Komentar Juri Putaran Pertama Kompetisi Bebaskan Pengetahuan 2014

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Halaman ini berisi tentang rangkuman dari komentar 12 juri pada Kompetisi Menulis Wikipedia Bebaskan Pengetahuan 2014. Jika ada baris kosong, berarti juri tersebut tidak memberikan komentar hanya penilaian. Silakan kunjungi laman Penilaian Putaran Pertama Kompetisi Bebaskan Pengetahuan 2014 untuk melihat rincian nilai pada putaran pertama.

Komentar

  1. BP02Aveline
    • Persengketaan rokok kretek Indonesia
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Latar belakang maupun akibat persengketaan dapat dijelaskan lebih lanjut. Kesannya artikel ini hanya berisi kronologi sehingga kurang ensiklopedis.
        • Judul artikel kurang deskriptif, mungkin lebih tepat "Persengketaan rokok kretek Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia"
        • Bagian "Pengadopsian Pasal 22" tidak jelas. Di paragraf pembuka dinyatakan bahwa persengkataan ini sudah berakhir, lalu apa arti tahap ini?
        • Pernyataan "rokok kretek mendapatkan pelarangan masuk ke pasar Amerika Serikat dengan alasan kesehatan masyarakat Amerika Serikat" perlu penjelasan lebih lanjut disertai dengan rujukan yang sesuai (pelarangannya dalam bentuk apa, apakah benar dalam pelarangan tersebut dinyatakan secara spesifik alasannya, dsb.)
        • Kenetralan diragukan: sepertinya tidak ada pembahasan mengenai perkara ini dari sudut pandang Amerika Serikat.
        • Referensi kurang (hanya artikel surat kabar/majalah dan situs web WTO), apa tidak ada referensi berbentuk buku atau yang berasal dari pihak Amerika Serikat?
        • Keterangan gambar perlu diperjelas: Persengketaan rokok kretek Indonesia terdaftar di situs web WTO
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Kalimat:" Indonesia menyatakan Pasal 907...." cenderung membingungkandan tidak mengalir dengan baik
        • Isi artikel hanya berupa kronologis kejadian tanpa menyentuh substansi isi sengketa secara jelas. "Bagaimana klaim/pembelaan Amerika Serikat?" "Apakah isi dari temuan badan WTO terkait sengketa?" "Rekomendasi apa yang dikeluarkan oleh badan WTO yang harus dijalankan AS?"
        • Artikel kurang informatif dan lebih menimbulkan banyak pertanyaan daripadajawaban.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Tulisan ini bagus, cukup informatif, aktual, layak publikasi;
        • Terdapat sejumlah kalimat yang terlalu panjang, berbelit, tidak setarikan nafas sebagaimana bahasa media; Perlu ketelitian penulisan kata, misalnya 'mempublikasikan' seharusnya sekarang 'memublikasikan'. Alasannya, [p] luluh ketika bertemu dengan [meN-].
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa kurang lancar karena pemilihan kata yang kurang tepat.
        • 5 WH yang terbatas
        • Kurang Media/gambar
        • Referensi terbatas
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah bagus karena update ttg perkembangan dari sisi Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik dan menarik
        • Interwiki ke bahasa Inggris tampaknya ditulis oleh penulis yang sama. Ini menimbulkan pertanyaan tentang signifikansi artikel ini. Dalam Wiki bhs Inggris pertanyaan ini muncul.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pembahasan terlalu singkat dan terkesan terburu-buru dalam pemaparan kasus persengketaan rokok kretek antara Indonesia dan Amerika
        • Saran: Mestinya siapa saja pihak-pihak yang bersengketa, bisa disebutkan namanya. Saat itu, pada masa pemerintahan siapa, siapa menteri perdagangan atau perekonomian,atau direktorat perdagangan yang membawahi langsung masalah tersebut. Bagaimana media-media di Indonesia & Amerika ikut memberitakan sengketa itu.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap
        • bahasa Indonesia kurang bagus
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perlu dikemukakan perkembangan penyelesaian sengketa sampai sekarang.
        • Pergunakan kaidah bahasa (ejaan) dan kosakata baku dalam penulisan artikel.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Apakah ada contoh kasus yang serupa di dunia? Jika ada informasinya akan memberi nilai lebih konten
  2. BP09Zahra
    • Rokok filter
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas. Judulnya bersifat umum, tetapi ada bagian Peraturan Pemerintah Indonesia tentang produk tembakau dan segmen pasar yang lingkupnya terbatas Indonesia.
        • Bagian poin-poin/daftar sebaiknya ditulis sebagai paragraf.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Beberapa kalimat cenderung bergaya reportase dan subjektif daripada deskriptif ensiklopedis. "Tapi zaman telah berubah….", "Hal inilah yang menjadi paradoks…" "Bahan-bahan berhabaya…harus dibatasi…", "Target pemasaran kedua rokok ini, "Hal ini tentunya….", "Padahal…", dll.
        • Rujukan klaim medis efek rokok terhadap kesehatan hanya mengutip dari sumber berita/koran/situs web tanpa mengutip secara langsung dari sumber/jurnal ilmiah yang lebih otoritatif seperti WHO, Kemenkes, Science, Proc. Natl. Acad. Sci.,dll.
        • Beberapa kata tidak diterjemahkan dengan benar: "nucleus accumbens", "ventral tegmental area", "norepinephrine", "dopamine",
        • Format tata letak artikel kurang diperhatikan
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Perbaiki cara penulisan agar menjadi tulisan yang singkat, padat, jelas, dan tidak membingungkan melalui penulisan kalimat yang kurang efektif
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Banyak sekai terdapat bentuk kebahasaan yang salah: 1. 'di mana' di tengah kalimat; 2. kata 'sehingga' mengawali kalimat; 3. kata 'sedangkan' mengawali kalimat; 4. konjungsi 'bila…maka'; 5. penulisan 2007-2010 yang seharusnya menggunakan tanda pisah (--). bukan (-), dan masih banyak lagi kesalahan kebahasaan lainnya. Sebagai artikel publikasi, kesalahan kebahasaan demikian ini selayaknya tidak terjadi.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa Mengalir dengan lugas
        • Referensi luas dan mendukung
        • Kelengkapan 5 WH
        • Tidak mendeskreditkan laki-laki/perempuan, sama.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Interwiki artikel ini tidak tepat. Artikelnya berjudul Rokok filter, sementara interwiki ke Bhs Inggris merujuk ke artikel "Filter rokok". Di AS ada bbrp merek rokok tanpa filter, spt Camel, Lucky Strike, dll. Jadi rokok filter tidak sama dg rokok putih. Sementara itu, ada juga rokok kretek yg menggunakan filter. Mis. "Jarum Filter".
        • Kesimpulan: Artikel ini tidak akurat. Perlu perbaikan besar. Isi tulisan bercampur aduk antara penjelasan tentang kegunaan filter dan rokok filter. Penjelasan bhw rokok putih = mild juga keliru sebab mild dimaksudkan utk menunjukkan kadar tar yg rendah dlm rokok tsb.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Paparan sudah cukup baik. Aspek historis dan medis sudah cukup terelaborasi. Tetapi aspek ekonomi-politik di balik rokok filter, belum dipaparkan dengan kritis.
        • Saran: Tambahkan tinjauan ekonomi-politik di balik produksi rokok filter. Referensi mesti ditambah dari beberapa buku yang membahas tentang rokok filter, tidak hanya mengandalkan akses pada internet.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap tapi alur bahasa buruk
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Kecermatan berbahasa perlu diperhatikan menyangkut keefektifan dan ketelitian mengetik.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Akan lebih informatif ditambahkan informasi komunitas penikmat rokok kretek di Indonesia
  3. BP11Fitri
    • Pekerja sosial
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Banyak bagian poin-poin/daftar yang sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • Bagian sejarah sebaiknya membahas secara internasional, dan bukan hanya Inggris & Amerika Serikat.
        • Penggunaan huruf besar dan spasi perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Kalimat-kalimat yang memberikan rujukan (Hick 2003), (Barkerm1995), (Jhon 1995), "menurut Dean H. Hepworth & Jo Ann Larsen", "Menurut Max Siporin", dll, di badan kalimat malah memberikan rujukan buku yang kemudian merujuk pada kutipan tersebut. Seharusnya harus merujuk langsung dari Hick, Barkerm, Jhon, dan Dean H. Hepworth, dll sesuai dengan kalimat tersebut.
        • Isi artikel cenderung bersifat instruksionaL
        • Sumber rujukan terbatas
        • Ada dugaan kalimat artikel yang ada hanya copy & paste dari rujukan yang diberikan
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • isi cukup baik; kalimat tidak terlampau sulit sekalipun masih ada bentuk-bentuk yang panjang; bentuk-bentuk kebahasaan tertentu masih belum akurat, misalnya 'respon' harusnya 'respons' 'kedalam' harusnya 'ke dalam'. Kesalahan kebahasaan demikian ini selayaknya tidak terjadi dalam artikel publikasi.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa kurang mengalir karena lebih banyak poin-poin angka dibanding kata-kata dalam paragraph.
        • Penggunaan huruf besar dan kecil yang kurang tepat.
        • Kurang spesifik dalam menjelaskan 5 WH.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • beri gambaran pekerja sosial di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Apa yang dimaksudkan dg "Epistemologi" di sini? Yg sy temukan di internet, "epistemologi" dlm bidang ini merujuk pada dasar pemikiran dan pendekatan disiplinnya. Terdapat perkembangan dari abad XX yg memisahkan antara teori dan praktik (positivisme) dengan sekarang, ketika teori dan praktik tidak lagi dipisahkan. (http://citation.allacademic.com/meta/p_mla_apa_research_citation/5/5/8/4/3/p558438_index.html)
        • Ada beberapa kesalahan ketik, penggunaan kata "di mana" yang tidak perlu, kalimat tanpa subyek yg jelas, mis. "Di Inggris dan Amerika Serikat, pekerja sosial muncul karena menanggapi banyak dampak …"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Terkesan monoton dalam penuangan gagasan penulis. Belum berani memberikan ide yang lebih mendalam di setiap paparan tulisannya. Minim referensi.
        • Saran: Lebih banyak membaca literatur yang berkaitan dengan topik yang sedang dibahas. Menambah bobot dan kualitas tulisan dengan memperhatikan 5W1H.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • alur konsep kabur dan acak-acakan
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif dan kaidah penulisan/ejaan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  4. BP12Mutia
    • Analisis sitiran
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Definisi tidak perlu dibuat per kata, melainkan definisi konsep.
        • Bagian sejarah dapat dilengkapi lagi. Misalnya, teknik baru apa yang sudah dikembangkan?
        • 5W1H: bagian "where" sangat kurang. Di mana analisis sitiran dikembangkan?
        • Bagian Tujuan Pencantuman Daftar Pustaka kurang relevan karena tidak berhubungan langsung dengan analisis sitiran.
        • Penulisan dalam bentuk poin perlu dibuat dalam paragraf.
        • Penulisan ejaan perlu lebih dicermati.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Tidak adanya rujukan langsung sesuai dengan klaim kalimat, melainkan hanya merujuk pada rujukan yang baru kemudian merujuk pada rujukan tersebut. Seharusnya langsung merujuk pada: (Beni, 1999), Lasa (1990: 26), Lancet, dll.
        • Dugaan keras kalimat artikel yang ada hanya copy & paste dari rujukan yang diberikan!
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Banyak kata-kata asing yang mengganggu proses pemahaman oleh pembaca. Lebih baik jika dikurangi atau dialihbahasakan ke dalam kata-kata yang lebih mudah dipahami masyarakat umum.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Banyak kesalahan kebahasaan yang masih terjadi, misalnya penulisan 'antar' yang tidak boleh dipisah dengan kata yang mengikutinya, kata 'factor' yang seharusnya diganti menjadi 'faktor', penulisan 'misalnya' yang tidak bisa mengawali kalimat karena merupakan konjungsi intrakalimat. Kecermatan demikian ini harus diutamakan sebagai artikel publikasi.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Diksi kata kurang mulus, seperti: ke karya.
        • Kelengkapan 5 WH seperti siapa, belum kelihatan.
        • Keluasan materi sudah memadai.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Sudah menarik karena unik untuk di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik dan lengkap, namun rasanya terlalu ilmiah Kalau dibandingkan dengan versi bahasa Inggris, mis. tulisan ini terasa sangat berat.
        • Bahasa Indonesia sudah cukup baik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pemaparan gagasan masih kaku. Sejarah analisis sitiran belum dielaborasi dengan baik. Referensi masih minim. Manfaat analisis sitiran belum diberikan pembahasan secara memadai. Masih banyak salah ketik.
        • Saran: Pembahasan harus lebih diperdalam lagi. Berikan uraian yang memadai terhadap kata-kata kunci yang disebutkan dalam contoh-contoh saudara.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • alur nalarnya tidak jelas
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif, berhati-hati menggunakan kata penghubung pada awal kalimat
        • Berhati-hati menggunakan kata penghubung pada awal kalimat
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  5. BP14Sani
    • Kaptopril
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mempersulit pemahaman. Misalnya, apa itu "remodelisasi ventrikel", "MI", "enzim pengkonversi angiotensin", "interkonversi"?
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mempersulit pemahaman. Misalnya, apa itu "remodelisasi ventrikel", "MI", "enzim pengkonversi angiotensin", "interkonversi"?
        • Penambahan gambar buatan tangan sangat tidak perlu karena sudah ada gambar yang jauh lebih bagus.
        • 5W1H: bagian "who", "where", dan "when" sangat kurang. Bagaimana sejarah penemuan dan penggunaan kaptopril? Siapa penemunya? Di negara apa saja kaptopril digunakan?
