Konferensi ICT4D 2016

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Logo Konferensi ICT4D 2016, Nairobi, Kenya

Konferensi ICT4D 2016 - Dari Inovasi Berdampak Perubahan adalah Konferensi mengenai Teknologi dan Informatika yang diselenggarakan dengan tema menemukan jalan penggunaan teknologi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Tujuan Pembangunan Berkelanjutannya sendiri dimulai pada tahun 2015 dan berakhir pada tahun 2030, yang merupakan perpanjangan dari "Tujuan Pembangunan Milenium" yang dicanangkan PBB pada tahun 2000 dan berakhir pada tahun 2015.

Jadwal acara

Konferensi ICT4D 2016 berlangsung 16-19 Mei 2016, bertempat di Safari Park Hotel & Casino, Nairobi, Kenya, Afrika. Mewakili Wikimedia Indonesia, terkait dengan Proyek Pemetaan & Transparansi di Kalimantan via hibah Making All Voices Count Grant, adalah Siska Doviana.

15 Mei 2016 (Indonesia)

Keberangkatan tengah malam itu jamnya suka menipu, harus hati hati
Berangkat!
Menggunakan Qatar Airways dengan pemberhentian di Doha, pesawat berangkat pukul 00:20 dari Soekarno Hatta dan tiba di Doha pukul 04:30 pagi dengan lama penerbangan kurang lebih 9 jam.
Visa: untuk kedatangan di Nairobi, Kenya dibutuhkan visa, namun visa ini bisa diminta secara daring.
Pesawat: Kebetulan pesawat Qatar Airways menyediakan fasilitas isi ulang batere gawai dengan colokan USB dalam pesawat bebas biaya, namun kalau mau internet, bayar. Hiburan dalam pesawatnya juga termasuk yang paling lengkap dibandingkan penerbangan lain, mulai dari film, TV, musik, dari berbagai negara - lengkap ada (tapi nggak film Indonesia, paling India dan Korea).
Uang: Karena kesalahan memperhitungkan waktu berangkat, maka keberangkatan terjadi secara terburu-buru dan belum sempat menukarkan uang USD untuk menjadi Kenyan Schilling.
Saat transit di Doha, ditariklah USD via ATM menggunakan kartu kredit. Saya tidak ingat apakah di Doha ada penukaran uang ke Kenyan Schilling atau tidak, tapi tampaknya tidak, sehingga saya menyimpan uang USD dengan pertimbangan untuk ditukarkan di Kenya kalau terjadi kejadian darurat.
Transit: Waktu transit yang lama di Doha (sekitar 5 jam) saya gunakan untuk keliling keliling mencari makanan murah. Ini kesekian kalinya saya transit di Doha, Qatar. Namun ini perjalanan pertama saya ke benua Afrika, sebelumnya saya cuman numpang lewat saat pergi ke Argentina. Dahulu pernah transit disini saat mereka sedang merayakan olimpiade dan bandaranya sedang di renovasi, bahkan saat kepulangan saya diberikan visa sementara karena hotel berada diluar bandara dan sempat jalan jalan mini di Doha. Kebetulan negara ini yang membeli perusahaan telekomunikasi kita: indosat.
Berangkat lagi!
Menggunakan Qatar Airways dari Doha pesawat bertolak ke Jomo Kenyatta International Airport di Nairobi, Kenya. Perjalanan dari sini 6 jam penerbangan.

