Laporan Seminar: Politik Bahasa

Dari Wikimedia Indonesia
Jump to navigation Jump to search
Seminar Politik Bahasa2.jpg

Seminar Politik Bahasa diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yang merupakan badan dibawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan diadakan di Hotel Best Western Premiere The Hive, Jakarta pada tanggal 3-6 Juni 2015. Tema dari seminar ini adalah “Mengawal Bangsa Besar dengan Berawal Bahasa”.

Berdasarkan siaran persnya seminar ini merupakan forum pemutakhiran kebijakan nasional kebahasaan atas rumusan politik yang dihasilkan dari dua seminar terdahulu di tahun 1975 dan di tahun 1999.

Seminar politik yang ketiga ini rencananya dihadiri pangambil kebijakan pemerintahan dan kalangan pakar, pendidik (dosen dan guru), sastrawan, budayawan, pemuda, dan peminat serta pemerhati bahasa dan sastra.

Ketua Umum Wikimedia Indonesia, Siska Doviana, diundang dalam seminar ini dan diberikan latar belakang mengenai Badan Bahasa via Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2015. Diinformasikan bahwa pasal mengenai Badan Bahasa dapat ditemukan pada Bab VIII pasal 647 hingga pasal 705.

Tabel



Hasil amatan & jalannya acara

Suasana diskusi pada saat seminar

Untuk jalannya acara dan versi resmi dari Badan Bahasa dapat dilihat pada pranala ini. Acara dibuka oleh Prof. Dr. Mahsun M.S. yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai pembicara yang sebagian besar berasal dari Universitas. Pada hari terakhir, dimana hadir Ketua DPD RI Bapak Irman Gusman, terungkap bahwa Bapak Mahsun akan menyelesaikan masa tugasnya dan posisinya "di lelang". Salah satu yang melamar untuk posisi tersebut adalah Dr. Sugiyono.

Berdasarkan hasil amatan, peserta tidak ada yang muda (berdasarkan umur), kebanyakan diskusi bergelut pada "harapan" untuk bahasa, namun realitas dan cara penanggulangannya tidak dibahas secara mendalam. Walaupun begitu pertanyaan pertanyaan yang muncul dari peserta lumayan beragam;

  • dari tanda-tanda jalan yang dapat ditemukan sehari hari yang menggunakan bahasa Inggris dan tidak diikuti oleh bahasa Indonesia.
  • tidak hanya itu, peserta lain juga mengeluhkan media massa terutama TV yang menggunakan istilah "Breaking News" dan mengatakan, "sepertinya kalau menggunakan bahasa Indonesia, beritanya jadi tidak laku".
  • Cetusan pertanyaan mengenai disiplin bahasa ini berulangkali muncul pada berbagai sesi. Bahkan dalam komentar facebook halaman Wikimedia Indonesia, Cahyo Ramdhani menanyakan mengapa pada jaman Presiden Soeharto hal ini (disiplin bahasa Indonesia) dilakukan lebih baik.

Siska juga mengutarakan keprihatinan bahasa Indonesia dan teknologi pada salah satu panel diskusi, bahwa teknologi tidak dimasukkan kedalam agenda Politik Bahasa. Padahal mesin penerjemah google bekerja dengan teknologi dan sudah digunakan luas oleh bahasa bahasa besar lainnya. Absennya teknologi sebagai alat antar generasi dalam pemelihara bahasa, cukup menakutkan.

Pertemuan

Pada saat berlangsungnya Seminar Politik Bahasa, tepatnya pada tanggal 5 Juli 2015, Siska, difasilitasi oleh Bapak Azhari dari Badan Bahasa bertemu Dr. Sugiyono sebagai Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur dan Pelindungan. Pertemuan singkat ini kemudian di lanjutkan pada tanggal 11 Juni 2015 dengan diskusi yang lebih panjang lebar dimana Siska menjelaskan Wikimedia Indonesia dan misinya,

Dr. Sugiyono

Pada pertemuan lanjutan di tanggal 11 Juni 2015 dikemukakan oleh Siska apa Wikimedia Indonesia, keprihatinan keprihatinan yang dirasakan untuk bahasa daerah dan bahasa Indonesia, serta kemungkinan solusi.