        • Penggunaan spasi dan ejaan perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Kalimat cenderung tidak mengalir dengan baik
        • Rujukan sangat terbatas
        • Bagian farmakokinetik hanya merupakan terjemahan (parsial) dari rujukan bahasa Inggris. Terjemahan tidak akurat.
        • Bagian farmakologi hanya mengkopi dari rujukan yang diberikan!
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Isi cukup bagus, tetap terlalu banyak kata-kata 'teknis' yang tentu tidak mudah dipahami oleh pembaca awam. Kecermatan bentuk kebahasaan merupakan hal yang tidak dapat ditawar dalam penulisa artikel media, karena artikel media memiliki fungsi edukasi kepada publik pembaca. bentuk '1 / 2' misalnya saja, merupakan penulisan bentuk kebahasaan yang salah. Bentuk 'pengkonversian' juga tidak sesuai dengan ketentuan morfofonemik dalam bahasa Indonesia yang sekarang.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • pada awal tulisan lancar, namun diakhir tulisan hanya per poin.
        • 5 WH, kurang menjelaskan tempat dan waktu.
        • Objektif, tetapi cenderung berbahasa akademik.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Sudah sangat baik, namun masih ada istilah-istilah yang terlalu bersifat ilmu kimia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup bagus, hanya ada beberapa kata asing yang mungkin sulit dipahami pembaca awam, seperti mis. "penginhibisi", "bioavailabilitas", "interkonversi", dll.
        • Tulisan masih cenderung sangat ilmiah medis sehingga sulit bagi awam untuk memahaminya. Bandingkan dg versi bhs Inggris yg tidak terlalu jauh ke farmakologi tp juga membahas sejarah obat ini.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pembahasan kurang mengalir. Bisa jadi karena masuk ranah sains yang ketat.
        • Saran: Istilah-istilah asing yang ditampilkan hendaknya diberikan pengertian atau definisi. Lebih diperkaya lagi kedalaman pemaparan gagasannya.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • istilah teknis terlalu banyak, dan alur nalar maupun bahasa tidak enak
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Gambar struktur kimia mungkin bisa lebih bagus
        • Masih banyak istilah medis yang saya kira orang awam tidak memahaminya
  6. BP19Alvian
    • Travis Hirschi
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Gambar teori kontrol perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
        • Bagian berbentuk daftar/poin-poin sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • 5W1H: bagian "where" kurang; di mana Hirschi mendeskripsikan teorinya?
        • Apakah tokoh ini pernah mendapatkan penghargaan? Perlu ditambahkan ke artikel.?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu terfokus pada Teori Kontrol Travis Hirschi daripada Travis Hirschi sendiri.
        • Tak ada relevansi penting antara konteks sosial 1960 dengan Travis Hirschi sendiri
        • Sumber rujukan sangat terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Terlampau banyak kalimat panjang. Kalimat panjang demikian ini cukup menyulitkan pembaca. Bentuk kebahasaan seperti ' di masa' dan 'di tahun' tidak boleh terjadi. Alasannya, 'di' secara gramatikal digunakan untuk menunjukkan tempat, bukan waktu. Bentuk yang benar adalah 'pada'. Konjungsi antarkalimat 'namun' jangan pernah digunakan di dalam kalimat karena hakikatnya adalah konjungsi antarkalimat.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa ringan, namun bagian terakhir berupa poin-poin.
        • Kelengkapan unsur 5WH.
        • Netral dan tidak subjektif.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • tambahkan konteks di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Bahasa Indonesia cukup baik. Artikel cukup baik dan lengkap.
        • Artikel ditulis dengan bahasa yg cukup sederhana.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pembahasan kurang mengalir, terkesan kaku, dan kurang memberikan orisinalitas kajian yang lebih mendalam. Pemaparan cenderung seperti ringkasan atau pointers.
        • Saran: Perkaya pemaparan dengan memberikan contoh atau aplikasi teori kontrol. Kontekstualisasikan teori tersebut dengan para penerusnya yang kemudian, bahwa teorinya benar-benar member warna bagi pengembangan kajian berikutnya.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • alur nalar dan bahasa jelas
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Adakah implikasi teori ini untuk ilmu sosiologi di Indonesia? Bisa menjadi tambahan informasi
  7. BP20Benny
    • Elihu (Kitab Ayub)
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Konteks topik artikel ini kurang dijelaskan pada bagian pembuka. Seharusnya dijelaskan pula bahwa Kitab Ayub merupakan salah satu kitab pada Alkitab Ibrani. Selain itu, bagian pembuka perlu merangkum inti isi artikel.
        • Tema teologis yang dibahas dapat ditambah (disebutkan tema doa, keadilan, moral, hikmat, dan penderitaan; mengapa yang dibahas hanya hikmat?)
        • Penggunaan kata yang subjektif/tidak netral seperti "kita" perlu dihindari. Artikel ensiklopedia perlu ditulis secara deskriptif dari sudut pandang netral, dan tidak berargumentasi dengan pembaca.
        • Keterangan gambar perlu diperbaiki untuk menjelaskan bahwa gambar tersebut merupakan lukisan karya William Blake.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Gaya bahasa artikel terlalu repetitif dan kurang bervariasi
        • Isi artikel terlalu berfokus pada Elihu dan mengesampingkan informasi latar belakang sehingga membingungkan pembaca. "Apa kata-kata Zofar, Bildad, dan Elifas yang membuat Elihu marah?", "Apa penderitaan Ayub?", "Apa pendapat dan pembelaan Ayub yang diserang/dibantah Elihu?"
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, inspiratif, isinya sangat baik. Akan tetapi, keakuratan kebahasaan harus mendapatkan perhatian yang lebih. Sebagai contoh pemakaian kata 'siapapun' yang tentu harus ditulis 'siapa pun', penulisan 'respon' yang tentu harus diganti menjadi 'respons'. Kemudian bentuk 'mempengaruhi' yang muncul berkali-kali, harus diganti dengan 'memengaruhi' sesuai dengan ketentuan morfofonemik dalam bahasa Indoensia yang sekarang ini berlaku.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa lengkap dari awal sampai akhir.
        • 5Wh cukup memadai.
        • Subjektifitas terbatas.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Terlalu umum. Fokus pada elihu, digali lebih banyak tentang keluarga dan bagaimana relasinya dengan ayub
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel ditulis dengan bahasa yang cukup baik.
        • Isi artikel cukup lengkap - lebih lengkap daripada Wikipedia Inggris
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Kajian kurang mendalam. Pemaparan cenderung monoton. Belum memberikan tafsir hermeneutik pada elihu.
        • Saran: Berikan tafsir hermeneutik pada Elihu. Perkaya referensi tentang Elihu. Kontekstualisasikan dengan era kekinian.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • alur gagasan dan bahasa runtut
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  8. BP21Danang
    • Stoikisme
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Alur artikel ini perlu disempurnakan; seharusnya bagian inti ajaran stoikisme diletakkan di awal, baru diikuti oleh bagian mengenai tokoh-tokoh (yang seharusnya juga membahas lebih lanjut sejarahnya, dengan subbagian mengenai politik Yunani).
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu diperbaiki. Misalnya, kata "sedangkan" merupakan kata hubung intrakalimat sehingga hampir tidak mungkin berada di awal kalimat.
        • Penggunaan kata yang subjektif/tidak netral seperti "kita" perlu dihindari. Artikel ensiklopedia perlu ditulis secara deskriptif dari sudut pandang netral, dan tidak berargumentasi dengan pembaca.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Nama-nama Yunani seperti Cleanthes, Chrysippus, Epictetus, Soli, Socrates tidak diterjemahkan dengan baik ke dalam Bahasa Indonesia. (Kleanthes, Khrisippos, Epiktetos, Soleus, Sokrates)
        • Isi artikel hanya membahas pandangan stokisme dalam bidang politik dan etika tanpa menyentuh bidang logika dan fisika/kosmologi
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Bagus, inspiratif, edukatif, ilmiah. Tajamkan dengan mengedepankan lagi dimensi keakuratan kebahasaan. Jangan pernah memulai kalimat dengan konjungsi intrakalimat seperti 'sedangkan' atau 'sehingga'. Letakkan juga 'namun' di awal kalimat, bukan di tengah kalimat. Bentuk 'ketimbang' kendatipun populer, lebih baik diganti dengan 'daripada'. Bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan secara tidak akurat akan memerosotkan kredibilitas sebuah tulisan.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa mengalir dan luas
        • Penjelasan 5 WH yang lengkap.
        • Kurang subjektif karena hanya menyebutkan satu contoh teologi Kristen saja.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan ini dibuat dengan bahasa yang baik dan cukup komprehensif.
        • Dari mana penulis mengetahui bahwa Niebuhr adalah seorang Stoik? Apakah ini hasil riset sendiri? Kalau ada buku sumbernya, sebutkanlah
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Secara umum sudah cukup baik. Hanya perlu beberapa perbaikan atau pengembangan pemaparan.
        • Saran: Tambahkan konteks kekinian dari ide stoikisme dalam filsafat, seberapa jauh pengaruhnya bagi ilmu-ilmu social dan juga filsafat kontemporer.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info dan alur ok
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Kata penghubung pada awal kalimat digunakan dengan cermat.
        • Gunakan kosakata baku.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Adakah informasi pengaruh bagi para kalangan pemikir kristen di Indonesia?
  9. BP22Heber
    • Rahasia jabatan
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas; judulnya bersifat umum, tetapi isinya cenderung membahas Indonesia.
        • Gambar yang digunakan sama sekali tidak ilustratif.
        • 5W1H: bagian "where" dan "when" sangat kurang. Bagaimana sejarah rahasia jabatan? Bagaimana rahasia jabatan di berbagai tempat di dunia?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu pendek
        • Sumber rujukan sangat terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Tulisan tidak tertata dengan rapi dan jelas.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Pendek, singkat, tetapi sesungguhnya masih dapat dielaborasi lebih lanjut. Dalam sebuah kalimat tidak diperkenankan ada konjungsi ganda seperti 'kalau…maka' seperti di dalam tulisan Anda. Bentuk 'misalnya' tidak dapat digunakan untuk mengawali kalimat karena hakikatnya adalah konjungsi intrakalimat.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Tidak terdapat sub-sub topik pembahasan.
        • Kurang ada penjelasan tentang "when" dan "where?"
        • Sudah sedikit variatif dengan menyebutkan tiga contoh.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Kurang lengkap. Hanya membahas rahasia jabatan dokter, harusnya dibahas bbrp jabatan lain spt jurnalis dll.
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan dan bahasa cukup baik.
        • Fokus perlu diperluas, sebab rahasia jabatan tidak hanya menjadi isu di kalangan pendeta, tp juga rohaniwan/wati lainnya secara umum.
        • Bandingkan dg versi bhs Inggris yang membahas isu ini secara mendalam dan luas.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pembahasan terkesan kering sekali. Tidak memberikan pemaparan yang komprehensif seputar topik yang diangkat. Tumpangtindih bahasan dalam 1 alinea
        • Saran: Gunakan 5w1H untuk melengkapi pemaparan topik. Berikan kata padanan "rahasia jabatan" dalam bahasa inggris atau teologi/filsafat atau dari asal dimana istilah tersebut pertama kali dipergunakan/muncul dalam kajian ilmu-ilmu sosial.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info minim, istilah-istilah kurang tepat
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perlu diungkapkan aspek hukum atas pelanggaran rahasia jabatan.
        • Gunakan kalimat efektif.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Perlu dikembangkan lagi agar lebih informatif
  10. BP23Hizkia
    • Teologi Perjanjian Lama
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Tampaknya ada bagian penting yang belum disertakan, yaitu mengenai bentuk atau isi teologi perjanjian lama itu sendiri.
        • Penggunaan kata-kata subjektif/tak netral seperti "kita" dan "perlu" sebaiknya dihindari.
        • Tata bahasa Indonesia perlu dicermati kembali. Bentuk "di mana" tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.
        • Penggunaan gambar Alkitab terkesan memaksakan karena artikel ini mengenai teologi perjanjian lama (saja) dan bukan teologi biblika.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian pembuka artikel terlalu pendek
        • Tidak disebutkan dengan jelas apa "isu-isu teologis" beserta contoh-contohnya yang dikaji oleh Teologi Perjanjian Lama.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, lengkap, insipiratif, sangat edukatif. Benahi tulisan Anda dengan bentuk-bentuk kebahasaan yang mendukung ketajaman isi tulisan. Bentuk 'mengkombinasikan' sekarang ini sudah harus diganti dengan 'mengombinasikan' sesuai dengan ketentuan morfofonemik yang berlaku. Kemudian bentuk korelatif 'bukan....tetapi' harus diganti dengan bentuk 'bukan...melainkan'.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa sudah bagus, namun sebaiknya dikaitkan atau dibandingkan dengan sedikit penjelasan tentang perjanjian baru.
        • keterangan 5WH "waktu dan bagaimana" sebaiknya ditambahkan.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik, bahasa cukup baik.
        • Isinya seperti mengandung hasil penelitian pribadi. Karena itu saya tidak bisa memberikan nilai yang tinggi untuk tulisan ini.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pembahasan sudah cukup baik. Hanya saja perlu pengayaan dan pendalaman wacana.
        • Saran: Berikan pandangan beberapa kritikus terhadap teologi perjanjian lama, dan bagaimana respons gereja pada saat ini. Up date informasi mutakhir perlu disampaikan berkaitan dengan tema yang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • terlalu banyak istilah teknis, bahasa perlu diedit
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Aspek teologi sebagiknya dikupas secara mendalam.
