Laporan lokakarya Tech Camp Jakarta

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Pada tanggal 19 dan 20 Mei 2011 Siska Doviana diundang untuk hadir sebagai peserta Tech Camp Jakarta sebagai perwakilan dari Wikimedia Indonesia.

Undangan ini datang dari Noel Dickover, pegawai Departemen Luar Negeri AS yang kebetulan bertemu dengan Jeremy Baron (WMNY) dan Katie Filbert (WMDC) di Capitol Hill dalam acara temu dengar kongres AS dengan Crisis Commons - organisasi nirlaba dimana Noel merupakan salah satu pendirinya. Jeremy kemudian menyarankan bahwa Noel mengundang Wikimedia Indonesia. Melalui undangan resmi dari Duta Besar, perwakilan WMID pun datang.

Pada acara ini sekitar 30 orang peserta dari ormas lain (yang berasal dari Indonesia) juga hadir, sementara fasilitator berasal dari berbagai negara dan acaranya seluruhnya berlangsung dalam bahasa Inggris - bahkan sesama orang Indonesia berbahasa Inggris. Acara ini dilangsungkan di @america, Pasific Place, Jakarta.

Hari pertama, 19 Mei 2011

Agenda selengkapnya

Pada pembukaan awal jumlah panitia dan fasilitatornya ditenggarai banyak sekali, mungkin perbandingan dengan peserta 1:1, sudah sulit membedakan mana panitia dan mana peserta karena pelibatan perannya yang tercampur. Staf kedutaan juga banyak, sehingga perbandingan perempuan dan laki-laki yang (biasanya) jeda, menjadi sama rata. Kemungkinan besar adalah peserta undangan yang ikut menjadi fasilitator daripada sebaliknya, hal ini menjadikan suasana informal yang kental. Baju sudah menjadi beraneka macam - dari yang santai (kasual) hingga separuh resmi, karena (mungkin) perwakilan dari ormas yang besar.

Moderator utama Gunner hebat. Terasa kontrol acara ada ditangan moderator utama, seluruh perwakilan organisasi ataupun perusahaan yang menjadi fasilitator tunduk saat Gunner menghentikan diskusi ala peluncuran roket dengan menghitung mundur dari 10.

Dana

Catatan di hari pertama adalah banyak peran pemerintah mulai diambil masyarakat saat terjadi bencana, seperti yang dikemukakan Dian, mahasiswa UGM yang kesehariannya upaya sukarelanya mengurus panti asuhan namun perannya berubah saat bencana merapi menjadi tempat pengumpulan dana secara pribadi dan berhasil mengumpulkan 100 juta- melalui twitter saja. Pertanggung jawaban dana tersebut dan penggunaannya menggunakan "potret" (dibeliin ini dan itu dikasih ke anu). Hal ini timpang dengan penggalangan dana TV-TV besar yang menyebutkan berapa jumlah yang mereka peroleh, tetapi tidak menyebutkan kemana dibagikannya. Menurut salah satu peserta: tahu-tahu sudah jadi sekolah berteknologi tinggi atas nama yang punya stasiun TV tersebut (Tsunami Aceh). Hal ini mengedepankan masalah bahwa, individu-individu ini mendapatkan banyak sumbangan karena masyarakat lebih percaya mereka/ atau masyarakat tidak bisa menyumbang ke pemerintah (tidak ada akses) atau tidak percaya karena pertanggungjawaban penggunaan dananya sepihak (bilang berapa yang didapatkan dan dibelanjakan - tetapi tidak kemana). Ini termasuk ke saluran swasta yang pertanggung jawaban penggunaan dananya kurang - terlebih untuk masalah rehabilitasi setelah bencana.

Diperbicangkan juga antara Noel Dickover dari Crisis Commons bahwa sumbangan melalui SMS - contoh untuk PMI - itu sampainya sebulan kemudian, atau malah hitungan 90 hari, karena operator menunggu bayaran per bulan. Jadi untuk penanggulangan bencana, sumbangan melalui SMS tidak praktis, walaupun masih cukup baik untuk upaya pembangunan kembali dengan catatan penanggungjawabannya jelas. Sumbangan dari pihak luar negeri banyak yang cuman janji: janji sumbang 100 juta dolar turun hanya berapa, atau malah tidak turun sama sekali. Janjinya sudah disebar-luaskan tapi penurunan dana yang tidak jadi tidak diberitakan. Sehingga banyak persepsi keliru masyarakat yang mendengar berita ini.

