RecentChangesCamp 2012

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

RecentChangesCamp 2012 diselenggarakan Wikimedia Australia dari tanggal 20 sampai 22 January 2012 di Canberra, Australia. RecentChangesCamp merupakan sebuah unconference, yaitu konferensi di mana alurnya ditentukan para hadirin, yang digunakan sebagai pertemuan antara wiki. Pada tahun 2012 ini, lebih dari 15 orang menghadiri camp tersebut, termasuk Christopher Allen Woodrich, seorang pengguna Wikipedia yang pernah membantu WikiMedia Indonesia dengan proyek Wikimedia Lontar untuk Penulis Indonesia. Berikut adalah laporannya.

20 Januari

Suasana pada hari pertama

RecentChangesCamp dibuka pada pukul 10 siang oleh Laura Hale, wakil presiden Wikimedia Australia, dengan acara perkenalan. Ternyata ada lima negeri yang diwakili pada RecentChangesCamp ini, yaitu Australia, Selendia Baru, Thailand, Indonesia, dan Republik Ceko. Sementara, wiki yang diwakili termasuk Wikipedia dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia, dan Thai), WikiMedia Commons, Wikiversity, dan Appropedia. Ada pula beberapa hadirin yang bekerja di bidang pendidikan, baik di tingkat SMA maupun universitas, yang bertujuan untuk mempelajari bagaimana menerapkan Wikipedia dalam proses pendidikan.

Makan siang pada hari pertama

Setelah perkenalan, pada pukul 11 siang para peserta mengelompokkan diri untuk diskusi bersama. Saya mengikuti diskusi bersama Laura mengenai fiksi yang ditulis penggemar (fanfiction) dan pasangan dalam fiksi tersebut yang cukup terkemuka sehingga layak mendapatkan artikel. Namun, setelah Presiden Wikimedia Australia John Vandenberg datang, kami berhenti diskusi dan mulai menyiapkan makan siang, yang berupa sandwich.

Pada pukul 1 siang, para peserta membagikan diri dalam kelompok dan membahas topik yang berbeda. Pada kali ini saya membahas bias sistemis (systemic bias), yaitu bias yang terjadi sebagai akibat terbatasnya demografi suatu wiki. Dalam kelompok yang sebesar tujuh orang ini, kami menunjukkan bahwa dalam Wikipedia bahasa Inggris bias ini muncul sebagai akibat dari terbatasnya pengetahuan orang-orang di negara berbahasa ibu bahasa Inggris dan terbatasnya kemampuan warga negeri lain untuk berbahasa Inggris. Sementara, untuk menghadapi bias tersebut diperlukan lebih banyak orang yang bisa menulis dalam lebih dari satu bahasa serta sosialisasi proyek Wikipedia dan pengetahuan bebas di negara-negara yang kurang terwakili.

Sesi berikutnya berisi pembahasan mengenai penggunaan Wikipedia sebagai sarana pendidikan. Dipimpin oleh Sonia dari Selendia Baru, pembahasan ini menjadi ramai dengan pemasukan dari Tom, seorang dosen; Gillian, seorang guru; dan Nigel, seorang konsultan untuk guru IPA. Hasil menarik dari sesi ini ialah bahwa Wikipedia, yang memang sebaiknya tidak digunakan sebagai referensi dalam tulisan ilmiah, masih mempunyai kegunaan sebagai sarana pendidikan yang mapan. Menurut hasil diskusi, Wikipedia dan proyek wiki lain dapat digunakan untuk mencari ide untuk referensi lain, serta sebagai pelatihan untuk proses pembacaan kritis dan penyuntingan, baik di tingkat SMA maupun universitas.

Pertemuan terakhir yang saya mengikuti pada hari pertama ialah pembahasan tentang sudut pandang netral. Pertemuan ini dihadiri hanya oleh dua orang, dan pada akhirnya menjadi pembahasan berbagai cara sudut pandang netral diterapkan di Wikipedia. Pada pukul 4 sore, RecentChangesCamp ditutup dengan berbagi pengalaman dan hal baru yang dipelajari.