        • Gunakan kalimat yang efektif, tidak terlalu panjang.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  11. BP24Lidia
    • Antonie Aris van de Loosdrecht
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Pasti salah ketik: Pada bulan Mei 1997 Beliau membaptis 29 orang?
        • Penulisan ejaan perlu dicermati kembali.
        • Gaya bahasa artikel ini kurang ensiklopedis dan seperti cerita.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Sumber rujukan terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus,lengkap, bahasanya cukup akurat. Teruskan dengan model menulis yang demikian ini. Selalu perhatikan kecermatan aspek-aspek kebahasaan, termasuk silakan selalu up date dengan ketentuan-ketentuan kebahasaan yang selalu berdinamika baru.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa mengalir dan jelas.
        • kelengkapan 5 WH yang memadai.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan bagus, menggunakan bahasa yang baik.
        • Nama Antonie Aris van de Loosdrecht tidak usah ditulis lengkap terus-menerus. Hal ini agak mengganggu dalam membaca. Cukup menuliskan nama keluarganya saja.
        • Wikifisasi tanggal-tanggal keliru, sehingga muncul merah. Begitu pula wikifisasi "Bujang" keliru, sehingga yang keluar artikel yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Kajian bernuansa historis. Belum ada tinjauan kritis dari uraian yang disampaikan.
        • Saran: Berikan pendekatan historis-kritis terhadap data yang saudara sampaikan. Perkaya dengan pendapat-pendapat mukhtahir berkaitan dengan tema yang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • ok
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  12. BP25Vanya
    • Teologi kontekstual
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian pembuka kurang merangkum isi artikel.
        • 5W1H: "how" dan "why" kurang dijelaskan. Bagaimana teologi kontekstual dirumuskan? Mengapa teologi kontekstual digunakan?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka terlalu singkat
        • Kalimat-kalimat dalam artikel hanya berupa poin-poin singkat yang tidak memperkaya informasi.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Bagus, lengkap, menarik, inspiratif, edukatif. Pertahankan kecermatan kebahasaan Anda karena kecermatan dan keakuratan pemakaian bentuk kebahasaan pasti akan mendukung kejelasan penyampaian ide atau gagasan. Hati-hati dengan pemakaian bentuk 'baik…dan' karena bentuk yang benar sesungguhnya adalah 'baik...maupun'.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa yang terbatas karena kurang menguraikan sub bagian
        • Kurang lengkap menerangkan 5 WH.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Lebih menekankan pada paparan tentang teologi kontekstual, bukan hanya menceritakan tokoh-tokohnya
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik. Bahasa Indonesia juga baik. Dalam artikel yang singkat penulis berusaha menjelaskan apa teologi kontekstual itu. Namun sebetulnya pada beberapa bagian, penulis dapat mengembangkan uraian lebih dalam untuk memperkenalkan para tokoh teologi ini.
        • Perlu diperhatikan beberapa kesalahan ketik spt. "Choang Seng Song" "teologi kerbau" Koyama yang sebetulnya berasal dari judul bukunya, dan kurang tepat kl disebutkan sebagai ciri teologinya.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik:Penjabaran istilah teologi kontekstual belum maksimal. Pemaparan masih kering dari analisis historis dan bobot kontekstualnya.
        • Saran: Perkaya bacaan untuk memaksimalkan pembahasan. Berikan contoh pada tiap model teologi dan pengaruh para tokoh yang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • serba pendek infonya, tapi cukup komprehensif
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan kepaduan kalimat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  13. BP27Yohannes
    • Zygmunt Bauman
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Keterbacaan kurang: paragraf pembuka kurang merangkum apa kontribusi utama tokoh ini pada bidangnya, jadi orang harus membaca seluruh artikel dahulu. Bagian riwayat hidup dapat dilengkapi lagi.
        • 5W+1H: "when" sangat kurang (riwayat hidupnya tidak disertai tahun-tahun penting, pemikirannya tidak disertai tahun pencetusannya)
        • Kurang netral: "tokoh Eropa yang paling berpengaruh di bidang sosiologi". Menurut siapa dia tokoh yang paling berpengaruh? Apakah semua ahli di bidangnya sepakat bahwa dia satu-satunya tokoh paling berpengaruh?
        • Bagian "Postmodernisme" cenderung menggunakan gaya bahasa subjektif (tidak netral): "hadir untuk menjawab…", "…sebenarnya…", dsb.
        • Ejaan yang baku adalah "objek", bukan "obyek".
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka terlalu singkat
        • Bagian Riwayat Hidup terlalu singkat
        • Isi artikel terlalu fokus pada pemikiran Zygmunt Bauman daripada Zygmunt Bauman sendiri.
        • Tidak disebutkan dengan jelas bagaimana pemikiran Zygmunt Bauman kemudian membuat Bauman menjadi "tokoh Eropa yang paling berpengaruh di bidang sosiologi."
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, cukup lengkap. Bentuk idiomatis 'disebabkan oleh' tidak pernah boleh dipotong menjadi 'disebabkan', juga dalam pemakaian media. Bentuk 'obyek' dan 'obyektivitas' tentu salah karena tidak sesuai dengan kaidah penyerapan dalam bahasa Indonesia. Bentuk yang benar adalah 'objek' dan 'objektivitas'.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Pemilihan diksi yang kurang tepat, seperti: sekarang.
        • 5 Wh perlu dijabarkan lagi.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • tambahkan zygmunt Bauman lebih detail di awal
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik. Bahasa Indonesia baik.
        • Artikel cukup komprehensif dan lengkap.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Tulisan Bauman sebenarnya bukan hanya milik teologi/filsafat tetapi juga ilmu-ilmlu sosial yang lain termasuk cultural studies. Pertarungan pemikiran dalam posmodernisme perlu dielaborasi lagi.
        • Saran: Perkokoh analisis dengan menambah pergulatan diskursus posmodernisme kontemporer yang belakangan sering dihujani kritik karena dianggap tak punya basis teori yang mapan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • ringkas dan padat
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Apakah ada informasi pengaruhnya terhadap perkembangan ilmu sosiologi di Indonesia ?
  14. BP34Itang
    • Budaya Maluku
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas. Apakah budaya Maluku hanya terbatas pada 7 hal yang ditulis dalam artikel ini? Saya yakin tidaklah demikian. Bagaimana dengan, misalnya, musik, bahasa, dan agama di Maluku?
        • Budaya yang dibahas sebaiknya dikategorikan, misalnya berdasarkan daerah geografi atau berdasarkan jenis budayanya.
        • Ada istilah yang tidak dijelaskan artinya: "soa", "siri sori".
        • 5W1H: bagian "when" dan "what" kurang dijelaskan. Kapan berbagai kegiatan budaya ini dilakukan? Apa saja jenis budaya Maluku?
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu diperbaiki. Bentuk "dimana" tidak dikenal dalam bahasa Indonesia.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel sporadis dan tidak terorganisasi dengan baik
        • Beberapa kalimat dalam artikel mengutip mentah-mentah dari sumber rujukan
        • Isi artikel tidak sesuai dengan rujukan yang diberikan. (Isi mengenai Budaya Arumbae, namun diberi rujukan yang menceritakan tentang Batu Pamali - Ref.9)
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
        • Ini akan banyak dicari oleh pelajar (terutama SD dan SMP)
        • Cara penulisnya mudah dimengerti dan lengkap.
        • Lebih bagus lagi kalau dilengkapi.
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Cukup bagus, tetapi kurang ekstensif. Dapat dilengkapi dengan aspek-aspek budaya lainnya. Dari sisi kebahasaan, 'bentuk 'maupun' tidak pernah digunakan sendirian. Gunakan bentuk idiomatis 'baik…maupun'. Bentuk 'di' digunakan bersama dengan tempat, bukan dengan waktu. jadi bentuk 'di tahun' pasti salah.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasanya menarik dengan gaya bercerita.
        • Namun, kurang lengkap penjelasan 5 WH.
        • Nilai objektif cukup netral dengan memberikan dua contoh nyata masyarakat Islam dan Non-Islam.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah baik
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup baik, bahasa yang digunakan juga baik.
        • Artikel cukup komprehensif.
        • Wiki bahasa Inggris dibuat oleh penulis sendiri.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Secara umum sudah baik. Tetapi perlu diperkaya dengan kajian mutakhir terhadap budaya maluku. Terutama pasca-konflik Ambon.
        • Saran: Paparan perlu disistematisasi ulang dengan memperhatikan kesinambungan antara pembahasan sebelumnya dengan topik-topik yang dibahas berikutnya.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info OK, bahasa buruk
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Gunakan kalimat efektif.
  15. BP36Vanessa
    • Laju endap darah
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan sehingga mempersulit pemahaman.
        • Internal nilai normal uji LED sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf
        • Ejaan dan penggunaan spasi perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu singkat dan perlu dikembangkan lebih lanjut
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
        • ini pasti akan banyak dicari, terutama oleh pelajar (SD dan SMP)
        • Jadi, kala dilengkapi, pasti akan menarik sekali.
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, cukup lengkap, cukup akurat pemakaian kebahasaannya.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa cukup mengalir.
        • Perhatikan penulisan huruf besar dan kecil.
        • Masih terdapat salah ketik.
        • Kurang lengkap 5 WH
        • Masih seperti bahasa akademik kedokteran.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah baik, tapi masih banyak istilah-istilah yang terlalu teknis
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup baik dan lengkap. Bahasa Indonesia pun baik.
        • Agak mengganggu ketika penulis menggunakan tanda dash ( - ) di antara spasi, sehingga tulisan menjadi begini: "sel - sel"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pemaparan masih terkesan kurang elaborasi terhadap tema yang diangkat.
        • Saran: Diperkaya dan diperluas pembahasannya dengan memperhatikan 5w1h agar terangkai pemaparan yang lebih komprehensif, mutakhir dan kontributif bagi siding pembaca yang lebih luas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • ringkas padat
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Akan lebih informatif ditambahkan prosedur bagaimana jika orang awam akan melakukan pengecakan LED (lokasi, biaya)
  16. BP39Candra
    • Sosial ekonomi
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas; struktur sosial ekonomi, keadaan sosial ekonomi?
        • Cakupan artikel tidak jelas; judulnya umum, tetapi isinya terutama tentang Indonesia.
        • Definisi tidak perlu per kata, melainkan definisi konsep.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu singkat
        • Isi artikel hanya berupa poin-poin tanpa ada penjelasan lebih lanjut
        • Sumber rujukan sangat terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Tulisan terlalu sederhana dipandang dari prinsip 5W + 1H
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Kurang lengkap, bisa dibuat lebih ekstensif dan lebih mendalam
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur materi masih berupa poin per poin.
        • Kurang media/gambar
        • Subjektivitas sukup memadai.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • tambahkan kondisi di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Definisi "sosial ekonomi"yang diberikan penulis berbeda dengan apa yg saya temukan dlm Wikipedia Inggris dan Spanyol. Apakah definisi di Indonesia memang beda?
        • Artikel ini mencampurkan antara "sosial ekonomi" secara umumdengan kondisi sosial ekonomi di Indonesia.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pemaparan terlalu singkat, padahal tema sosial ekonomi terbilang paling luas di dalam ensiklopedi ilmu-ilmu sosial.
        • Saran: Perkaya pemaparan tema terkait dengan memperhatikan 5w1H, sehingga data yang didapatkan tidak terkesan kering dan monoton. Perbanyak referensi terkait tema yang dibahas. Sistematisasikan pembahasan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi ok, alur tak enak
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penentu tingkat ekonomi seseorang harus diungkap secara jelas.
        • Gunakan kalimat efektif.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  17. BP40Erlita
    • Peaky Blinders
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Terlalu banyak daftar, poin, dan statistik. Wikipedia bukan tempat untuk menaruh data.
        • Penulisan format perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Beberapa pranala tidak diwikifisasi dengan benar [[Bar (tempat)}bar]]; [[Amerika Serikat}Amerika]]
        • Paragraf pembuka kurang komprehensif merangkum isi artikel secara keseluruhan
        • Perlu disambiguasi judul artikel untuk membedakan antara Film Seri Peaky Blinders dengan Geng historis Birmingham Peaky Blinders sendiri.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Perhatikan warna kebahasaan yang Anda gunakan, kalimat jangan terlalu panjang, jangan gunakan kata tidak standar seperti nampak, dan lain-lain.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur cerita menarik dan mengalir.
        • 5Wh perlu ditambahkan.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Jelaskan bukan per episode tetapi bagaimana pengaruhnya pada masyarakat. Jika memungkinkan kepada masyarakat Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan cukup baik. Artikel menarik. Lebih lengkap daripada versi Inggris.
        • Namun interwiki keliru, sbb dihubungkan ke Peaky Blinders seb. Gang kejahatan di Inggris.
        • Beberapa kesalahan wikifisasi sept. "akuntan", "bar".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Pemaparan cukup baik dan mengalir. Meski masih ada salah ketik. Respon dan kritik resepsi dari khalayak mestinya lebih dapat dielaborasi lagi.
        • Saran: Perkaya pemaparan tema terkait dengan memperhatikan analisis kritis dari para pengamat serial tersebut. Karena diangkat dari dunia gelap kerapkali seharusnya mendapat sorotan dan komentar yang luas dari khalayak. Perbanyak referensi aktual terkait tema yang dibahas. Sistematisasikan pembahasan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi dan alur ok
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perlu diungkapkan aspek manfaatnya.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  18. BP41Hillun
    • Teori penerimaan pesan
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Gambar tidak informatif karena tidak diberi keterangan gambar yang mencukupi.