  1. Dokumen-dokumen penting mengenai bahasa tidak bisa diakses publik karena akses diantara lain terhalang hak cipta dan bentuk (buku vs digital). Badan Bahasa yang memiliki banyak dokumen ini ditawarkan untuk bekerja sama dengan Wikimedia Indonesia, dimana Wikimedia memiliki proyek digitalisasi, sehingga apabila Badan Bahasa melepas hak cipta menjadi domain publik atau yang setara maka Wikimedia Indonesia bisa mendigitalisasi data keras Badan Bahasa dengan gratis, dimana akses dapat melalui sumber wiki (wikisource).
  2. Pak Sugiyono mengungkapkan dukungan dan kesamaan mengenai konten dan posisi hak cipta penuh dan hak cipta berbagi, namun ia memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan untuk membebaskan hak cipta pada data yang sudah dimiliki oleh Badan Bahasa sebelumnya. Namun yang mungkin dilakukan adalah membuat konten baru menggunakan lisensi terbuka.
  3. Sebagai Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur dan Pelindungan, Pak Sugiyono menawarkan kerjasama pada dua kegiatan yang rencananya akan dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, yaitu Peta Vitalitas Bahasa serta Sistem Registrasi Bahasa dan Sastra.
    1. Peta Vitalitas Bahasa adalah pembuatan peta untuk menunjukkan daya hidup suatu bahasa. Peta dirancang dengan gradasi warna untuk menandakan tingkat keterancaman bahasa sesuai dengan warna warna yang digunakan oleh Badan PBB UNESCO. Data dikumpulkan oleh pihak Badan Bahasa, Wikimedia Indonesia akan mengolah data tersebut dan membuat tampilan ke dalam peta berdasarkan data peta dasar dari OpenStreetMaps. Daerah daerah akan ditandai dengan polygon, dan akan menyerupai portal kalmap, yang sudah pernah dibuat oleh Wikimedia sebelumnya sebagai dummy untuk Peta dan Transparansi Kalimantan. WMID menawarkan akan membantu memindah data yang memang sudah ada ke OSM supaya data bisa ditampilkan dan diolah dengan lebih menarik. Proyek ini sebelumnya juga pernah dikerjakan di bawah Bakosurnatal, namun belum diperbaharui lagi.
    2. Sistem Registrasi Bahasa dan Sastra sesuai namanya adalah pengumpulan karya karya bahasa dan sastra yang dapat diakses oleh publik dengan mudah.

Secara internal hasil pertemuan dapat dilihat disini.

Prasetyo

Prasetyo (kiri) dan Siska (kanan)

Bapak Prasetyo adalah salah satu pendiri Wikimedia Indonesia dan kini menjadi Anggota Dewan Pengawas, kesibukannya kini rata rata adalah sebagai pengajar. Awalnya Bapak Prasetyo diminta oleh Ketua Umum untuk ikut bertemu dengan Bapak Sugiyono dari Badan Bahasa, namun karena jadwal tidak bersahabat maka pertemuan dengan Prasetyo dilakukan secara terpisah. Selalu menyenangkan bertemu dengan Pak Prasetyo, dengan budaya Jawanya yang penuh santun dan ramah.

Dalam pertemuan dibahas mengenai bahasa-bahasa daerah. Pak Prasetyo mengungkapkan kesedihannya atas mundurnya vitalitas bahasa daerah dikarenakan berbagai hal. Disaat ia kecil dahulu, demi Republik Indonesia, sekolah sekolah yang menggunakan bahasa Jawa berganti menjadi bahasa Indonesia dan para muridnya bersusah payah berpindah bahasa, pindah karakter penulisan menggunakan alfabet, dan setelah merdeka, bahasa daerah ini dibiarkan mati. Bahasa Indonesia berhutang pada bahasa daerah yang mendukungnya untuk hidup, seharusnya ada tindakan yang dilakukan untuk melestarikannya.

