Penyelamatan Bahasa Daerah Melalui Komunitas di Internet

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sampul presentasi

Penyelamatan Bahasa Daerah Melalui Komunitas di Internet adalah sesi diskusi yang terjadi di Jagongan Media Rakyat 2014 yang bertempat di Jogjakarta National Museum ruang surat kabar pada tanggal 25 Oktober 2014 pukul 18:00-20:00. Pada kesempatan ini diundang juga mantan peserta Bebaskan Pengetahuan 2014 yang berdomisili di Jogyakarta.

Presentasi

Bahasa Daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris

Sesi dibuka dengan memperlihatkan beberapa layar presentasi mengenai asumsi mengapa Bahasa Daerah pada posisi yang ada kini. Gambar pertama menunjukkan bagaimana bahasa daerah berevolusi dari "raja di negeri sendiri" hingga "terlunta-lunta, dilupakan", dan tidak terjadi regenerasi penutur yang membanggakan di daerah urban. Di daerah urban kelas ekonomi menengah keatas, upaya pembelajaran bahasa yang terjadi adalah untuk bahasa Indonesia dan bahasa asing terutama Inggris.

Layar kedua menunjukkan posisi bahasa daerah ditimbang dari kepentingan ekonomi penuturnya, terutama mengenai karir. Karir dengan kemampuan bahasa daerah memiliki lingkup yang sangat sangat spesifik dan kecil. Kecuali penutur ingin menjadi guru bahasa daerah atau peneliti dengan kekhususan budaya dan bahasa - maka kemampuan bahasa daerah dianggap tidak mempengaruhi karir. Bahasa yang mempengaruhi karir oleh masyarakat umum adalah bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Masyarakat umum berani membayar mahal untuk dapat menguasai bahasa asing (terutama Inggris) dan hal ini dipamerkan secara terang terangan oleh orang tua yang mempertontonkan kemampuan berhitung anaknya dalam bahasa Inggris atau percakapan percakapan sehari hari menggunakan ungkapan ungkapan bahasa asing. Apakah orang tua yang memiliki anak dengan kemampuan bahasa daerah yang baik bangga? Mereka mungkin tidak dapat mengkaitkan kemampuan itu dengan masa depan karir anaknya.

Lalu dimana celah penyelamatan bahasa daerah, terutama untuk generasi muda, agar terus digunakan, dieksperimenkan, dan TERUTAMA dituliskan?

Wikimedia Indonesia telah berkutat dengan hal ini sejak tahun 2011 saat menggelar kompetisi menulis bahasa Jawa Papat Limpad. Kompetisi ini berhasil mendapatkan ribuan artikel berbahasa Jawa dituliskan namun gagal melanggengkan pesertanya menjadi bagian dari komunitas Wikipedia bahasa Jawa. Setelah dilaksanakan selama dua tahun berturut turut dan terus mendapatkan hasil yang sama, Siska sebagai penanggung jawab penggunaan dana hibah untuk proyek ini percaya bahwa pendekatan harus diganti.

Kemudian ditunjukkanlah upaya Wiki Sabanda yang menggunakan pendekatan permainan dalam melanggengkan peserta kompetisi di Wikipedia bahasa Sunda. Presentasi pun ditutup setelah ditunjukkan hasil statistik Wikipedia bahasa Sunda dan tingkat-tingkat permainan yang terjadi di Wiki Sabanda.

Tanya jawab dan diskusi

Jagongan Media Rakyat 2014

T: Saya baru tahu ada upaya serius untuk hal ini dari Wiki, hingga lebih dari satu tahun. Pertanyaan saya: apa pentingnya menggunakan bahasa daerah untuk wikipedia? Saya yakin penutur bahasa daerah ini tahu bahasa Indonesia dan mungkin bahasa Inggris. Untuk artikel artikel pengetahuan seperti kucing, mengapa harus ada artikel berbahasa daerahnya? Siapa yang mau melakukannya? Dan mengapa tidak dibiarkan saja dalam bahasa Indonesia atau Inggris, misalnya.