        • Bentuk daftar/poin-poin sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • 5W1H; bagian "where" kurang. Di mana teori ini dikembangkan?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel terlalu singkat dan perlu dikembangkan lebih lanjut
        • Referensi terbatas dan kurang bervariasi
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel yang menarik, sayang terlalu dasar dan kurang contoh sehingga pembaca umum kesulitan untuk menangkap pesan-pesan pada naskah ini.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, tetapi masih dapat dibuat lebih ekstensif dan mendalam. Dari dimensi kebaruan, hal ini bukanlah yang sangat baru.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Contoh materi kurang sesuai dengan tema.
        • Lebih banyak menerangkan tentang perempuan dibanding decoding/encoding.
        • Kurang lengkap keterangan "when" dan "when?"
        • Substansi materi penting dan menarik.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Tambahkan lebih detail dengan kondisi sosial
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cuikup baik dan jelas. Bahasa baik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Teori resepsi ini sebenarnya sangat menarik terutama dalam ranah media and cultural studies, hanya saja tidak dimunculkan tokoh-tokoh penting yang ada di belakangnya.
        • Saran: Perkenalkan tokoh-tokoh yang pernah membahas tentang analisis resepsi dalam sejarah ilmu komunikasi. Bukankah tiga tipe penerimaan pernah dibahas oleh Hall, Morley dan Ang. Perkaya pemaparan Hillun.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi dan alur jelas
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Menurut saya sebagai orang awam masih tertalu rumit informasinya
  19. BP47Dhorifah
    • Bolshevik
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini ditulis menggunakan gaya cerita sehingga tidak ensiklopedis. Kronologi peristiwa tidak perlu dirinci satu per satu.
        • Pada paragraf pembuka, ditulis bahwa cikal-bakal partai ini di London, tetapi dalam bagian sejarah ditulis bahwa awal-mulanya di Brussel. Mana yang benar?
        • Sejumlah kata yang bersifat subjektif/tidak netral perlu dihindari: misalnya, "marah", "buru-buru", "tragis".
        • Keterangan gambar perlu diperbaiki; Lenin tidak ada di tengah foto, tetapi duduk paling kanan.
        • Tanpa keterangan, penggunaan gambar Bandeau marxisme.JPG tidak jelas fungsinya.
        • Penggunaan gambar Bolshevik Island.svg dengan keterangan "wilayah kekuasaan
        • Bolshevik" sama sekali tidak tepat karena gambar tersebut hanya merupakan gambar pulau dengan nama Bolshevik.
        • Keterangan gambar "Para tahanan Bolshevik" dan "Keadaan Petrograd waktu itu" perlu penjelasan lebih lanjut. Tahanan Bolshevik di mana? Kapan? Keadaan Petrograd waktu kapan?
        • Penggunaan spasi dan ejaan perlu dicermati kembali.
        • Terlalu banyak wikifikasi.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Kalimat-kalimat dalam artikel tidak tertata baik dan sulit dicerna
        • Paragraf pembuka terlalu singkat dan tidak merangkumi isi artikel secara keseluruhan
        • Artikel hanya membahas Bolshevik pada awal masa sejarahnya tanpa membahas kelanjutan sejarah Bolshevik hingga masa Uni Soviet dan modern.
        • Sebagian isi artikel terlalu fokus pada Lenin daripada gerakan Bolshevik secara keseluruhan.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, cukup lengkap, menarik, edukatif sekali. Gunakan bentuk-bentuk kebahasaan yang cermat karena tulisan Anda akan mengedukasi banyak orang. Jangan sampau publik diedukasi dengan wahana kebahasaan yang tidak bagus.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur kalimat mengalir dan lancar.
        • lengkap menyebutkan ke 5 Wh.
        • Subjektif dan netral
        • terdapat satu kelasahan ketik.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah baik
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, cukup lengkap, bahasa baik.
        • Kesalahan kecil dalam interwiki "Finlandia",
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik: Terlalu membebek pada data sejarah, tidak berusaha menambahkan kritik pada teks yang sedang dipaparkan.
        • Saran: Paparkan analisis kritis dari para komentator tentang Bolshevik, sehingga paparan menjadi lebih komprehensif.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi,alur dan bahasa bagus
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Cermat dalam menulis sesuai dengai ejaan.
        • Kata penghubung pada awal kalimat digunakan dengan cermat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  20. BP48Fadhillah
    • Morfem
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Kalimat terakhir bagian pembuka tidak dapat dipahami.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia, spasi, dan ejaan perlu dicermati kembali. "Di antara", bukan "diantara"!
        • Bagian identifikasi morfem kurang ensiklopedis dan lebih seperti buku pelajaran. Artikel ensiklopedia bersifat deskriptif netral, tidak berusaha berinteraksi dengan pembacanya.
        • Morfologi (bidang yang mempelajari morfem) seharusnya disebut juga.
        • 5WH1: bagian "when" dan "who" sangat kurang. Bagaimana sejarah konsep morfem? Siapa pencetusnya?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel tidak ditulis secara ensiklopedis
        • Isi artikel terbatas dan kurang dikembangkan dengan baik
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Tulisan menarik, namun sayang, penulis justru membuat kesalahan fatal pada penulisan beberapa kata, misalnya 'diantaranya' yang mestinya ditulis 'di antaranya'
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Sesungguhnya bahan bagus, tetapi tidak ada kebaruan. Buku-buku linguistik hampir semuanya telah menuliskan apa itu morfem. Sebagai penulis di bidang linguistik, Anda harus sangat cermat menggunakan linguistik untukmen jelaskan linguistik itu sendiri. Itulah fungsi metalingual linguistik. Jangan sampai Anda menjelaskan lingistik, tetapi banyak kesalahan dari dimensi metalinguistiknya. Selamat belajar terus ya....
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa lugas tapi agak terbatas
        • 5 WH juga terbatas
        • Tidak ada kesalahan ketik.
        • Pemilihan kata yang tepat.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa cukup baik
        • perhatikan penggunakan kata "di" sebagai awalan dan "di" sebagai kata depan.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Kritik dan saran: Tulisan sudah memberikan aspek keutuhan dan contoh pada masing-masing pembahasan. Hanya perlu dielaborasi lebih dalam tentang contoh-contoh yang lain yang memungkinkan "morfem" mendapat pandangan yang lain dari para analisis atau kritikus bahasa.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi tak jelas
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Kata penghubung pada awal kalimat digunakan dengan cermat.
        • Gunakan kosakata baku.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  21. BP49Khoirur
    • Kode etik jurnalistik
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas; judulnya bersifat umum, tetapi isinya khusus Indonesia.
        • Penulisan dalam bentuk daftar/poin-poin sebaiknya dibuat dalam bentuk paragraf.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat dan tidak merangkum isi artikel secara keseluruhan
        • Isi artikel hanya terbatas pada kode etik jurnalistik Indonesia dan tidak menyentuh kode etik jurnalistik secara global dan umum
        • Isi artikel berupa poin-poin kalimat yang tidak mengalir dengan baik
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Kurang inspiratif karena kurang ada dimensi kebaruannya. Ihwal kode etik jurnalistik sudah banyak dipublikasikan. Mungkin baik karena yang ditulis dipilih yang memiliki dimensi 'novelty' lebih baik lagi supaya lebih menginspirasi pembaca.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur cerita kurang lancar.
        • Terdapat pengulangan kata, seperti: hukum yang berlaku.
        • Kurang gambar untuk merangsang pembaca.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • dibuat lebih detail tentang kasus-kasus yang pernah terjadi di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup baik, bahasa pun cukup baik, namun artikel ini mengandung kekeliruan yang cukup fatal. Penulis mengatakan bhw kata "kode" di sini berhubungan dengan "sandi" dalam bhs Inggris, padahal mestinya "kode" di sini dimaksudkan sebagai "hukum" atau "undang-undang". Bdk. Mis. Codex Justinianus.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Tulisan belum mewakili beberapa kasus pelanggaran kode etik jurnalistik yang belakangan marak terjadi di Indonesia. Misalnya bagaimana wilayah jurnalis infotainment mesti ditempatkan? Sebagian wartawan menolak disamakan dengan jurnalis infotainment.
        • Perkaya bacaan Saudara. Berikan ilustrasi yang menarik dan paparan yang tidak monoton berkaitan dengan seluk beluk dan sanksinya jika kode etik itu dilanggar. Karena banyak pelanggaran yang kemudian dibiarkan begitu saja.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • ada pengertian dasar yang tidak tepat
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  22. BP50Asep
    • Fiksi
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Banyak poin/daftar yang seharusnya bisa ditulis sebagai paragraf.
        • Banyak salah pengetikan, termasuk spasi.
        • 5W1H: bagian "when" dan "where" sangat kurang. Bagaimana sejarah fiksi secara umum? Di mana karya fiksi dapat ditemukan?
        • Bagian pembuka kurang merangkum isi artikel.
        • Gambar ilustrasi tokoh dan latar sama sekali tidak mengilustrasikan yang dimaksud.
        • Terlalu banyak kata/frase yang dicetak tebal.
        • Bagian Sejarah Perkembangan Karya Fiksi di Indonesia tidak pada tempatnya karena artikel ini membahas fiksi secara umum.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel tidak ditulis secara ensiklopedis tetapi seperti buku teks.
        • Beberapa sumber rujukan hanya berupa slide powerpoint
        • Beberapa kalimat tidak memiliki sumber rujukan yang sesuai dengan klaim kalimat tersebut.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Tulisan menarik, tetapi sayang karena penulis yang seharusnya memahami tata cara penulisan dengan baik tetapi tidak melakukannya. Misalnya, penulis tidak bisa membedakan cara penulisan kata depan dengan awalan. Sayang sekali.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Aspek-aspek kebahasaan kurang diperhatikan oleh penulis. Banyak aspek kebahasaan yang tidak ditulis secara cermat. Penulisan 'pun' misalnya saja, harus mendapatkan perhatian yang lebih oleh penulis. Dimensi kebaruan dari tulisan ini juga kurang karena hanya menyampaikan sesuatu yang sudah banyak ditulis di media publikasi, khususnya buku referensi dan buku ajar.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa mengalir, menarik, dan "humanities."
        • Lengkap unsur 5 WH.
        • Mohon perhatikan tanda baca yang benar.
        • Masih terdapat salah ketikan.
        • Bersifat universal dan tidak subjektif
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa pun baik. Cuma, kenapa di tengah-tengah pembahasan tentang fiksi tiba-tiba muncul sub-bagian "Sejarah fiksi di Indonesia"? Mestinya bagian ini diletakkan agak ke bawah, setelah selesai memberikan penjelasan apa itu fiksi.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Secara umum pemaparan saudara sudah cukup baik. Sudah berani memaksimalkan berbagai komponen pembahasan berkaitan dengan tema "fiksi" yang dibahas.
        • Pandangan kritis saudara dapat dituangkan dalam pembahasan tersebut, tentunya dengan sentuhan yang elegan dan lebih mencerahkan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi dan alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Kesatuan gagasan harus ditata dengan baik, baik dalam kalimat maupun paragraf.
        • Kalimat yang digunakan harus efektif.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  23. BP51Kurnia
    • Ideologi penerjemahan
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bentuk daftar/poin-poin sebaiknya ditulis sebagai paragraf.
        • 5W1H: bagian "when", "who", dan "where" sangat kurang. Bagaimana sejarah ideologi penerjemahan? Siapa pencetus teorinya? Di mana teori tersebut dicetuskan?
        • Gambar yang digunakan sama sekali tidak informatif karena tidak bisa menunjukkan apa yang tertulis pada keterangan gambar.
        • Kelebihan dan kekurangan bersifat relatif dan tidak netral. Sebaiknya ditulis bahwa kelebihan dan kekurangan ini merupakan pendapat siapa.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka terlalu pendek dan tidak merangkumi artikel secara keseluruhan
        • Isi artikel mayoritas berupa poin-poin kalimat
        • Isi artikel tidak ensiklopedis tetapi seperti buku teks
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Bahasa naskah terlalu sulit dicerna oleh pembaca umum, terutama karena minimnya contoh.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Inspiratif, tetapi perlu lebih diperdalam lagi. Aspek-aspek kebahasaan yang digunakan cukup baik dan akurat. Teruskan berkarya ya….
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa kurang berkembang, tetapi dapat dimengerti.
        • 5 WH sangat terbatas
        • Minim Referensi.
        • Pemilihan kata masih terpaku dalam bahasa akademik.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • kurang memberi contoh kasus
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel sudah cukup baik. Bahasa Indonesia juga baik. Tapi mengapa penulis seolah-olah hanya membayangkan penerjemahan dari bhs Inggris ke bhs Indonesia dan sebaliknya? Bukankah bisa saja terjadi dengan bahasa2 asing? Dengan demikian, artikel ini kurang memenuhi syaratnya yang ensiklopedik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pembahasan masih monoton dan kurang memberikan keluasan pandangan dalam pemaparannya.
        • Berikan pengayaan wacana di balik ideologi penerjemahan yang kompleks dan rumit. Berikan pula contoh-contoh terjemahan di Indonesia berkaitan dengan tema yang dibahas, kalau perlu dengan pembahasan yang lebih komprehensif.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi dan sistematika ok, tapi ada istilah yg kabur
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif.
        • Gagasan diungkapkan dengan kalimat pendek.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  24. BP52Nurdin
    • Psikologi agama
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian Agama dan Kesehatan Mental terkesan mengklaim tanpa bukti. Seharusnya dijabarkan bagaimana agama berkaitan dengan kesehatan mental, disertai dengan bukti dari hasil penelitian ilmiah.