15 Mei 2016 (Kenya)

Truk sampah di Kenya. Suasana Kenya seperti kota besar di Indonesia, namun tidak terlalu banyak bangunan diperbaharui (gedung lama banyak terlihat kusam)
Pendaftaran selesai setelah dinyatakan lunas
Ugali dan Gurame (Tilapia) Makan Khas Kenya. Ugali=jagung putih yang dimakan seperti nasi
Bandara: Tiba di bandaranya Jomo Kenyatta pukul 14:30, begitu sampai agak "mabok" rasanya karena udaranya memiliki kelembaban tinggi seperti Jakarta. Kalau Anda bilang, "gaya luh", ya beda rasanya setelah berada berjam-jam di dalam ruangan pesawat/ bandara yang udaranya diatur dan kering lalu terkena udara dengan kelembaban tinggi. Bandaranya luas tapi memiliki rasa kayak kita ada di "gudang" atau hanggar pesawat. Begitu turun dari pesawat yang turun langsung di "pinggirin" ditanya slip kuning vaksinasi, sekelompok penumpang lain, sekitar 40-an orang hampir seluruhnya "bule" dipinggirin dan menunggu lama, karena proses tidak jelas pemeriksaan vaksinasi ini. Karena dari Jakarta memang tidak vaksinasi, "kibas rambut jalan terus" pura-pura bego, langsung ke meja penerimaan visa, memperlihatkan surat undangan dan visa. Lolos lah keluar dari bandara. Sebelum keluar sama sekali ada beberapa ATM disana, yang sebenernya agak penasaran, karena kan kalau tarik ATM disana harusnya uang yang keluar adalah Kenyan Schilling. Sayangnya tak satupun ATM di bandara berfungsi (tidak ada listriknya).
Tim penyambutan di bandara sudah siap, tapi nama tidak terdaftar untuk Safari Park Hotel, yang merupakan hotel terbagus se Kenya. Jadi setelah sampai di hotel dari Bandara 1,5 jam, balik lagi ke arah bandara kira-kira setengah jam, karena ternyata hotel yang dituju adalah Hotel Nairobi Park, Kenya.
Hotel: Sesampainya di Hotel Nairobi Park, langsung mandi bongkar muatan dan siap siap lagi berangkat dengan bis charteran pukul 5 sore ke Safari Park Hotel untuk mendaftar. Kamar hotelnya cukup besar, dan karena grup dari MAVC diperkirakan ada 2 orang perempuan dan 2 laki-laki saat melakukan Skype, saya pikir kamar sebesar itu berdua. Karena itu saya cukup hati-hati dengan tidak "merusak" tempat tidur yang satu lagi, siapa tau sebentar lagi orangnya datang.
Pendaftaran konferensi: Sesampai di meja pendaftaran, ternyata nama belum terdaftar, jadilah kita masuk grup "belum bayar", setelah melakukan komunikasi via surel, akhirnya lolos juga terdaftar. Kemudian diketahui bahwa biaya pendaftaran ICT4D ini cukup mahal, dengan berbagai diskon pihak MAVC membayar USD 500 per peserta, padahal tanpa diskon per peserta bisa dikenakan USD 800 dan pesertanya hampir 1.000 orang total. Wow. Disini kebetulan ketemu dua orang Indonesia lainnya yang berasal dari Mercy Corps. Karena pendaftaran yang bermasalah ini jadi ketahuan grup dari MAVC siapa saja, saya bertemu penerima hibah MAVC dari Kenya, yang kebetulan namanya Jawa. Dia belum pernah ke Indonesia tapi sudah pernah ke Filipina. Dia cukup penasaran pulau yang memiliki nama sama dengan namanya, yaitu Pulau Jawa. Atas rekomendasi Jawa juga saya ikut makan makanan tradisional di Kenya.

Di Afrika makanan utamanya adalah jagung putih yang dinamakan Ugali, biasanya dipadu padan dengan ikan, yang kali ini saya makan gurame. Total harganya 1,000 KES sekitar Rp. 130,000,- (1000 KES = 10 USD). Karena cukup capek dan mabok, saya permisi dan beristirahat.

16 Maret 2016

Dari hotel berangkat menggunakan bis, jadwal bis sudah ditentukan yang mengikuti jadwal konferensi, berangkat pukul 08:00 dan pulang, pada hari-hari tertentu, pukul 09:00 malam - setelah makan malam.

Tentu saja hal ini tidak masalah apabila internet di tempat konferensi baik, jadi bisa menunggu makan sambil kerja. Namun internet di tempat konferensi benar-benar buruk, sehingga pada beberapa kali kejadian, karena akan ada peluncuran proyek "Besut Kode" dimana banyak desain dan materi komunikasi dipertimbangkan - dan membutuhkan internet, saya harus pulang ke hotel karena sambungan internet di hotel cukup baik. Taksi pulang apabila tidak ikut bus memakan biaya hingga USD 30, menyebalkan sekali karena taksi ini tidak ditanggung.

Pembicara mendapat akses internet yang berbeda, namun ini pun aksesnya diganti per hari.

Sesi

Omar A. Mohammed, Code4Africa

17 Maret 2016

Foto di depan ruang konferensi