para penegak hukum, karena pemahaman terhadap hak cipta ini masih kurang. Hal mengenai hak cipta ini adalah hubungan keperdataan, karena merupakan hubungan antar pencipta karya dengan pihak yang menggunakan karya tersebut. Contoh kasus I : Lisensi iPad. Hal yang dibutuhkan dalam kasus ini adalah pemahaman lebih lanjut mengenai UU-ITE dan hak cipta oleh para penegak hukum. Contoh kasus II: Memperdagangkan karya yang dilisensikan sebagai non-komersil tanpa izin. Kecuali pihak yang memperdagangkan dapat membuktikan sebaliknya, hal ini merupakan pidana, karena izinnya tidak ada, dan bukti izinnya tidak akan ditemukan baik secara digital maupun tertulis.

“Pembahasan Hasil Terjemahan Kode Legal Lisensi Creative Commons”
Moderator: Anggara
Pembicara: Ari Juliano Gema

  • ANGGARA membuka diskusi dengan pertanyaan: Bila ada tulisan copyright di web (BPHN), yang manakah konten yang dilindungi dari sana? Apa saja yang dilindungi? Dan mengapa mereka BPHN yang mungkin saja artikelnya didapat dari diskusi bersama atau pemikiran banyak orang bisa memberikan copyright secara langsung?
  • JAWABAN ARI: hal ini dapat dilihat dari UU HAKI, misalnya tentang public domain dan kita ingin share link dari web tersebut, itu tidak apa-apa dan sesuai saja dengan UU. Tetapi harus hati2 terhadap format. UU HAKI meregulasi saat ada hubungan pekerjaan misalnya secara privat, atau hubungan bisnis antar orang, yang memegang hak ciptanya adalah pembuat hal tersebut, kecuali ditentukan lain. Tetapi bila ada hubungan pekerjaan dengan pemerintah, maka hak cipta ada pada pemerintah, kecuali ditentukan lain. Sehingga dari awal pencipta harus jelas tentang siapa yang memegang copyright, karena bila sudah bekerja dengan pemerintah dan tidak ada penjelasan mengenai siapa yang memegang hak cipta, maka UU HAKI-lah yang berlaku dan hak cipta ada di pemerintah.
  • Ada penambahan pendapat dari Perwakilan dari Wikimedia Indonesia : CC ada di Indonesia agar ada data sharing dan tidak ada pengkomersialisasian sepihak (misalnya dari pemerintah) dan keterbatasan akses di publik.
  • Sharing dari Anggara: Beliau membuat artikel, lalu artikel ini secara penuh dipakai sebagai defense material dari seorang commercial lawyer dan tanpa kredit bahwa itu dibuat olehnya. Lawyer tersebut memakainya untuk nota pembelaan dan untuk tujuan komersil, karena ia mendapat uang dari artikel ini yang digunakan sebagai nota pembelaan. Hal ini sedikit membuatnya kurang senang karena karyanya tidak digunakan untuk publik tetapi untuk benefit dari seseorang saja.
  • Diskusi mulai memasuki substansi mengenai Pembahasan Kode legal lisensi CC, apakah sudah baik terjemahannya.
    • IVAN: Tujuan dari acara ini memang adalah suatu pengenalan dan penjelasan mengenai translasi dari kode legal lisensi CC sendiri. Saran dan pendapat sangat dibutuhkan.
    • ANGGARA: Ia merasa bahwa penulisan kode legal lisensi bahasanya masih terlalu rumit.
    • IVAN: Untuk menanggulangi masalah tersebut (bahasa yang terlalu rumit) buku yang berisikan mengenai kode legal lisensi CC memberikan ringkasan isi dan hal-hal penting mengenai kode legal linsensi CC sendiri.
  • Saran dari peserta INAYA RAKHMANI (UNIVERSITAS INDONESIA): Agar dibuat interactive mode untuk promosi agar orang-orang mudah mengerti mengenai lisensi tersebut. Contohnya adalah dengan menggunakan media yang banyak icon serta gambar agar orang-orang lebih mudah mengerti dan tertarik. Lebih baik lagi kalau dibuat strukturnya seperti mind mapping. Menurut Ari, pertimbangannya sangat bagus dan he will be reminded.
  • Sharing dari peserta ENRICO ADITJONDRO (ENGAGE MEDIA): Ada 2 kasus dalam masalah penggunaan lisensi yang sering ia temui:
  1. RCTI bekerjasama dengan VAO untuk membuat video awareness dari flu burung, saat ingin didistribusikan secara internasional terkena masalah karena video tersebut menggunakan lagu Nirvana, padahal tidak mendapat lisensi dari Nirvana untuk dapat menggunakan lagu tersebut.
  2. Nia Dinata membuat trilogy pertarungan, lalu mendapat copyright. Setelah 6 bulan ia berbagi, sehingga dari copyright berubah menjadi CC. di media banyak yang menggunakan atribusi, tetapi saat distribusi untuk masuk ke TV akan menjadi sulit untuk menilai nilai komersilnya.
  • IDAMAN : Pertanyaannya teknis, apa itu arti pengesampingan di halaman 2?
    • JAWABAN: waive.
  • ARI: (menanggapi mengenai publikasi kode legal lisensi CC) ‘Selebaran merah putih yang diberikan oleh CC adalah suatu bentuk publikasi kepada publik agar mengerti mengenai CC dengan cara yang mudah dipahami. Kami membuat selebaran itu agar siapapun, yang bahkan bila ia tidak mengerti hukum, dapat mengerti substansinya.’
  • Peserta dari baris ke-4 (tidak menyebutkan nama, dan moderator tidak menanyakan namanya) yang duduk ditengah: memberikan saran untuk membuat video dan sesuatu hal yang lebih visual untuk menjangkau orang banyak.
  • IDAMAN : memberikan ide untuk pembuatan selebaran CC agar kalimatnya lebih efektif dalam selebaran.
  • DANIEL : karena marketnya adalah khalayak luas maka media publikasi CC harus menarik dan tidak boleh ‘ribet’.
  • Perwakilan dari Wikimedia Indonesia. Implementasi penggunaan logo CC kadang mengalami masalah. Misalnya ada tarik ulur yang terlalu lama di situs mereka dan terlalu banyak alasan orang untuk memakai logo CC. pada akhirnya banyak yang memakai logo CC tetapi logonya dipakai semuanya (CC BY NC ND), dan akhirnya konten web nya sendiri tidak bisa dibagikan secara bebas. Padahal sebenarnya yang dilihat dan membuat populer dari web itu adalah fungsinya bukan hanya substansi kontennya.
  • Peserta yang ada disebelah perwakilan WikiMedia Indonesia (kacamata baju abu-abu). Memberikan pendapat mengenai domain publik kurang jelas karena hanya mengungan kata-kata domain publik.
  • ARI: ada beberapa materi yang tidak ada hak ciptanya, misalnya judgment dan teks pidato presiden. Kalau kita yang membuat karyanya dan ingin melepassnya sebagai public domain maka itu adalah hak si penulis. (1) Public domain dapat digunakan juga untuk karya orang yang sudah meninggal selama 50 tahun. (2) Atribusi itu harus selalu melekat kepada orang yang membuat karya itu sendiri (moral rights).
  • MAHAYONI (PRESIDENT UNIVERSITY): “Apakah kita mau berbagi atau mendapat? Menurut saya dengan berbagi kita akan mendapat sesuatu pula.” Dalam UU yang meregulasi tentang delik biasa menurut saya untuk melindungi agar karya seseorang aman, agar tidak bisa dicopy, dan ada inisiatif untuk melindungi karya. Tetapi penegak hukum perlu tahu mengenai CC.