21 Januari

Tika, dari Museum Nasional Australia, saat menyampaikan beberapa hal tentang hak-hak budaya
Chris Woodrich bersama pengguna lain pada saat istirahat

Pada hari kedua ini, acara dimulai dengan pembukaan pada pukul 9:30; pembukaan tersebut merupakan pembahasan topik-topik yang hendak didalami serta penjelasan tentang datangnya seorang tamu dari Museum Nasional Australia, Tika. Agenda pertama yang saya hadiri pada siang ini ialah brainstorming mengenai kemungkinan untuk pembentukan Wikimedia Selendia Baru dan Wikimedia Thailand. Kedua negara tersebut memang belum mempunyai Wikimedia chapter tersendiri. Baik di Selendia Baru maupun di Thailand, jumlah pengguna aktif terbatas dan jarang ada kegiatan berkumpul ramai-ramai; sementara, untuk mengurus kerja sama dengan museum, perpustakaan, dan instansi lain harus ada badan hukumnya.

Pada pukul 11 siang, RecentChangesCamp menerima Tika, pemimpin bagian website dari Museum Nasional Australia (NMA). Setelah mengenalkan diri dan membahas kerjanya dengan NMA, beliau membawa diskusi tentang hak budaya (cultural rights) atas gambar dan media lain yang terpisah dari status hukum media tersebut. Ada banyak sekali suku asli Australia, dan setiap suku mempunyai kepercayaan tersendiri tentang foto; misalnya, ada suku yang tidak mengizinkan adanya gambar orang yang sudah meninggal sama sekali, dan ada suku yang tidak pernah melarang adanya foto anggota mereka. Pembahasan ini saya merasa sebenarnya mencerminkan suatu kenyataan di Indonesia pula, sebab ada pelbagai kepercayaan dan suku di nusantara, sementara Wikipedia dan Commons memandang kebebasan dari azas hukum saja, dan bukan hak moral atau hak budaya.

Setelah pertemuan dengan Tika, para peserta membagikan diri dalam kelompok lagi. Saya, sebab masih tertarik dengan permasalahan hak budaya, ikut sesi yang lebih mendalami hal tersebut. Pada pertemuan ini, kelompok kami lebih mendalami beberapa keterbatasan yang dialami Wikimedia selaku proyek yang terdiri atas nilai-nilai dan kebudayaan-kebudayaan Barat tanpa memandang moralitas penggunaan media tertentu dalam kebudayaan lain. Setelah menggunakan beberapa contoh, termasuk dari suku pribumi Amerika dan Australia, kami membahas kemungkinan untuk mengatasi isu-isu media yang berkaitan dengan hak budaya suku asli Australia, termasuk penggunaan gambar sebagai fair-use dan pembuatan templat personality rights baru yang berisi ketentuan yang khusus. Sayangnya, hal tersebut belum tentu dapat diterapkan dengan baik sebab pihak di negeri lain belum tentu mau menghargai hak budaya orang asli Australia.

Setelah makan siang pizza (ternyata di Australia ada pizza domba...), saya memimpin sesi mengenai proyek Wikimedia Lontar untuk Penulis Indonesia dan beberapa hambatan yang dialami ketika kita mau membuat proyek. Tampaknya pihak dari Wikimedia Australia cukup mengerti isu yang dihadapi Wikimedia Indonesia dalam kerja sama dengan pihak museum dan sebagainya di Indonesia; mereka juga kagum dengan keberhasilannya Presiden Wikimedia Indonesia Siska Doviana, yang telah meluncurkan program hibah Cipta Media Bersama bersama Ford Foundation. Ketika kami membahas susahnya mendapatkan foto selebritis Indonesia dengan lisensi yang cocok, disarankan bahwa ada banyak ahli fotografi di Australia yang mungkin bersedia membantu kalau ada selebritis yang berwisata. Setelah itu ada pembahasan singkat mengenai masalah-masalah hak cipta, lalu kegiatan ditutup pada pukul 4 sore.

