Diskusi Terbatas Lisensi Creative Commons untuk Indonesia/Siaran Pers

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
EnglishBahasa Indonesia




Siaran Pers

Untuk disebarluaskan
Jakarta, 9 Juli 2012


Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Menyatakan Dukungan untuk Lisensi Creative Commons di Indonesia

Peserta dan Pembicara Diskusi Terbatas Lisensi Creative Commons untuk Indonesia

Pada hari Sabtu, 7 Juli 2012 bertempat di Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia, Depok Creative Commons Indonesia mengadakan Diskusi Terbatas untuk pertama kalinya. Hal ini dilakukan dalam mengkaji hasil terjemahan dan penyesuaian lisensi ringkas serta lisensi legal Creative Commons dan posisinya terhadap Hukum Hak Cipta di Indonesia.

Hadir dalam diskusi ini perwakilan Dirjen HKI, Bapak Agung Damarsasongko, Kasi Pertimbahan Hukum & Litigasi Direktorat Hak Cipta, Desain Industri, DTLST, dan Rahasia Dagang yang menyatakan dukungannya untuk penggunaan lisensi Creative Commons di Indonesia. Ari Juliano Gema dan Ivan Lanin sebagai Pemimpin Publik dan Pemimpin Legal Creative Commons Indonesia mengungkapkan bahwa Negara kita menjadi salah satu dari 72 negara yang telah menggunakan lisensi hak cipta Creative Commons. Di Asean sendiri, Malaysia, Singapura, dan Filipina telah menggunakan lisensi hak cipta berbagi ini, sementara di Indonesia baru menyelesaikan penerjemahan dan penyesuaian dengan Hukum Hak Cipta pada awal 2012.

Diskusi terbatas ini juga dihadiri oleh organisasi nirlaba yang bergerak dibidang pengarsipan, kreatif, teknologi seperti Indonesian Visual Art Archive, Engage Media, Air Putih, Perpustakaan Nasional, dan perwakilan Universitas. Banyak hal yang didiskusikan termasuk di antaranya adalah bagaimana video-video tentang peningkatan kepedulian flu burung di Indonesia dibuat dengan baik sekali namun terkendala secara internasional karena menggunakan musik dari band Nirvana yang ber-hak cipta, sehingga tidak diterima. Ditanyakan juga tentang gambar pahlawan-pahlawan Indonesia, ensiklopedia berbahasa Indonesia, yang bebas hak cipta sehingga mudah dibagikan dan disebarluaskan, termasuk apakah pengguna Lisensi Creative Commons ini perlu mendaftarkan karyanya.

Menurut Agung, dalam Pasal 45 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, tidak ada kewajiban Lisensi Creative Commons mendaftarkan diri di Dirjen Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) karena sebagai suatu perjanjian lisensi, lisensi Creative Commons tidak mengatur kesepakatan mengenai manfaat ekonomi atas suatu karya. Selain itu, pilihan untuk menggunakan lisensi Creative Commons adalah kebebasan yang dipegang oleh para pencipta yang tunduk pada aturan hukum hak cipta di Indonesia.

Diskusi yang dipandu oleh Idaman Andarmosoko dan Anggara ditutup dengan masukan-masukan akan penggantian kalimat-kalimat yang membingungkan dan terasa teknis dengan kalimat-kalimat yang lebih mudah untuk dimengerti sebagai acuan revisi terjemahan Creative Commons yang lebih baik. Saeful Munief, salah satu mahasiswa Universitas Indonesia yang ikut berdiskusi menyarankan dibuatnya video untuk memudahkan murid setingkat SMP mengerti manfaat berbagi melalui lisensi Creative Commons.

Untuk rencana selanjutnya, Creative Commons Indonesia akan melaksanakan konferensi internasional pada bulan Oktober 2012 dan akan mengundang perwakilan fakultas hukum dari berbagai universitas di Indonesia, perwakilan afiliasi Creative Commons di Asia Pasifik, serta salah satu pencetus ide Creative Commons yaitu Lawrence Lessig.

* * SELESAI * *
  • Untuk keterangan lebih lanjut, silakan hubungi info@creativecommons.or.id.