• Agar bila ada masalah mengenai implementasi CC atau penggunaannya oleh publik pemerintah tidak lambat dalam memberikan solusinya. Bila jalan informasi lambat, ditakutkan kejadian seperti ‘penahanan’ orang yang tidak bersalah karena kesalahpahaman HAKI akan terjadi oleh aparat keamanan. Sehingga pemerintah dan masyarakat perlu tahu secara lengkap tentang CC. Sosialisasi CC harus lebih menarik agar orang-orang bisa tahu. Semoga kedepannya CC suatu sandingan yang bisa berjalan seiring dengan UU HAKI. • NADIA ANDAYANI (UNIVERSITAS INDONESIA) : Bertanya apalah bila ia melisensi materi kuliahnya dan tanpa seizinnya orang lain membuat diktat dari materi itu berarti hak dia dilanggar? Dan apakah ia bisa melapor? Kalau tidak menggugat apakah bisa tetap diproses? ARI : Iya bisa, karena delik aduan. Kalau misalnya dia tidak mendaftarkankan pun masih bisa menggugat karena UU mengatur mengenai pelanggaran hak cipta sebagai delik biasa. Bisa. Tentang delik biasa. Pada dasarnya semua tindak pidana HAKI basiknya adalah delik aduan, orang harus mengadu dulu untuk melakukan tindakan. Tetapi politik HAKI kita, banyak kepentingan masuk, dmn banyak industri global ingin kita lebih represif untuk melawan pembajakan. Sehingga UU kita sendiri (Indonesia) yang memakai delik biasa. Akan tetapi dalam prakteknya, polisi tidak melakukan hak apapun dlama pelanggaran hak cipta dilapangan. Sehingga walaupun aturannya diganti menjadi delik biasa, tidak ada banyak pengaruhnya yang signifikan. Saat saya berdiskusi dengan polisi, polisi sendiri tidak bisa melakukan banyak karena untuk membedakan asli dan palsunya tidak jelas, tidak ada standar yang mana yang asli dan mana yang palsu. Skarena ketidakjelasan ini, delik biasa tidak efektif. Ada pihak pihak yang menginginkan semua yang diatur di UU HAKI menjadi delik biasa. Bila ada yang mengambil karya kita, kita bisa lapor polisi. Atau somasi, lalu minta kompensasi. Karena hal ini diatur jelas dalam UU HAKI.  (menjawab pertanyaan pembuktian bagaimana membuktikan bahwa seseorang adalah yang menciptakan suatu karya)? Bisa dibuktikan dengan siapa yang mempublikasikan paling pertama, kecuali dibuktikan sebaliknya.