        • Definisi tidak perlu per kata, tetapi definisi konsep. Begitu pula untuk sejarah, tidak perlu membahas sejarah agama, tetapi langsung sejarah psikologi agama.
        • Gelar tokoh tidak perlu ditulis karena bisa berubah.
        • Penulisan dalam bentuk poin-poin/daftar perlu dibuat dalam bentuk paragraf.
        • Kenetralan artikel ini tampaknya kurang karena hanya membahas manfaat agama bagi psikologi; bagaimana dengan kerugian agama bagi psikologi (misalnya akibat kekerasan atas nama agama, dsb.)?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel tidak terorganisasi dengan baik
        • Gaya bahasa artikel kurang ensiklopedis
        • Rujukan yang ada tidak merujuk secara langsung sesuai dengan klaim kalimat. "Menurut Robert H. Thouless…", "Harun Nasution merunut…", "Emile Durkeim…" "...menurut Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor" dsb. Tetapi tak ada satupun rujukan yang merujuk pada penulis tersebut melainkan merujuk pada penulis yang kemudian merujuk pada rujukan tersebut.
        • Sumber rujukan terlalu tergantung pada beberapa jumlah rujukan yang terbatas saja
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Sangat bagus, sangat ekstensif. Pertahankan penyampaian gagasan Anda yang sudah cukup bagus dan rapi demikian ini. Jaga jangan sampai ada kesalahan dalam menggunakan bahasa sebagau wahana penyampaian pemikiran dan gagasa Anda.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Materi runut dan mengalir ke sub bagian.
        • penjelasan Siapa dan Bagaimana berkaitan.
        • Perlu penambahan gambar.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup menarik, tapi ada banyak sekali kesalahan penulisan khususnya untuk bahasa asing, mis. The Varietes of Religion Experience, mestinya The Varieties…atau An Introduction on thr Psycology of Religion, mestinya… the Psychology of…. , the Religius Conciusness, mestinya…the Religious Consciousness, dan Revelation of Devine Love mestinya Revelation of Divine Love, Baghavad Gita, mestinya Bhagavad Gita. Kesalahan lainnya, Thomas van Aquino, Rusolf Otto, Fredrick Hegel, dll.
        • Penulis juga menyatakan, "Sebagaimana telah diketahui bahwa psikologi agama …." Dalam ensiklopedi pernyataan seperti ini tidak boleh dibuat.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Sebenarnya pemaparan sudah lumayan baik, tetapi referensi masih kurang. Melihat latar belakang penulis, mestinya dapat diperkaya dengan tokoh-tokoh Muslim kontemporer baik dari Arab maupun Indonesia untuk melengkapi teori-teori Barat/Kristen yang telah ada lebih dulu.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi dan referensi lengkap, alur ok
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif.
        • Hindari kalimat terpenggal.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  25. BP53Reza
    • Pemerolehan bahasa kedua
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • 5W1H: bagian "where" sangat kurang, sementara bagian "when" dapat dilengkapi lagi. Misalnya, pada bagian sejarah perlu disebutkan di mana dan tahun berapa Corder dan Selinker menerbitkan karya mereka.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu dicermati kembali. Bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk "di mana".
        • Keterangan gambar ilustrasi interbahasa dan prosesi informasi bahasa perlu ditambah agar pembaca langsung dapat memahami konsepnya tanpa harus membaca teks artikel.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel tidak ensiklopedis melainkan cenderung instruktif seperti buku teks.
        • Beberapa sumber rujukan dari situs web tidak ditulis dengan format yang benar.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • sangat bagus, sangat lengkap, inspiratif untuk para pembelajar dan pengajar linguistik terapan. Silakan diperkaya dengan artikel-artikel jurnal mutakhir supaya lebih berkadar 'novelty' yang lebih prima. Pertahankan bahasa Anda yang sudah cukup rapi.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa natural dan jelas.
        • Kelengkapan sumber 5 WH yang luas.
        • objektif dan tidak memihak unsur tertentu.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Bahasa baik, artikel baik cukup lengkap dan menarik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas.
        • Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data, sehingga tidak hanya terkesan seperti ringkasan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi lengkap, alur bagus
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif.
        • Gunakan kata penghubung pada awal kalimat dengan cermat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  26. BP54Yonia
    • Taman Nasional Pangandaran
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini tidak jelas; taman nasional atau cagar alam Pangandaran?
        • Bagian sejarah sama sekali tidak membahas mengenai status taman nasional.
        • Biaya masuk merupakan informasi yang tidak ensiklopedis karena dapat berubah sewaktu-waktu sehingga tidak perlu disertakan dalam artikel.
        • Hindari penggunaan kata-kata yang subjektif/tak netral seperti "indah" dan "menarik". #*#*Indah dan menarik menurut siapa? Artikel ini jadi berkesan seperti iklan objek wisata.
        • Bagian pembuka perlu menyebutkan juga bahwa Jawa Barat terdapat di Indonesia. Lingkup Wikipedia adalah internasional.
        • Penulisan ejaan dan huruf besar perlu dicermati kembali.
        • Wikifisasi kurang.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat dan tidak merangkumi isi artikel
        • Beberapa kalimat artikel hanya berupa copy & paste dari sumber rujukan!
        • Artikel tidak ditulis ensiklopedis melainkan seperti artikel majalah untuk turis
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
        • Saya tidak mendapat info penting dari artikel ini, padahal kalau dibuat lengkap, akan menarik dan perlu sekali utk keperluan pariwisata
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Ide artikel ini cukup baik. Namun akan lebih baik jika penjelasan ditambah.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • inspiratif tetapi kurang lengkap dan kurang menarik. Bahasa yang Anda gunakan juga kurang mendukung penyampaian gagasan Anda.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa yang masih kurang jelas.
        • Kurang jelas 5 WH
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • kurang lengkap dengan hal-hal rinci seperti luas. Jarak dari kota terdekat
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa pun baik. Perlu diperhatikan kesalahan-kesalahan yang mengganggu seperti "dirubah", "semenjanung", "dogeng", "kedalamnya", dll.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Masih ada salah ketik. Kurang eksplorasi historis secara komprehensif. Diperlukan data yang lebih akurat untuk meyakinkan orang lain tentang posisi tempat itu. Hal sepele dapat disebutkan misalnya sekian KM darikota A, dsb.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info memadai, alur dan bahasa baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perlu diungkapkan aspek manfaatnya.
        • Ungkapkan pula langkah pelestariannya.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Informasi keunikan atau kekhasan dari taman nasional akan membuat lebih informatif
  27. BP57Daniel
    • Ekologi komunitas
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Saya tidak dapat melihat relevansi bagian "Suksesi ekologi" pada artikel ini.
        • 5WH1: bagian "who", "when", dan "how" sangat kurang; bagaimana sejarah teori ekologi komunitas? Siapa pencetus dan tokoh-tokohnya? Bagaimana cara mempelajari ekologi komunitas?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat dan tidak merangkumi isi artikel
        • Isi artikel masih terbatas dan dapat dikembangkan lebih lanjut
        • Sumber rujukan artikel terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini sebenarnya menarik, namun penjelasannya terlalu singkat dan kurang komunikatif.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Masih dapat diperluas kajiannya, diperkaya dengan sumber-sumber terbaru. Artikel-artikel jurnal erbaru mungkin lebih baik untuk memperkaya kajian Anda.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa seperti bahasa buku pelajaran.
        • Hanya menjelaskan tumbuhan/akademik.
        • Subjektif dari segi Biologi saja, kurang kaitannnya ke humanities.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • lengkapi dengan hal-hal yang terjadi pada saat ini
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, ditulis dengan baik dan dengan bahasa Indonesia yang baik pula!
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • isi lengkap, alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Nyatakan gagasan dengan kalimat efektif.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  28. BP59Febri
    • Penyakit Stargardt
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bentuk daftar/poin-poin sebaiknya dibuat paragraf.
        • Terdapat sejumlah jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mengurangi pemahaman.
        • Gambar yang digunakan sama sekali tidak mengilustrasikan hal yang dibahas di artikel. Seharusnya gambar berkaitan langsung dengan penyakit Stargardt
        • Bagian sejarah sangat kurang. Bagaimana penyakit ini ditemukan?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat dan tidak merangkumi isi artikel
        • Isi artikel terbatas dan dapat dikembangkan lebih lanjut
        • Beberapa istilah tidak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar: "ATP-Binding cassette", "Cell border","human embryonic stem cell",dll.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • bagus, edukatif dan inspiratif, berguna untuk masyakarat. Kajian masih dapat Anda perdalam dengan menggunakan sumber-sumber yang menyampaikan temuan mutakhir.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Uraian tulisan untuk setiap sub tema masih kurang.
        • 5 WH untuk "Dimana" masih belum jelas.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • lengkapi dengan solusi jika ada atau penecegahan
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, ditulis dengan bahasa Indonesia yang baik. Beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan: bukan "ahli oftalmologis", melainkan "ahli oftalmologi". Kesalahan tipografi" "pembentuka", "fluoresen" (bukan "fluoresein"),
        • Perlu penjelasan apa maksudnya "cohort3".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info memadai, alur dan bahasa baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Kepaduan gagasan diungkapkan secara lebih cermat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  29. BP60Fita
    • DNA komplemen
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mengurangi keterpahamannya.
        • Definisinya kurang lengkap; tidak semua cDNA dihasilkan dari PCR, contohnya cDNA retrovirus.
        • 5W1H: tidak ada bagian "when", "who", "where". Bagaimana sejarah penemuan cDNA? Siapa penemunya? Di mana ditemukan?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel terbatas dan dapat dikembangkan lebih jauh lagi.
        • Sumber rujukan artikel cukup terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini akan lebih menarik jika dilengkapi dengan sejarah dan perkembangan penelitian di bidang DNA komplemen ini.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Jangan gunakan kata-kata yang terlampau teknis sehingga membuat orang sulit memahami isinya. Terlalu singkat, kurang ekstensif, dan pasti juga kurang mendalam akhirnya. Kajian ini dapat Anda perkaya dengan mengakses sumber-sumber teraktual dari berbagai jurnal.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa masih menggunakan bahasa akademik.
        • 5WH perlu di tambah.
        • Masih ada pointer-pointer.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • lengkapi dengan kasus-kasus jika ada
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, ditulis dengan bahasa yang baik pula.
        • Ada kesalahan tipografi: "ke dalam", bukan "kedalam". "menggunakan", bukan "mengunakan".
        • Beberapa istilah teknis perlu diperjelas, spt. "screening", "reverse transcriptase", "eukariot".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • terlalu banyak istilah teknis yg tidak jelas
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
        • Hindari kalimat yang berbelit/terlalu panjang.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • banyak informasi bioteknologi yang kurang dipahami masyarakat awam
  30. BP61Marco
    • Gen reporter
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan sehingga mengurangi keterpahamannya.
        • Tampaknya artikel ini belum selesai ditulis karena bagian-bagiannya kurang lengkap. Bagian sejarah sangat kurang. Klasifikasinya hanya satu.
        • Teks dalam gambar sebaiknya diterjemahkan juga. Bila tidak mungkin di dalam gambar itu sendiri, terjemahan dapat diletakkan pada keterangan gambar.
        • 5W1H: bagian "why" dan "who" sangat kurang. Mengapa menggunakan gen reporter? Siapa penemunya?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel terlalu singkat
        • Sumber rujukan artikel cukup terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel yang menarik, namun masih bisa diperbaiki dengan menambahkan bahasan tentang kekuatan dan kelemahan penggunaan gen reporter ini.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Perdalam dan perkaya lagi tulisan Anda. Tulisan inspiratif menurut saya lebih baik kalau And alengkapi dengan referensi-referensi kajian dalam bidang serupa. Jangan lupa dimensi kebahasaan yang Anda gunakan.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Uraian materi masih terbatas di setiap sub tema.
        • 5 WH juga terbatas.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • berikan contoh kasus jika ada referensinya
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, namun ada beberapa kesalahan yg perlu diperbaiki.
        • Kata "penggunaan" diikuti dengan "digunakan". Mis. "Penggunaan gen ... pertama kali digunakan …"
        • Kata cat dalam "Gen cat mengkodekan …" harus dibuat italic supaya tidak dikira "cat" (dari kata "mengecat")
        • Tolong jelaskan arti "substrat".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • terlalu singkat dan banyak istilah teknis
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penggunaan kata harus lebih cermat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • banyak informasi bioteknologi yang kurang dipahami masyarakat awam
  31. BP62Stevanus
    • Seni bela diri campuran
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian berbentuk daftar/poin-poin sebaiknya ditulis sebagai paragraf.
        • Penggunaan spasi dan ejaan perlu dicermati kembali.
        • Perlu dipastikan apakah satuan bobot pemain untuk pembagian kelas menggunakan pon atau pound. Pon tidak sama dengan pound!
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus sekali. Lengkap informasinya. Pertahankan model berkarya tulis yang demikian ini. Perhatikan terus bentuk kebahasaan yang Anda gunakan sebagai wahana pemaparan gagasan anda.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Uraian jelas dan rinci.
        • Kelengkapan 5 WH juga tergambar jelas.
        • Natural dan tidak subjektif.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup baik dan menarik, namun ada banyak kesalahan tipografi. Contoh: "jaman" -> "zaman"; "disamping" -> "di samping"; "karnival" -> "karnaval" "professional" -> "profesional"; "menaklukan" -"menaklukkan"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pembahasan cukup baik. Dapat ditingkatkan lagi dengan memperkaya bacaan tentang tema persilangan yang sedang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info ringkas tapi komprehensif
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan diksi/pilihan kata yang tepat.