J1 (Siska): Jawaban dari saya mungkin lebih ke ego yang punya bahasa ya Mas, agar bahasanya tidak punah dan tidak rela bahasanya punah. Karena itu harus ada artikelnya.

J2 (Chris): Untuk saya bahasa daerah adalah perekat dari budaya itu sendiri. Apabila bahasa daerah sudah tidak digunakan lagi di daerahnya (dan menggunakan bahasa Indonesia misalnya) oleh penuturnya, maka apa bisa dibilang daerah tersebut memiliki budaya tertentu? Contohnya, apakah bisa orang Jawa mengaku "Jawa" apabila dia sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa? Ini Mbak Siska sudah tidak bisa lagi berbahasa Sunda, apakah valid dia mengaku "orang Sunda?" atau cuma numpang tempat lahir saja? Tidak ada budaya Sunda tanpa bahasa Sunda, karena bahasa tersebut perekat budayanya.

T (Vincent) : Jadi untuk apa bahasa daerah (seperti Jawa dan Sunda) menuliskan artikel mengenai kucing, atau menara Eiffel di Perancis, misalnya, apa tidak sebaiknya bahasa daerah fokus pada artikel artikel mengenai budaya daerah?

J1 (Siska): Jadi begini, menurut saya pengggunaan bahasa daerah untuk menulis artikel jenis apa, itu bagaimana kita melihat kedepan dan kebelakang. Saat bahasa daerah digunakan untuk menulis budaya daerah, entah upacara, sendra tari, kesenian, tempat tempat penting budaya - adalah saat kita melihat kebelakang, mendokumentasikan apa yang pernah ada, ada, dan sejarahnya. Namun saat bahasa daerah menuliskan ilmu pengetahuan umum, kota kota besar, segala sesuatu yang berbau internasional, spesies dan lain sebagainya, ini saat bahasa tersebut melihat kedepan. Apakah ada istilah dalam bahasa tersebut untuk mendeskripsikan papan ketik atau keyboard? Perlu istilah baru kah? Bagaimana kesepakatannya?

J2 (Chris): Saya setuju dengan Siska, bahasa juga kan harus dapat membuktikan bahwa mereka bisa dibawa ke masa depan dan mengikuti arus globalisasi serta teknologi. Kalau ternyata bahasanya tidak bisa mengikuti, berarti bahasa tersebut akan punah, dan ini berarti budayanya akan mengikuti tak lama lagi atau ganti sama sekali.

Kemudian ada salah satu peserta diskusi yang menyahut bahwa pemikiran pemikiran Yunani dulu sebenarnya sudah punah dan tidak bisa diakses, dihidupkan lagi karena sempat terekam di perpustakaan Arab. Kebayang ngga bahwa kalau tidak terdokumentasi maka tidak ada yang namanya demokrasi. Ada yang menyeletuk bahwa biasanya untuk menghargai bahasa atau budaya diperlukan pihak ketiga untuk mencuri atau mendeklarasikan budaya atau produk budaya tersebut sebagai milik mereka, baru deh bangsa Indonesia ribut. Padahal kalau tidak dibegitukan, budaya, bahasa, dan produk budaya tersebut tidak menjadi perhatian. Yang hadir tertawa, bahkan ada yang bercanda dan bilang daripada Wikimedia uangnya untuk susah payah melestarikan bahasa lebih baik bayar negara tetangga untuk mengakui, sehingga orang-orang yang memiliki budayanya merasa sadar langsung tanpa harus menggelar program.

Diskusi ditutup dengan Chris menyatakan bahwa budaya dan bahasa tersebut hadir atau tidak ditilik dari seberapa orang daerah merasa budaya tersebut penting. Apabila mereka menganggap budaya atau bahasa luar lebih penting, maka budaya dan bahasa daerah akan tergerus punah. Sebenarnya permainannya lebih di pikiran dan prioritas, apa yang dipriortaskan oleh daerah?

***Selesai***