12.00 – 13.00 Break Makan Siang


13.30 – 15.00 “Lisensi Creative Commons dalam Konteks Hak Cipta di Indonesia” Moderator : Idaman Pembicara : Perwakilan Dirjen HAKI (Pak Agung), Ivan, Ari Juliano Gema • Agung sebagai pembicara pertama menjelaskan mengenai ratifikasi Indonesia atas Konvensi Bern. Hak eksklusif mengintai pencipta, dimana seorang pencipta karyanya tidak boleh diambil tanpa seizinnya dan diubah tanpa izinnya. Hak ekonomi, hak memperbanyak dan juga mengumumkan ciptaannya. Dalam hak ekonomi ini pencipta dapat melisensikan karyanya kepada orang dan dapat mendapat royalty atau keuntungan darinya. Hak moral adalah hak yang melekat yaitu sumber karya tersebut berasal darimana. Hak moral merupakan pilihan yang dapat dipilih oleh pencipta.

Konvensi Bern meregulasi mengenai pengakuan atas ciptaan seseorang. Misalnya X menciptakan sesuatu, tetapi diperbanyak tanpa seizinnya. Karena konvensi Bern, X boleh menuntut orang yang memperbanyaknya tanpa seizinnya. Tanya Jawab 1. HENDRA INDRIYANTO (IVAA) : Ada beberapa UKM di yogya, dan ia ingin menyebarluaskan UKM ini dengan membuatkan mereka website. Mereka banyak menolak karena produk mereka yang disebarkan diinternet malah dibajak oleh negara luar. Ini menjadi sebuah kendala dimana UKM tersebut menjadi menolak publikasi tersebut. Bagaimana perlindungan mengenai hal ini? Foto adalah suatu hasil ciptaan, bagaimana perlindungannya dari modifikasi? Dan konten yang ada di dalam foto tersebut, bagaimana perlindungannya? Jawab: Fotografi : berbicara dengan objek di dalamnya. Sedang design industri perlindungan hak ciptanya baru ada setelah didaftarkan. Mengenai foto, fotografi adalah suatu ciptaan. Sehingga bila terjadi persoalan seperti diatas, dimana disebarluaskan tanpa izin, maka bisa dituntut atau di somasi pelaku yang menyebarluaskannya. Sedangkan mengenai objeknya, bila objeknya berubah—tidak sama seperti yang ada di foto—bila objeknya sudah termodifikasi, maka akan masuk ke dalam design industri, dimana produk terlindungi setelah adanya pendaftaran. Sehingga solusinya adalah, somasi saja. Dalam regime hak cipta ada regime independent creation. Dimana kita bisa terinspirasi dari sesuatu. Inilah independent creation kita.