        • Gunakan kosakata baku.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Di Jepang, Di Brasil saya kira lebih baik cukup Jepang, Brasil
  32. BP64Arwanti
    • Pembangunan pertanian
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel ini terlalu sempit. Walaupun judulnya bersifat umum, lingkup yang dibahas sepertinya sangat terbatas untuk Indonesia. Selain itu, pembahasannya hanya bersifat teoretis dan tidak disertai contoh konkret, sejarah, statistik, dsb.
        • Penulisan terkesan asal-asalan: ada bagian yang berulang di kalimat pertama; penggunaan tata bahasa Indonesia kurang baik, begitu pula ejaan, huruf besar, spasi, dan tanda baca.
        • 5W1H sangat kurang. Siapa pihak-pihak yang terlibat dalam pembangunan pertanian? #*#* Di mana saja pembangunan pertanian dilakukan? Kapan pembangunan pertanian dilakukan?
        • Referensi sangat kurang, sangat terbatas pada pandangan tiga pihak saja.
        • Bagian "Syarat-Syarat untuk pembangunan pertanian" menggunakan kata yang cenderung subjektif (kurang netral): "perlu". Perlu menurut siapa?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu singkat
        • Sumber rujukan terbatas dan kurang variatif
        • Beberapa kalimat tidak ditulis dengan baik dan benar sehingga membingungkan pembaca.
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini akan menarik jika membahas juga tentang pembangunan pertanian di negara-negara lain, bukan hanya di Indonesia
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Ide bagus, tetapi kurang luas dan kurang mendalam. Sumber terkait yang disitir juga sangat kurang ekstensif. Coba cari sumber-sumber dari jurnal terbaru supaya Anda mendapatkan informasi yang terbaru. Perhatikan pemaragrafan artikel Anda, bisa sangat membosankan pembaca.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa kurang lancar.
        • Masih ada pengulangan kata-kata yang tidak penting. Seperti kata "untuk" dan "lalu."
        • 5WH kurang lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Lengkapi dengan referensi yang lebih luas, berikan contoh di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, tapi bahasa Indonesia kurang baik.
        • Kalimat ini tidak jelas: "Oleh A. T. Mosher di dalam bukunya Getting Agriculture Moving, bahwa prtanian, tehnologi, didalam
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan tema yang sedang dibahas. Dapat memanfaatkan berbagai literatur yang tersedia untuk memperkaya analisis data.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lumayan, alur dan bahasa buruk
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penulisan harus cermat.
        • Ungkapkan gagasan secara efektif dalam kalimat dan paragraf.
        • Gunakan diksi/pilihan kata yang tepat.
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  33. BP65Cicilia
    • Daun pepaya
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Definisi yang diajukan salah. Daun pepaya adalah daun dari tumbuhan pepaya. Mengenai kegunaannya, itu bukan definisi.
        • Penggunaan spasi perlu dicermati kembali.
        • Lingkup artikel ini sempit; judulnya bersifat umum, tetapi isinya sepertinya terbatas untuk lingkup Indonesia. Bagaimana penggunaan daun pepaya di luar Indonesia?
        • Penulisan dalam bentuk poin perlu dibuat dalam bentuk paragraf.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel hanya membahas daun pepaya dari segi kuliner dan nutrisi
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Jika artikel ini ditambah dengan hasil-hasil penelitian tentang daun pepaya akan sangat bermanfaat
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • tidak ada dimensi kebaruannya. Banyak sekali sumber berbicara tentang obat-obatan herbal. Saya usulkan, buat kajian baru tentang envirolinguistik misalnya, jadi Anda mencari hubungan makna, nama, dan manfaatnya. Itu sekarang merupakan kajian interdisipliner baru dalam bidang linguistik. Saya juga baru mengadakan riset tentang envirolinguistik demikian itu.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Tulisan cenderung berupa pointer.
        • 5WH kurang lengkap
        • Netral dan rinci.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Sebutkan bagaimana tumbuh. Di iklim seperti apa, bagaimana ini diolah di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik dan cukup lengkap. Bahasa Indonesia baik
        • Kesalahan ketik "diantaranya", mestinya "di antaranya"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah lumayan, meski terkesan kaku. Perlu diperkaya dengan bacaan aktual tentang tema yang dibahas. Berikan contoh-contoh lain berkaitan dengan manfaat daun pepaya.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info bagus, alur dan bahasa baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Ungkapkan gagasan dengan kalimat efektif.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  34. BP67Risa
    • Asam eikosapentanoat
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan sejumlah jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mengurangi tingkat pemahamannya.
        • Cakupan artikelnya kurang; hanya membahas sumber asam eikosapentanoat. Bagaimana metabolismenya? Bagaimana cara sintetis kimiawinya? Bagaimana sejarah penemuannya?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel hanya membahas sumber asam eikosapentanoat tanpa membahas metabolisme, fungsi klinis, dan sifat kimia dan fisika zat tersebut secara komprehensif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel menarik, namun sayang kurang lengkap. Misalnya, siapa penemu pertama, sejarah penelitian, dan sebagainya.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus sekali, tetapi jangan jatuh pada pemakaian kata-kata yang terlalu teknis. Perluas lagi kajian Anda dengan temuan-temuan dari artikel jurnal terbaru.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa sudah mengalir dan runut.
        • Namun masih ada pointer yang mengganggu kelancaran membaca.
        • 5 WH masih kurang tergambarkan.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • jelaskan bagaimana di Indonesia. Terkandung apa saja yang ada di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik dan cukup lengkap. Bahasa Indonesia baik.
        • Ada kesalahan tipografi, contoh: "khususya" -> "khususnya"
        • saya tidak menemukan istilah ini "doksohesanoat"; apakah ini kesalahan ketik dari "oksoheksanoat"?
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan lumayan. Rujukan perlu perhatikan nama kota dan kelengkapannya. Perlu diperkaya dengan bacaan aktual tentang tema yang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • terlalu banyak istilah teknis
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif untuk mengungkapkan gagasan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  35. BP68Rizqi
    • Persilangan (biologi)
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini menggunakan sejumlah jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mengurangi tingkat pemahamannya.
        • Gambar utama artikel tidak ilustratif karena tidak jelas menunjukkan tanaman yang disilangkan.
        • Ada bagian berjudul Persilangan Manusia tetapi tidak dijelaskan di dalam teksnya.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel kurang komprehensif membahasa persilangan, melainkan hanya menjabarkan jenis-jenis persilangan
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel yang lengkap: bahasa, kelengkapan (video dan gambar), dan mudah dipahami
        • Video lebih baik jika disertai penjelasan
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Sangat bagus, mendalam, ekstensif, dan sangat inspiratif. Jangan sampai Anda jatuh pada kata-kata yang terlalu teknis. Gunakan juga bentuk kebahasaan yang baik danbenar sehingga menopang gagasan Anda.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa runut dan mengalir lancar.
        • Menjelaskan unsur 5WH.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • jelaskan kasus di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, sayang ada beberapa kesalahan tipografi: "mendel" -> "Mendel"; "diserbukki" -> "diserbuki"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pembahasan cukup baik. Dapat ditingkatkan lagi dengan memperkaya bacaan tentang tema persilangan yang sedang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info ok, alur dan istilah perlu dipercair.
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Gunakan pilihan kata dengan tepat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  36. BP69Tommy
    • Morfologi tumbuhan
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Keterbacaan artikel ini kurang karena ada sejumlah kalimat yang tidak dapat dipahami, mungkin akibat salah penerjemahan atau penggunaan tanda baca yang tidak tepat. Misalnya, "Perjalanannya ke Italia dilakukan secara bertahap konsep urpflanze dikembangkan dan dimodifikasi yang tercatat pada buku catatannya."
        • Penggunaan tanda baca sangat perlu dicermati kembali karena mengubah arti kalimat.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia dan ejaan perlu diperbaiki. "Ilmuwan", bukan "ilmuan"!
        • Relevansi penggunaan gambar Prunus serrulata Bluete Metamorphose20080421.jpg sebagai gambar utama artikel kurang jelas karena keterangan gambar yang sepertinya tidak berhubungan langsung dengan morfologi tumbuhan.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel cukup komprehensif, namun kurang menyentuh perkembangan modern kajian morfologi tumbuhan
        • Terdapat beberapa kesalahan minor dalam ejaan kata: "Ittalia"
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel yang ringan dan lengkap, tetapi masih ada beberapa penulisan kata yang kurang tepat. Penulis masih keliru pada beberapa bagian untuk membedakan cara penulisan untuk kata depan dan awalan
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Sangat bagus, lengkap, inspiratif. Referensi juga memadai sehingga menjadikan tulisan ini andal dan terpercaya. Pertahanan dimensi-dimensi kebahasaan yang Anda gunakan, jangan terlampai teknis kata-kata yang Anda gunakan. Perhatikan pemaragrafan Anda, jangan terlampau panjang dan membingungkan.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur bahasa ringan dan dimengerti.
        • 5 WH lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • jika ada contoh di Indonesia yang berbeda dengan negara lain akan lebih baik
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa Indonesia perlu mendapatkan perhatian lebih cermat: Kesalahan tipografi: "ilmuan" -> "ilmuwan"; "menunjukan" -> "menunjukkan"."klasisfikasi" -> "klasifikasi"; "dimanapun" -> "di manapun"
        • Pecahkan menjadi dua kalimat: "Pada tahun 1786 sampai 1788 Goethe melakukan … Pada saat itu pengetahuan …"
        • Gunakan tanda penghubung untuk "terus menerus"; "masing masing"
        • Kalimat ini tanpa subyek: "Jumlah bentuk tumbuhan yang tak terbatas mengakibatkan tidak akan pernah mungkin untuk memiliki istilah…"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Perlu dikembangkan dengan kajian mutakhir yang berkaitan dengan tema yang dibahas.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap, alur enak
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Ungkapkan gagasan secara padu dalam kalimat.
        • Gunakan kalimat efektif dalam penulisan.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  37. BP70Wildan
    • Qigong
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini terkesan bukan artikel ensiklopedia, melainkan petunjuk melakukan senam 8 gaya. Cakupan artikelnya sangat kurang, tidak membahas qigong dari segi ilmiah, jenis-jenis qigong, penggunaannya, dsb.
        • 5W1H: bagian "when", "where", dan "who" sangat kurang. Di mana qigong dilakukan? Kapan qigong dilakukan? Siapa yang mengembangkan qigong?
        • Penggunaan kata subjektif/tidak netral "harus" perlu dihindari. Harus menurut siapa?
        • Gambar yang dicantumkan ditulis sebagai buatan penulis sendiri. Saya meragukan hal ini karena subjek yang digunakan orang Barat dan tempatnya sepertinya bukan di Indonesia. Saya mencurigai adanya pelanggaran hak cipta gambar.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel kurang komprehensif
        • Bagian "Senam 8 Gaya" bersifat instruktif dan tidak ensiklopedis
        • Rujukan terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, cukup ilustratif dengan gambar-gambar yang kontekstual. Gunakan bentuk kebahasaan yang baik, cermat, sehingga yang membaca mendapatkan edukasi yang baik dari sisi materi maupun wahananya.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa kurang efektif, seperti: yang mana, dll.
        • Perlu penjelasan lebih lanjut untuk setiap gaya Qigong.
        • 5WH kurang lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • jelaskan bagaimana di Indonesia. Perkembangannya, gambar-gambar yang disesuaikan dengan kondisi indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa Indonesia cukup baik. Perhatikan penggunaan frasa "yang mana" yang tidak tepat. Contoh: "...yang mana harus senantiasa…"
        • Gunakan "Yang mana" untuk kalimat tanya.
        • Aturlah gambar-gambar dengan lebih baik, sehingga tidak menghasilkan banyak ruang kosong.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Punya latar belakang pertanian tetapi cukup berani membahas tentang ilmu yang sama sekali tidak berelasi dengannya, yaitu Qigong. Lumayan baik pemaparannya. Perlu diperdalam dengan kaitan tema itu dengan konteks Indonesia. Seberapa besar pengaruhnya dan bagaimana pemanfaatannya sampai hari ini.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info dan alur memadai
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
        • Nyatakan gagasan dalam kalimat secara efektif.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  38. BP72Zesy
    • Pertumbuhan tanaman
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian faktor pertumbuhan tanaman perlu dibuat dalam bentuk paragraf dan dijabarkan lebih lanjut.
        • 5W1H; bagian "who", "where", "when" sangat kurang. Bagaimana sejarah penelitian pertumbuhan tanaman? Siapa penelitinya? Dari mana?
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel seperti buku teks dan tidak ensiklopedis.
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini sangat menarik, namun akan lebih menarik jika dibuat lebih ringan--mungkin dengan cara menjelaskan lebih detil menggunakan bahasa yang ringan-- sehingga lebih mudah dipahami
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, tetapi jangan terlampau sulit dipahami pembaca. Hindari kata-kata teknis, atau setidaknya diperjelas dengan bentuk-bentuk kebahasaan yang umum sifatnya.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Tulisan di pointer sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • 5 WH cukup lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • pertumbuhan sesuai iklim akan lebih bagus menambah wawasan
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel cukup baik, bahasa Indonesia juga baik.
        • Ada beberapa kesalahan seperti berikut ini: Kesalahan wikifisasi pada [[hasil panen] "progressif" -> mestinya "progresif"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Tulisan masih terkesan monoton. Seperti meringkas. Coba eksplorasi lebih dalam tentang tema yang dibahas. Buku yang dirujuk jika berupa terjemahan, sebutkan nama penerjemahnya. Perlu diperkaya pembahasannya dengan contoh-contoh aktual.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info ok, istilah teknis masih perlu penjelasan
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan kepaduan kalimat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  39. BP75Jajang
    • Sality
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Bagian "penanganan" tidak ensiklopedis dan seperti buku petunjuk. Artikel ensiklopedia harus bersifat deskriptif dan tidak berinteraksi dengan pembaca.