Kemudian pada saat pertemuan dibagikan juga informasi informasi yang dikumpulkan oleh Pak Prasetyo dari berbagai sumber mengenai tolak ukur yang digunakan oleh UNESCO untuk bahasa bahasa yang dinilai sehat dan yang hampir punah. Namun pada berbagai kesempatan, saat menyampaikan status bahasa Jawa pada dosen sastra Jawa banyak yang tidak mau menerima kenyataan bahwa bahasa mereka terancam karena merasa masih banyak yang menuturkannya, walaupun anak-anak mereka kosakata dalam bahasa Jawanya sudah banyak jauh berkurang diganti oleh bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Terutama yang tinggal di kota besar dan mengalami penetrasi media seperti TV.

Pengelompokan bahasa yang hampir punah

Dalam atlas bahasa, pengelompokan atas bahasa yang hampir punah menggunakan kode warna. Atlas interaktif mengenai hal ini bisa dilihat pada situs UNESCO. [1]

Kode warna Status
Kuning muda Rentan (vulnerable)
Kuning tua Terancam (definitely endangered)
Oranye Genting (severely endangered)
Merah Kritis (critically endangered)
Hitam Punah (extinc)

Tabel penilaian

Tabel penilaian dibawah diambil dari rujukan yang diberikan oleh Pak Prasetyo, untuk makalah lengkapnya dalam bahasa Inggris dapat dilihat dari situs UNESCO. [2].

Derajat Penilaian Tingkat Populasi penutur Persentase penutur dalam total populasi rujukan
Aman 5 Bahasa ini dituturkan oleh semua umur, mulai dari anak berusia 5 tahun hingga dewasa. Total populasi penduduk menuturkan bahasa ini
Rentan 4 Bahasa ini dipertuturkan hanya oleh sebagian anak anak pada seluruh aktivitasnya. Atau
Bahasa ini dipertuturkan oleh seluruh anak anak pada beberapa daerah-daerah tertentu saja (limited domains)
Sebagian besar populasi menuturkan bahasa ini
Terancam
(definitely endangered)
3 Bahasa ini dipertuturkan oleh sebagian besar (generasi) orang tua dan usia lanjut setelahnya. Sebagian besar populasi menuturkan bahasa ini.
Genting
(severely endangered)
2 Bahasa ini hanya dipetuturkan oleh generasi kakek-nenek dan usia lanjut setelahnya. Minoritas populasi menuturkan bahasa ini
Kritis
(critically endangered)
1 Bahasa ini dipertuturkan oleh sangat sedikit penutur, rata rata penuturnya pun sudah sangat tua. Sangat sedikit dari populasi menuturkan bahasa ini.
Punah
(extinc)
0 Penuturnya sudah tidak ada lagi Tidak seorangpun yang dapat menuturkannya
Program bahasa & tingkat kesuksesannya

Makalah lain membahas mengenai bagaiman menilai cara-cara merevitalisasi bahasa menggunakan program-program bahasa[3]

Skala penilaian dan indikator untuk "Status Program Bahasa"
Derajat Penilaian Tingkat Status Program Bahasa
Sukses 5 Program bahasa diadakan secara teratur, sukses, dan program yang sukses melibatkan > 5 persen entitas pengidentifikasian bahasa [4]
Bagus 4 Program bahasa berlangsung dengan memenuhi dua dari total tiga indikator berikut:
  • (1) berlangsung secara teratur;
  • (2) berlangsung dengan sukses;
  • (3) program yang sukses melibatkan > 5 persen entitas pengidentifikasian bahasa[4]
Rata rata 3 Program bahasa berlangsung dan memenuhi satu dari total tiga indikator berikut:
  • (1) berlangsung secara teratur;
  • (2) berlangsung dengan sukses;
  • (3) program yang sukses melibatkan > 5 persen entitas pengidentifikasian bahasa[4]
Dasar 2 Ada program bahasa namun hanya melibatkan kelompok kecil < 5 persen entitas pengidentifikasian bahasa[4], tidak teratur, dan dengan hasil yang sangat sedikit atau tidak ada hasilnya sama sekali.
Tunas
1 Tidak memiliki program bahasa namun sekelompok orang mulai membicarakan untuk memulainya.
Punah
0 Tidak ada program bahasa dan tidak ada keinginan untuk memulainya

Rujukan