2. SISCA (WIKIMEDIA INDONESIA)

1. Ada masalah wikipedia bahasa indonesia dimana foto pahlawan yang ada di Indonesia tidak jelas hak ciptanya, dan tidak ada yang mengkategorikan itu sebagai public domain walaupun banyak yang tahu bahwa itu memang foto pahlawannya. Dan pihak akhirya tidak berani untuk memasukkan foto ke artikel kami karena bisa-bisa dituntut. 2. Betapa sulitnya mencari ensiklopedia bahasa Indonesia yang bebas. Tetapi untuk mendukung ensiklopedia ini kita menemukan masalah di penerbit dan pengarangnya. BPengarangnya yang sudah meninggal-pun memiliki ahli waris dan harus ditunggu selama 50tahun, bagaimana mengatasi permasalahan ini? 3. Pasal-pasal (seperti yang ada di UU) isinya adalah suatu domain publik, wikipedia Indonesia ingin membuat yang multibahasa. Kami mendukung penulis yang mentranslasi dokumen tersebut. Tetapi ada yang tidak setuju dan memberikan suatu surat peringatan, mengatakan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan karena pasal ada dalam domain publik. Apakah ini boleh dilakukan? Dan apakah setelah ditranslasi penerjemah memiliki hak cipta terhadap dokumen tersebut? 4. Intervensi pemerintah untuk pembukaan data ensiklopedia, lalu ensiklopedia bahasa Kazakhstan yang membebaskan akses dan penggunaan data bahasa Kazakhstan untuk ensiklopedia., ternyata cukup berdampak positif, meski akhirnya Kazakhstan belum siap. Indonesia telah siap secara sumber daya, namun miskin data, sehingga dibutuhkan intervensi dari pemerintah agar terbantu.

Jawaban 1. Harus dilihat apakah foto tersebut sudah lama dan sudah bisa diakses masyarakat atau belum. Nasihatnya lebih baik foto tersebut digambar ulang, dan menjadi kreasi independen. 2. Lisensi wajib diperlukan disini. 3. Yang dilindungi adalah karya terjemahan dari pasal-pasal dalam Undang Undang tertentu. Yang dimiliki oleh penciptanya adalah perlindungan terhadap format terjemahan tersebut. Ada permasalahan lagi, apabila dalam teks telah dinyatakan bahwa terjemahan tersebut merupakan Official translation, maka terjemahan itu memang milik pemerintah, sedangkan dalam hal Unofficial translation masih dapat diperdebatkan lagi letak hak miliknya. 4. Diperlukan klarifikasi lebih jelas dan lebih aman mengenai permasalahan ini. Tambahan penjelasan mengenai adat Batak yang dimasukkan ke buku oleh Google. Namun kemudian diketahui bahwa hak cipta masih ada di pihak keluarga. Akhirnya penyelesaian dilaksanakan secara kekeluargaan. 5. Dalam pertemuan International Copyright Counsels. Ada proposal dari Afrika mengenai pengetahuan bebas, namun masih belum disetujui oleh Amerika Serikat dan Eropa demi kepentingan industri. Kaitannya dengan permasalahan ini adalah di isu seperti ini banyak terjadi di Indonesia. Masih perlu pembahasan lebih lanjut lagi antara IKAPI, Dirjen HKI dan para penerbit, hingga akhirnya dapat didapatkan solusi.

NADIA HANDAYANI (UNIVERSITAS INDONESIA) 1. Penghargaan terhadap karya HKI seseorang dari mahasiswa Indonesia itu masih sangat kurang, apakah akan ada rencana sosialisasi untuk kalangan luas? Bentuknya seperti apa? 2. Ada Section di Mendikbud, dimana publik dapat mendownload buku buku pelajaran SD SMP SMA, apakah memungkinkan di masa depan untuk hal seperti ini bagi buku teks Perguruan Tinggi?

Jawaban: 1. Sosialisasi itu sudah ada. Apabila kita menilik lagi teori Friedman : Legal structure, legal substance dan legal behaviour. Legal behaviour inilah yang kita masih kurang di Indonesia. Diperlukan proses yang cukup panjang untuk memperbaiki mengenai kesadaran atas HKI ini. 3. Diusahakan, namun masih sulit karena terbentur kepentingan penerbit. Di Australia, hal ini sudah ada, dan penerbit disubsidi oleh pemerintah. Tambahan dari ARI JULIANO: Kekhawatiran akan keberlakuan CC dalam hukum Indonesia, karena lisensinya bersifat terbuka, tidak seperti di hukum Indonesia, dimana lisensi tertutup, harus menggunakan izin tertulis dari penciptanya. TANGGAPAN DARI PERWAKILAN DITJEN HKI: Berbicara masalah pemanfaatan ekonomi, dimana dalam hal CC, telah terdapat konsen dari si pencipta, dimana pencipta disini telah membebaskan publik untuk menggunakan karya secara bebas. Hal ini boleh boleh saja, karena kembali lagi, ini merupakan pilihan dari pencipta karya tersebut.

14.30 – 15.00 • Penutup dan Pengumuman Diskusi CCID Oktober 2012 • PEMUTARAN FILM OLEH CC (10 MENIT)