        • Banyak salah ketik.
        • Penggunaan huruf miring untuk istilah asing perlu dicermati.
        • Bagian berbentuk daftar/poin-poin sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • Keterangan gambar Ilustrasi struktur virus Sality perlu diperbaiki; tidak ada bahasa Brazil, yang ada bahasa Portugis.
        • Artikel ini menggunakan terlalu banyak jargon yang tidak dijelaskan artinya sehingga mengurangi pemahaman.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel seperti instruksi troubleshooting dan tidak ensiklopedis.
        • Penggunaan istilah yang tidak benar dalam bahasa Indonesia: payload, trojan horse.
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Baru dan inspiratif. Ilustrasi juga sangat bagus. Materi sangat berguna dan mengudukasi masyarakat pembaca. Pertahankan bentuk kebahasaan Anda yang sudah cukup baik dan cermat ini. Jangan jatuh pada kata-kata yang sifatnya teknis.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Penjelasan sub bagian kurang memadai.
        • 5 WH kurang lengkap.
        • lebih banyak sub bagian dari pada esai/cerita materi.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, namun banyak kesalahan ketik dan kesalahan penggunaan bahasa. Contoh-contoh di bawah ini: "disuntikan", "tredeteksi", "menyuntikan" "Sality dikembangkan kembali menjadi skema penyebaran yang …", maksudnya? "dikembangkan dengan skema penyebaran…"? "diantaranya", mestinya "di antaranya" “Sality memiliki ciri khas dari virus lainnya".. Maksudnya "memiliki ciri khas yang berbeda dari virus lainnya…"? "Perlu diketahui"… tidak boleh digunakan dalam artikel ensiklopedik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Tulisan cukup menarik dan dapat memberikan rambu-rambu bagi para pengguna komputer dan internet agar berhati-hati dengan virus sality. Tetapi macam virus itu kan ribuan. Mestinya juga dapat menimbang posisi dan bobot virus sality dibanding dengan virus lokal lainnya. Perkaya dengan contoh-contoh korban dan pelaku pembuat virus. Mengapa dan apa motif mereka mengembangkan perbuatan demikian. Apakah tidak ada 'kamus' dosa dalam pengembangan virus, atau sudah dianggap hal biasa, dan sebagian menganggap sudah bagian dari pekerjaan.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap, alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan kesatuan gagasan dalam kalimat dan paragraf.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  40. BP77Miski
    • Imam Al-Haramain
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Konteks tokoh ini kurang jelas pada paragraf pembuka. Di mana dan kapan Beliau hidup?
        • Bagian pembuka seharusnya merangkum isi artikel.
        • Disebutkan bahwa tokoh ini kontroversial, tetapi tidak dijelaskan lebih lanjut mengapa dan bagaimana kontroversinya.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu dicermati kembali. Setiap kalimat hendaknya memiliki subjek dan predikat.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Gaya bahasa artikel menggunakan kata-kata yang subjektif
        • Bagian "Pemikiran" tidak dirangkum dengan baik
        • Format referensi tidak ditulis dengan benar
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, berguna, cukup mendalam dan ekstensif. Cermati bentuk kebahasaan yang Anda gunakan
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Mempunyai alur cerita yang konsisten/kuat.
        • Masih terdapat poniter-pointer.
        • 5WH yang jelas dan lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • tambahkan seperti apa pengaruhnya di Indonesia akan lebih baik
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel ini cukup baik dan menarik. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
        • Tolong perhatikan bahwa kata "sedangkan" adalah kata penghubung, jadi jangan digunakan pada awal kalimat.
        • Pada paragraf pertama mestinya sudah diperkenalkan kapan dan di mana tokoh ini lahir dan wafat, siapa orangtuanya, dll.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Dapat diperkaya dengan pendapat dari tokoh-tokoh Islam yang berasal dari Mu'tazilah atau Aswaja yang memberikan pendapat mereka terhadap tokoh yang diangkat. Posisi pemahaman sang tokoh terhadap qadariyah dan jabariyah dapat diulas lebih jauh. Dan beberapa kitab yang disebutkan sebenarnya mewakili aliran Islam yang mana dalam sejarahnya. Kalau bisa sebutkan juga pengaruhnya dalam sejarah keilmuan Islam di Indonesia atau kawasan Asia Tenggara.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap, alurdan bahasa kurang enak
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat yang efektif.
        • Hindariri kalimat panjang/berbelit-belit.
        • Penggunaan kata penghubung pada awal kalimat harus cermat.
        • Pengetikan harus cermat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  41. BP79Pandu
    • As'ad Samsul Arifin
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Keterangan bahwa Asembagus "yang pada saat itu masih berupa hutan belantara yang terkenal angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus" sangat tidak ilmiah dan subjektif. Apakah keterangan angker dan dihuni oleh banyak binatang buas dan makhluk halus tersebut benar-benar diperlukan untuk menggambarkan keadaan Asembagus saat itu?
        • Cakupan artikel ini kurang. Walaupun pada bagian pembuka ditulis bahwa Kiai As'ad merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, pada badan artikel sama sekali tidak dijelaskan kiprah Beliau di NU.
        • Bagian yang berupa daftar atau poin-poin sebaiknya ditulis dalam bentuk paragraf.
        • Bagian mengenai wasiat tidak ensiklopedis dan bersifat anekdotal. Apakah ada bukti tertulis bahwa Beliau memang menyatakan hal-hal tersebut?
        • Kenetralan gaya bahasa perlu diperbaiki. Hindari penggunaan istilah yang subjektif/tak netral seperti "ulama besar", "terkemuka", "masih melekat".
        • Hindari penggunaan referensi dari situs web yang tidak jelas tingkat ketepercayaannya. Sedapat mungkin gunakanlah referensi ilmiah seperti artikel jurnal ilmiah atau buku.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel kurang komprehensif membahas kehidupan As'ad Samsul Arifin:
        • Peranan di NU, Akhir Hayat, Pemikiran, dsb.
        • Sumber rujukan terbatas dan kurang variatif
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini akan menjadi lebih menarik jika ditambah informasi tentang dampak Kyai As'ad pada murid-muridnya, termasuk murid-muridnya yang menonjol.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Cukup lengkap, bermanfaat, cukup luas. Pertahankan bentuk-bentuk kebahasaan yang sudah bagus yang Anda gunakan untuk menyampaikan ide. Perbaiki juga sumber-sumber yang Anda acu, gunakan sumber-sumber terbaru dari jurnal-jurnal ilmiah yang tepercaya.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Cerita mengalir dan mempunyai alur cerita.
        • 5WH lengkap dan rinci.
        • Netral dan sederhana.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Berikan contoh dampak sosial yang positif pada masyarakat Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik dan menggunakan bahasa Indonesia yang cukup baik.
        • Beberapa hal perlu diperhatikan: nama kota "Mekkah", bukan "Mekah". Kata "sedangkan" adalah kata penghubung, jadi jangan digunakan sebagai awal kalimat.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Belum memaksimalkan data untuk eksplorasi lebih lanjut. Sangat ormas-sentris, penulis belum berani memberikan alasan mengapa, misalnya wasiat kyai harus menyebut ormas-sentris dan terkesan "mengintimidasi" dengan pendekatan teologis. Pemaparan kritis dan memadai dari penulis belum kelihatan. Perkaya pemaparan dengan menelusuri pendapat para pengamat dan kritikus tentang tokoh yang diangkat.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap, alur ok
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Penggunaan kata penghubung pada awal kalimat harus cermat.
        • Penulisan menurut ejaan yang benar.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  42. BP80Regenovia
    • Abnormalitas
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Judul artikel ini terlalu luas dan sebaiknya diganti menjadi "Perilaku abnormal" atau "Abnormalitas (psikologi)", sesuai dengan isinya.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu diperbaiki, begitu pula penggunaan huruf besar dan ejaan.
        • Keterangan gambar yang digunakan perlu dijabarkan lebih lanjut karena tidak semua perilaku abnormal dapat diwakili oleh gambar tersebut (misalnya dengan menjelaskan bahwa foto tersebut merupakan bagian dari seri fotografi yang dibuat oleh seorang ahli yang banyak terlibat dengan histeria dan perilaku abnormal lainnya).
        • Definisi dalam ensiklopedia tidak perlu dijelaskan dengan arti kata per kata, tetapi dijelaskan dengan arti konsep.
        • 5W1H: bagian "how" kurang dijelaskan. Bagian metode sebaiknya menjelaskan secara khusus bagaimana metode-metode tersebut digunakan dalam psikologi abnormalitas, bukan menjelaskan definisi masing-masing metode.
        • Referensi Spanos, 1978 sebaiknya disertakan, atau tidak disebutkan sama sekali karena sudah dikutip dalam referensi 1.
        • Ada istilah demonologi dan dematologi; apa bedanya?
        • Penggunaan kata yang subjektif/tidak netral: "kita" perlu dihindari.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Terdapat berbagai ejaan dalam artikel yang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar: "kareakteristik", "distress", "Hippocrates", "Dematologi""Kolerasi"
        • Sumber rujukan sangat terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini sebenarnya menarik. Sayang, penulis tidak mampu mengemasnya dengan baik. Istilah 'abnormalitas' tentunya berbeda dengan 'perilaku menyimpang' atau bahkan 'sakit jiwa'. Penulis sebaiknya memilih judul yang pas dengan tulisan.
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Lengkap sekali. Gunakan sumber-sumber terbaru dari jurnal-jurnal ilmiah yang terpercaya. Tulisan ini menurus saya sangat ekstensif dan layak untuk publikasi.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Alur cerita menarik.
        • Namun masih ada pointer di bagian tertentu.
        • Subjektif karena hanya dari segi definisi "abnormal" yang tradisional.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • cari data tentang berapa persen kemungkinan abnormal pada manusia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel menarik, namun ada banyak kesalahan tipografi dan penggunaan istilah teknis yang perlu dijelaskan. seperti: "mal adaptif" dan "self defeating".
        • Banyak tidak menggunakan huruf besar setelah kalimat yang ditutup dengan catatan kaki, seperti : "hasil"…. kemunculan…. "hubungan"… "contohnya…"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Buku-buku rujukan yang terjemahan belum ditulis dengan jujur, siapa penerjemahnya 6 buku rujukan merupakan buku yang berasal dari bahasa Inggris. Masih banyak salah ketik atau salah pemosisian tanda tulis. Perkaya lagi bahan bacaan dan pemaparan lebih eksploratif.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info memadai, alur dan bahasa baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan ejaan yang benar dalam penulisan.
        • Ungkapkan gagasan dengan kalimat yang efektif.
        • Hindari kalimat panjang agar tidak berbelit.
        • Hindari kerancuan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  43. BP82Alexander
    • Wayang Kampung Sebelah
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel ini tidak netral dan terkesan seperti iklan karena menggunakan sejumlah istilah yang subjektif seperti "menarik", "segar", "kelebihan". Menarik, segar, atau berkelebihan menurut siapa?
        • Bagian pembuka kurang menjelaskan konteks artikel, siapa penciptanya dsb.
        • 5W1H; "when" sangat kurang. Kapan acara ini dimulai?
        • Referensi yang digunakan kurang, terutama referensi kompasiana tidak dapat dipastikan keabsahannya karena ditulis oleh pembaca.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel terlalu singkat dan tidak komprehensif
        • Isi artikel cenderung promosional dan subjektif
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Artikel ini sebenarnya menarik, namun tidak ditulis secara lengkap. Ada baiknya jika penulis juga memberikan kritik pada penampilan WKS, terutama karena sifat hiburannya yang penuh dengan kritik sosial
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Inspiratif, tetapi kurang dikembangkan, kurang dikaji, sehingga kebermanfaatannya kurang.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Isi cerita penting dan menarik.
        • 5 Wh kurang lengkap, terutama dimana dan bagaimana.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Buat perbandingan dengan wayang lainnya jika tidak akan cenderung promosi program
        • Sebutkan tujuan dan kapan program itu mulai
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel bagus dan menarik. Namun ada banyak kesalahan penulisan kalimat karena tipografi, kalimat yang tidak mempunyai subyek atau obyek
        • Kesalahan tipografi/leksikal: "dibeberapa"
        • Kalimat ini tidak mempunyai subyek: "Selain itu yang membuat lebih menarik.."
        • Kalimat ini tidak mempunyai subyek: "Menjadikan Wayang Kampung Sebelah menarik untuk disaksikan dan menjadi digemari oleh masyarakat karena dikemas dengan ide pertunjukan wayang yang unik, …"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan masih terkesan kering. Uraian belum dapat memaksimalkan data yang ada dengan baik. Pemaparan spesifik misalnya tentang tema-tema apa saja yang pernah diangkat dalam pementasan wayang belum dieksplorasi lebih jauh. Juga resepsi khalayak yang diberikan ruang merespons juga tidak dipaparkan dengan terbuka.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info kurang memadai
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kalimat efektif dalam penulisan.
        • Perhatikan kepaduan gagasan.
        • Sebaiknya, kemukakan latar belakang pendririannya.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  44. BP84Timotius
    • Budidaya kakao
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Lingkup artikel ini terlalu sempit. Isinya seperti petunjuk berbudi daya kakao. Seharusnya dijelaskan juga misalnya statistik budi daya kakao di seluruh dunia, manfaat ekonominya, negara penghasil kakao, dsb.