Pengumpulan data

Terasa sekali bahwa sepanjang konferensi banyak pembicara yang dari komunitas sumber terbuka (open source), Kate Chapman dari Open Street Map berkata bahwa sulit sekali mencari sukarelawan dari Indonesia untuk melakukan pemetaan, ia baru kembali dari UI jurusan geografi dan akhirnya memberlakukan "magang" untuk dua orang dari jurusan tersebut untuk mulai proses pemetaan.

Proyek Angsa Hitam Google

Google CTO Michael Jones yang menciptakan proyek angsa hitam (black swan project) berkata bahwa google sedang mencari bakat-bakat baru dimana orang-orang yang berbakat ini melakukan hal yang berbeda, berdampak langsung, dan terasa "perbaikan" yang mereka lakukan karena mereka melakukannya dengan cara yang berbeda dan lebih baik. Hal ini tidak harus hal yang besar, namun hal-hal kecil yang kemudian ditiru orang sehingga berdampak besar. Google maps berasal dari pemetaan rumah sendiri dan lalu diikuti olah orang lain sehingga menjadi besar. Teknologi telah memungkinkan hal ini.

Hari kedua, 20 Mei 2011

Hari kedua banyak lokakarya langsung dan pengumuman. Lokakaryanya terkait dengan penanggulangan bencana, sehingga banyak yang ngga nyambung. Tetapi yang sangat membantu sekali adalah pengalaman melihat bagaimana konferensi yang sukses dilakukan dengan tidak membosankan. Hari ini banyak berbicara dengan Noel Dickover dan , Leo Garramon dari Cisco. Leo terheran-heran kenapa internet di Indonesia lambat, namun ia mengakui di New York tempat ia tinggal, ia membayar USD 100 untuk sambungan internetnya yang super cepat, mengingat-ngingat, dia berkata bahwa sambungan internet rumah yang termurah mungkin harganya USD 30, tetapi tidak tau dayanya sebagaimana. Bertemu dengan Pak Onno Purbo, beliau dengan santai bilang bahwa internet kita juga harganya USD 100, cuman dibagi sepuluh orang. Kita tertawa tergelak-gelak.

Pengumuman pengumuman yang terjadi adalah bantuan dari berbagai pihak ke Net Hope, organisasi yang akan didirikan di Indonesia yang didirikan (akan saat itu) oleh Erin Mote (pembawa acara pada tech camp ini) dan bantuan dari google untuk (mungkin organisasi yang sama). Tidak ada bantuan langsung ke organisasi yang hadir disana yang dijalankan oleh orang lokal :-)

Kesimpulan

Membandingkan tech camp Jakarta dan konferensi internasional yang dijalankan oleh Wikimedia Jerman, rasanya seperti bumi dan langit. Padahal hal-hal yang membuat lebih baik ternyata sangat sederhana, tech camp Jakarta terasa menarik dan interaktif karena penyelenggaranya seluruhnya terikat dalam seluruh sesi yang ada dalam acara tersebut. Mereka tahu sedikit tentang banyak hal dan nyemplung langsung setelah pendaftaran peserta terjadi. Di Jerman, Nicole Ebber dan Jan, duduk di meja pendaftaran sejak acara mulai hingga acara selesai. Secara administratif, seluruh peserta Wikimedia Conference Jerman datang dengan senang, tiket beres, lodging sip, agenda okeh, tetapi saat duduk disana dan mendengarkan - isinya kosong. Saya sebagai peserta, pulang dengan rasa marah, dan harus berusaha keras pertemuan ini menghasilkan untuk organisasi saya, dan bermanuver untuk melakukan pembicaraan dengan Wikimedia France, atau nyolong-nyolong untuk berbicara dengan Barry . Di tech camp, walaupun ngga nyambung, saya mendapatkan banyak kontak, dan merasa keberadaan saya disana "berarti" karena terjadi banyak diskusi.