Sarasehan Bahasa Minangkabau/Laporan

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian


LAPORAN ACARA PELAKSANAAN SARASEHAN BAHASA MINANGKABAU
"Kampuang nan Dakek di Jari: Standardisasi Penulisan Bahasa Minangkabau dalam Jaringan Internet"

Pra-acara

Pelatihan menyunting di Wikipedia bahasa Minangkabau

Sarasehan Bahasa Minangkabau, yang dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2015, dibuka terlebih dahulu dengan acara pelatihan menulis di Aula Lantai 1, Gedung B Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Komplek IPSC, Desa Tangkil, Sentul, Bogor. Dalam acara pelatihan ini, kontributor dan pengurus di Wikipedia Bahasa Minangkabau bersama dengan Faishal Wafiq Zakiy, yang juga seorang kontributor di Wikipedia Bahasa Minangkabau, mengajarkan kepada peserta pelatihan bagaimana cara membuat akun Wikipedia, membuat artikel baru, dan memperkenalkan aturan-aturan dasar menyunting di Wikipedia. Setelah itu, pendiri memberikan penjelasan perbedaan antara Wikipedia dengan Wikimedia kepada peserta.

Hasil

  • Jumlah peserta yang hadir saat pelatihan sebanyak 20 (dua puluh) orang, di antaranya:
    • Staf dan peneliti dari Badan Bahasa;
    • Mahasiswa magang di Badan Bahasa dari Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta;
    • Serta pembawa materi sarasehan yang didatangkan dari Padang dan Pekanbaru;
    • Daftar hadir selengkapnya dapat dilihat di sini (tertutup untuk publik).
  • Ada 4 (empat) peserta yang berhasil membuat akun, yaitu Sastri Sunarti, Ninawati Syahril, Eva Krisna, dan Eva Yenita Syam. Peserta lain tidak berhasil membuat akun Wikipedia pada hari tersebut disebabkan oleh jaringan Internet yang kurang stabil.
  • Salah satu artikel yang berhasil dibuat pada saat pelatihan adalah Bailau. Artikel rintisan ini dibuat oleh Sastri Sunarti.
  • Materi presentasi pelatihan menulis dapat di lihat di sini
  • Berita perihal pelatihan ini dapat dibaca di pranala berikut:

Acara

Juli 29 2015 Foto bersama peserta dan pembicara.jpg

Dibuka oleh kata sambutan Ichsan Mochtar dari Wikimedia Indonesia dan Dr. Sugiyono dari Badan Pengembangan dan Pelindungan Bahasa, acara Sarasehan Bahasa Minangkabau resmi dilaksanakan. Acara ini dibagi menjadi 4 (empat), 3 (tiga) sesi merupakan pemaparan makalah dari pembawa materi, dan 1 (satu) sesi terakhir merupakan penarikan kesimpulan dari seluruh sesi.

Dr. Sugiono dalam kata sambutannya menjelaskan bahwa Pusat Bahasa memiliki amanat untuk melindungi bahasa dan sastra lokal (daerah) karena semuanya itu merupakan kekayaan. Di Pusat Bahasa banyak orang yang mengetahui akan bahasa Minangkabau, namun mereka dibebankan untuk mempertahankan bahasa Indonesia alih-alih bahasa Minangkabau, bahasa ibu mereka sendiri. Jika ada pihak yang ingin meminta dukungan untuk membuat kamus, dan sejenisnya, Pusat Bahasa atau UPT dapat membantu mengirimkan tenaga dan bahan yang dapat dimanfaatkan.

Bahasa Minangkabau, sama seperti bahasa lokal lainnya memiliki penutur yang tidak murni lagi untuk generasi sekarang. Bahasa Minangkabau yang dipertuturkan oleh generasi sebelumnya merupakan bahasa yang murni. Oleh sebab itu, dibutuhkan upaya untuk mengembalikan “kemurnian” bahasa Minangkabau. Upaya ini dapat dilakukan seperti sering berdiskusi dengan komunitas pengguna bahasa Minangkabau.

Tahun depan, Pusat Bahasa akan mengadakan ekspedisi peta bahasa mulai Aceh hingga Jakarta untuk memetakan dengan lebih detil bahasa-bahasa lokal.

Sedangkan Ichsan Mochtar menyampaikan dari awal berdirinya, Wikimedia Indonesia sudah mendukung upaya berbagi pengetahuan menggunakan medium internet. Wikipedia yang ditulis oleh sukarelawan yang tidak dibayar, hanya dapat berkembang apabila jumlah sukarelawan ini diperbanyak. Cara paling baik untuk melestarikan budaya adalah dengan mengkombinasikan upaya pelestarian dengan teknologi itu sendiri, dan digerakkan oleh mereka semua yang mencintai dan mendukung budaya tersebut.