        • Penulisan spasi perlu dicermati kembali.
        • Referensi yang digunakan terlalu sedikit (hanya 3).
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Secara praktis sumber rujukan hanya dua
        • Isi artikel tidak ensiklopedis, tetapi seperti buku instruksi budidaya tanaman
        • Artikel tidak komprehensif dan terlalu singkat
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
        • Tulisan kurang lengkap dan menarik
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, tetapi referensi Anda minim. Tulisan cukup inspiratif. Kajian kurang ekstensif. Gunakan sumber-sumber dari referensi terbaru dari jurnal-jurnal ilmiah teraktual. Buku yang Anda gunakan kurang luas, jadi wawasan Anda juga kurang optimal. Kalimat-kalimat Anda juga jangan terlampau panjang-panjang dan menyuliskan. Berjuang terus ya....
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa hanya sebatas menyebutkan.
        • 5 WH kurang lengkap.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sebutkan darimana tanaman kokoa berasal, bagaimana di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan baik, bahasa juga cukup baik.
        • Banyak kesalahan tipografi, mis.: "serangga", bukan "insect". "fermentasi", bukan "9(fermentasi)" "cokelat", bukan "coklat", "kelembapan", bukan "kelembababan" "dilakukan", bukan "dilakukukan", "di antara", bukan "diantara".
        • Gunakan spasi setelah "koma" (",") , dan setelah kurung cat. kaki.
        • Jangan berikan spasi setelah titik.
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Tetapi uraian masih terkesan kaku, belum berani mengeksplorasi lebih jauh lagi. Pemaparan spesifik tentang bibit, penanaman, dsb, dapat disampaikan informasi yang lebih mendalam dan baru.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info ok, alur dan bahasa kurang enak.
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Cermat dalam pengetikan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  45. BP86Johanes
    • Harian Rakyat
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Nama harian ini seharusnya ditulis sebagai Harian Rakjat menggunakan ejaan kontemporer.
        • Bagian pembuka seharusnya merangkum isi artikel.
        • Penggunaan kata kiasan seperti "bertekuk lutut" tidaklah netral dan perlu dihindari.
        • Ada beberapa hal yang kurang dijelaskan dan mengurangi pemahaman; apa itu CC PKI?
        • Siapakah Penguasa Perang Jakarta Raya?
        • Informasi seperti oplah surat kabar ini perlu ditambahkan.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu pendek dan tidak merangkumi isi artikel
        • Isi artikel kurang komprehensif
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Inspiratif, bermanfaat sebagai pengetahuan, bisa dikaji dengan lebih mendalam. Bahasa Anda cukup bagus, cermat.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa sedikit mengebu-gebu.
        • Perlu penambahan 5WH.
        • Kurang profesional karena masih ada salah ketik.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • jika ada pembanding akan lebih baik
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Tulisan yang baik, bahasa Indonesia juga digunakan cukup baik.
        • Beberapa kesalahan yang perlu diperhatikan: "tampil" bukan "ampil" . "kembali terbit lagi" adalah sebuah redundansi.
        • Kalimat terakhir ditulis dengan menggunakan EYD yang tidak dikenal oleh harian ini.
        • Interwiki ke dalam bahasa Inggris tampaknya ditulis oleh penulis yang sama (dengan bhs Inggris yg perlu diperbaiki).
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Surat Kabar Harian yang telah mengalami pembredelan biasanya dapat ditelusuri kemana saja para pendiri dan wartawannya terbang dan singgah. Apakah bermetamorfosis dalam surat kabar Indonesia yang lain. Siapa yang dimaksud sang pembredel, si penguasa perang itu, dapatkah disebutkan namanya, dan bagaimana posisi mereka pasca-pembredelan tersebut. Maksimalkan pemaparan dengan memanfaatkan data yang ada disertai ekslprorasi yang lebih mendalam terkait tema yang diangkat.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info dan alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  46. BP87Laurentius
    • Pengondisian klasik
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Keterangan gambar Little Albert perlu ditampilkan.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Isi artikel kurang membahas penerapan pengondisian klasik beserta signifikansi kajian ini dalam bidang psikologi
        • Sumber rujukan terbatas
        • Penggunaan beberapa istilah yang tidak diindonesiakan
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus, bermanfaat bagi masyarakat. Perhatikan dimensi-dimensi kebahasaan yang Anda gunakan. Perhatikan juga pemaragrafan dalam tulisan Anda, sehingga tidak terlampau menyulitkan pembacanya.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Bahasa mengalir, tetapi perlu diperhatikan keterkaitan cerita antar kalimat.
        • Keterangan 5 WH perlu dilengkapi lagi.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • bahasa dibuat lebih aplikatif dalam keseharian masyarakat
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel baik, bahasa Indonesia juga baik.
        • Sayang masih ada kesalahan ketik seperti catatan di bawah: "akhirnya", bukan "kahirnya" dan "ditakuti", bukan "ditakut".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pengutipan buku bacaan tidak lengkap. Kalau memang itu buku terjemahan, sebutkan nama penerjemahnya, kota penerbit dan tahunnya juga. Pembahasan belum mewakili pemutakhiran gagasan.Kontekstualisasi pemaparan saudara tentang tema terkait dengan pengaruh ataupun kajian lebih lanjut yang pernah ada.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info dan alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Gunakan kosakata baku.
        • Gunakan pilihan kata yang tepat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  47. BP88Lukas
    • Pedro Arrupe
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Konteks tokoh ini perlu dijelaskan lebih lanjut pada paragraf pembuka. Seharusnya disebutkan bahwa Beliau adalah seorang Imam Katolik Roma berkebangsaan Spanyol, baru setelah itu dijelaskan jabatannya sebagai jenderal Jesuit.
        • Bagian "Isi Pemikiran Men for Others" (yang mencakup hampir separuh artikel) hanya menggunakan satu referensi sehingga diragukan objektivitasnya.
        • Gaya bahasa artikel ini kurang ensiklopedis karena seperti cerita (terutama bagian "Masa-Masa di Amerika Latin"). Artikel ensiklopedia seharusnya bersifat deskriptif dan netral.
        • Fakta bahwa Beliau adalah jenderal Jesuit pertama yang mengundurkan diri perlu ditambahkan.
        • Penggunaan kata yang subjektif/tak netral seperti "sangat" perlu dihindari ("Dia sangat memperhatikan pergerakan para Jesuit menuju pelayanan kaum miskin"; sangat menurut siapa?)
        • Penggunaan spasi dan ejaan perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Paragraf pembuka artikel terlalu singkat
        • Gaya bahasa artikel cenderung subjektif
        • Terdapat beberapa kesalahaan format dan ejaan kata
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Bagus sekali, lengkap, juga mendalam kajiannya dan sangat bermanfaat sebagai pengetahuan. Perhatikan wahana kebahasaan yang Anda gunakan. Pemaragrafan tulisan tidak boleh terlalu menjemukan pembaca.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Pengulangan bahasa/kata yang kurang tepat. Seperti: pendidikan/edukasi, ide.
        • Bahasa yang sedikit informal, seperti: lah, dll.
        • 5WH yang jelas.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • Bagaimana pengaruhnya dalam keseharan umat di Indonesia
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel menarik, ditulis dengan baik dan komprehensif. Bahasa Indonesia pun baik.
        • "La Gaceta del Norte", bukan "La Gacate del Norte", "bahasa Italia", bukan "Itali". "di bawah", bukan "dibawah". Kalimat ini tidak jelas: "Kurangnya pengetahuan akan bahayanya radiasi atom, mereka mengalami …"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Penulisan sudah cukup baik. Tetapi masih banyak salah tulis Perkaya dengan pandangan beberapa tokoh yang pernah membahas atau memberikan analisisnya terhadap Pedro Arrupe ini.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info lengkap, bahasa dan alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Gagasan diungkapkan secara tepat.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  48. BP89Siti
    • Tomat landak
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Penulisan dapat lebih disempurnakan lagi. Misalnya, keterangan mengenai bahwa tumbuhan ini hanya dapat bertahan seminggu pada suhu sangat dingin cukup ditulis sekali saja. Pada bagian pembuka, sebaiknya ditulis dulu nama ilmiah tanaman ini sebelum menyebutkan sinonimnya.
        • Penggunaan tata bahasa Indonesia perlu diperbaiki, begitu pula ejaan dan penggunaan spasi. "Jingga" atau "oranye", bukan "orange"!
        • 5W1H: bagian "where" perlu ditambah; di mana saja persebaran geografis tumbuhan ini? Benar-benar hanya di Madagaskar? Bagaimana bisa disebut berasal dari India?
        • Bagian "Daun", "Batang", "Bunga", dan "Buah" sebaiknya dijadikan menjadi subbagian dari bagian "Anatomi" atau semacam itu.
        • Penggunaan situs web sebagai referensi sebaiknya dihindari (sedapat mungkin buku, walaupun buku daring, atau artikel ilmiah). Situs web dengan nama beritaunik.net sepertinya tidak termasuk sumber tepercaya.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Rangkaian kalimat dalam artikel kurang mengalir
        • Isi artikel kurang komprehensif membahas tomat landak: persebaran, kegunaan, predator, dsb.
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Sangat bagus, sangat inspiratif. Referensi Anda juga sangat tepercaya dan baru. Tulisan-tulisan dalam weikipedia menurut saya memang harus menggunakan referensi-referensi yang baru seperti yang Anda lakukan. Silakan terus berjuang.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Materi yang berwawasan luas.
        • Lengkap gambar dan keterangan
        • 5WH yang sempurna dan dimengerti
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah baik dalam penggambaran
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel menarik, bahasa Indonesia juga baik. Namun masih ada beberapa kesalahan ketik, mis. "makhota", "benbentuk"
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Pemaparan sudah cukup baik. Tetapi uraian masih terkesan kaku, belum berani mengeksplorasi lebih jauh lagi. Temuan-temuan spesifik tentang daun, batang dsb, dapat disampaikan informasi yang lebih mendalam dan baru.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info ok, tapi alur kurang enak.
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
  49. BP90Vincentius
    • Kritik sastra
      1. Erwin Sentausa (Perwakilan Wikimedia)
        • Pembahasan dalam artikel ini kurang mendalam. Bagian aspek seharusnya dijabarkan secara lebih lanjut karena bagian ini merupakan inti dari topik bersangkutan. Penjabaran seharusnya dalam paragraf, bukan poin-poin.
        • Bagian sejarah sepertinya melompat dari zaman Renaissance ke Inggris, lalu tiba-tiba ke Indonesia. Apakah kritik sastra hanya berkembang di Inggris dan Indonesia setelah Renaissance? Seharusnya dijelaskan secara umum. Sejarah kritik sastra Indonesia sebaiknya digabung ke bagian yang khusus membahas bagian Indonesia.
        • Keterangan mengenai tokoh dan media massa Indonesia pelaku kritik sastra sebaiknya tidak disertakan secara khusus; cukup disebutkan bahwa tokoh dan media massa tersebut adalah contoh pelaku kritik sastra. Saya yakin masih banyak pelaku kritik sastra lainnya saat ini dan pada masa yang akan datang.
        • 5W1H: bagian "how" kurang dijelaskan (hanya dibahas sekilas di bagian aspek)
        • Menggunakan kata-kata subjektif (tidak netral) seperti "penting" dan "harus". Penting dan harus menurut siapa? Artikel ensiklopedia seharusnya mendeskripsikan sesuatu, tidak berargumen bahwa sesuatu itu penting atau harus.
        • Penulisan ejaan dan spasi perlu dicermati kembali.
      2. Handoko (Perwakilan Wikimedia)
        • Artikel kurang berkembang dan komprehensif
        • Sumber rujukan terbatas
      3. Endah Triastuti (Universitas Indonesia)
      4. Dr. Ir. Nugroho Susetya Putra, M.Si (Universitas Gadjah Mada)
      5. Dr. Remigius Kunjana Rahardi. M.Hum. (Universitas Sanata Dharma)
        • Nilai kebaruannya kurang. Penulis juga tidak up date dengan sumber-sumber baru tentang kritik sastra. Tidak ada referensi yang baru yang ditampilkan untuk mendukung tulisan ini.
      6. Hasnul Insani Djohar (Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah)
        • Isi materi cukup luas mencakup nasional dan internasional.
        • Kurang profesional dalam hal pengetikan.
        • Masih terdapat salah ketik.
        • Kurang editing untuk memastikan tidak ada kesalahan.
      7. Dr. Ulani Yunus, Dra., MM. (Universitas Bina Nusantara}
        • sudah baik dan lengkap
      8. Stephen Suleeman (Sekolah Tinggi Teologi Jakarta)
        • Artikel yang baik, dan ditulis dengan bahasa yang baik pula. Sayang masih terdapat beberapa kesalahan ketik, spt. "tebuka", "jaman".
      9. Robby Habiba Abror, M. Hum (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga)
        • Sudah cukup baik pembahasannya. Aspek historisnya sudah cukup memadai. Hanya saja belum dipaparkan secara komprehensif para kritikus sastra Indonesia kontemporer seperti: Saut Situmorang, Emha Ainun Nadjib, dan beberapa kritikus sastra yang lainnya. Perlu ditambahkan karya-karya para kritikus sastra dan karya-karya sastra yang menjadi sasaran kritiknya.
      10. Bambang Sugiharto (Universitas Katolik Parahyangan)
        • info dan alur baik
      11. Drs. Waway Tiswaya (Universitas Padjadjaran)
        • Perhatikan ejaan dalam penulisan.
        • Gunakan kosakata baku.
      12. Adi Yulandi (Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)
        • Di tampilkan contoh kritiknya pada media masa akan lebih menarik