22 Januari

Pada kesempatan terakhir ini, pertemuan dibuka pada pukul 9:30 pagi dengan saling menyapa dan berterima kasih atas semua yang telah dilaksanakan selama RecentChangesCamp. Kemudian para peserta membagikan diri dalam dua kelompok; kelompok yang saya ikut membahas berbagai jenis konferensi Wikimedia yang tersedia di seluruh dunia. Sesi ini berjalan lebih dari satu jam, maka sesi lain menjadi semakin singkat. Saya jadinya membantu persiapan makan siang, jadi tidak mengikuti sesi-sesi berikutnya. Kegiatan ditutup pada pukul 12:00 dengan pembahasan apa yang hendak dicapai masing-masing hadirin selama tahun 2012.

Ide-ide untuk perkembangan

Proyek GLAM dan bekerja sama dengan pemerintah

Menurut hasil diskusi selama RecentChangesCamp, Wikimedia Australia sudah mulai bekerja sama dengan beberapa yayasan, museum, dan instansi pemerintah untuk membagikan informasi secara bebas. Laura dan teman-temannya sudah banyak bekerja dengan Komite Paralimpiade Australia, sementara Liam Wyatt mempunyai beberapa program yang hendak diluncurkan bekerja sama dengan ABC dan lembaga lain.

Bilamana Wikimedia Indonesia hendak benar-benar memasyarakat, jauh lebih mudah kalau ada dukungan dari instansi pemerintah atau akademis. Kita sudah ada kerja sama dengan universitas di setidaknya tiga kota, tetapi alangkah baiknya bilamana kita mendapatkan dukungan Arsip Nasional Republik Indonesia atau Kepustakaan Presiden-Presiden Republik Indonesia untuk gambar menteri, politikus, dan tokoh sejarah lain yang bebas digunakan. Saya sendiri akan sangat beruntung bilamana KapanLagi.com bersedia menyumbangkan media untuk digunakan secara bebas, sebab proyek di luar Indonesia tidak menggunakan izin khusus untuk Wikimedia, melainkan harus dengan lisensi bebas.

Kalau kita akan membuka kesempatan seperti ini, kita dapat meminta bantuan dari Wikimedia Australia untuk petunjuk bagaimana menjalani hubungan dengan pelbagai instansi. Mereka sudah berpengalaman dan bisa membantu kita menghindari masalah-masalah tertentu. Memang ada perbedaan budaya, tetapi kita masih dapat ide untuk mengembangkan proyek kerja sama antar instansi.

Hak budaya

Gambar ini, yang berisi seorang penari dari suku Navajo, dianggap tidak baik dalam konteks budaya Navajo, tetapi masih diizinkan di Wikimedia sebab tidak ada dasar hukum yang melarangnya.

Diskusi yang dipimpin Tika dan dilanjutkan Wikimedia Australia dapat diterapkan di Indonesia. Wikimedia, sebagai perwujudan nilai-nilai keterbukaan dan rasionalisme Barat, tidak memandang hak budaya ataupun pandangan orang dari suku atau kelompok tertentu mengenai foto, melainkan hanya memandang aspek hukum. Di Indonesia sendiri, ada lebih dari 600 suku, dan setiap suku mempunyai sudut pandang sendiri mengenai layak tidaknya diterbitkan foto orang; pandangan ini pun dapat berubah dari masa ke masa. Dengan demikian, foto-foto yang secara hukum boleh digunakan belum tentu dapat disetujui pihak dari latar belakang tertentu.

Contoh yang sederhana ialah gambar Sultan Hamengkubuwana I ataupun II. Orang Jawa pada saat itu, termasuk mendiang-mendiang, tidak nyaman dengan adanya gambar mereka. Hal tersebut memang sudah berubah, tetapi sampai sekarang pihak Kraton menghindari gambar sultan-sultan yang semasa hidup mereka tidak hendak adanya gambar mereka. Namun, menurut kebijakan Wikimedia yang berlaku, gambar Hamengkubuwana I ataupun II boleh saja digunakan asalkan ada lisensi bebas.

Dengan ketidaksesuaian kebudayaan ini, pihak dari suku-suku tertentu mungkin enggan menggunakan proyek Wikimedia ataupun menyumbangkan gambar aspek kebudayaan tertentu. Bilamana proyek berbahasa daerah akan dikembangkan, kita harus bisa memandang aspek kebudayaan seperti ini supaya bisa benar-benar memasyarakat.