Namun, pengguna Wikipedia bahasa Minangkabau mengalami kesulitan dalam menentukan dialek baku untuk digunakan saat menulis dan berkontribusi dalam Wikipedia. Untuk mengatasi hal tersebut, diadakanlah pertemuan berbentuk diskusi ini untuk bertanya-jawab dan menentukan satu dialek bahasa Minangkabau yang baku, untuk digunakan dalam penulisan daring dan luring.

Hasil

  • Peserta yang hadir berjumlah 34 (tiga puluh empat)
  • daftar hadir peserta dapat dilihat di sini

Ringkasan pemaparan makalah dan tanya-jawab

Sesi 1: “Bagaimana Bahasa Minang dan bahasa ibu lainnya menghadapi era teknologi” oleh Dr. Sugiyono dan Dr. Gusdi Sastra, moderator Ibu Sastri

Dr. Sugiyono
Dr. H. Gusdi Sastra, M.Hum.
Drs. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum.
Yus Dt. Parpatiah
Dr. Revo Arka Giri Soekatno
Dr. Eva Krisna
Ahmad Fuadi
  • Dr. Sugiyono: “Menyelamatkan Aset Kebahasaan Indonesia”
    • Aset adalah sesuatu yang berharga untuk diri seseorang. Suatu benda dapat dianggap sebagai aset apabila ditanyakan “Apakah Anda merasa beruntung mempunyai…?” dan jawabannya adalah “ya”. Begitu pula dengan pertanyaan “Apakah Anda mendapatkan banyak manfaat dari …?” dan pertanyaan lain yang ditujukan untuk mengakui manfaat dari sesuatu.
    • Bahasa dan sastra daerah merupakan aset seseorang, dan ia perlu melindungi dan meneruskan ke generasi selanjutnya agar identitasnya tidak hilang. Bahasa Melayu di Indonesia merupakan bahasa Indonesia, dan tidak sama dengan bahasa Melayu di Malaysia dan Brunei Darussalam.
    • Kekayaan Indonesia: Ada 740 bahasa lokal di Indonesia, tepatnya 726 bahasa (Ethnologue, 2012). Bahasa Minang memiliki sekitar lima juta penutur.
    • Apabila seorang anak telah mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa utamanya dibandingkan bahasa ibunya, dikhawatirkan generasi anak tersebut adalah generasi terakhir dari penutur bahasa tersebut.
    • Faktor yang dapat memunahkan suatu bahasa:
  1. Perang,
  2. Urbanisasi,
  3. Modernisasi,
  4. Globalisasi,
  5. Perkawinan,
  6. Bencana alam.
    • Telah ada dasar hukum yang berfungsi untk mengembangkan, membina, dan melindungi suatu bahasa. Pusat Bahasa merupakan sebuah lembaga yang diminta untuk memfasilitasi hal tersebut.
      • Pasal 41 UU 24/2009 -> Pemerintah Pusat
      • Pasal 42 UU 24/2009 -> Pemerintah Daerah
    • Perlindungan bahasa (rekam, kaji, deskripsi, registrasi) hanya dapat dilakukan pada bahasa yang tidak memiliki harapan hidup. Jika bahasa yang masih memiliki harapan hidup, maka dapat dilakukan revitalisasi.
    • Contoh revitalisasi pernah dilakukan dengan kesenian Lamut (Banjarmasin), Kuntulan (Banyuwangi), Dadente (Palu) dll. Perlindungan yang dikonsepkan oleh Pusat Bahasa adalah menjadi pelaku kesenian tersebut.
  • Dr. H. Gusdi Sastra, M.Hum: Bahasa Minangkabau dalam Jaringan dan Pengindonesiaan Bahasa Minangkabau di Era Teknologi
    • Bahasa Minangkabau hari ini:
      • Tidak diajarkan di tingkat SD (membutuhkan upaya untuk mengajarkan bahasa Minangkabau sejak dini kepada anak-anak),Penuturnya dwibahasa,
      • Memiliki hubungan dekat dengan bahasa Melayu.
      • Bahasa Minangkabau berasal dari India Belakang ras Dentro Malay. Masuk ke Indonesia pada 500 SM. “Minangkabau” berasal dari “menonkhabu” (tanah pangkal) dan “melaiur” (gunung).
      • Bahasa Minangkabau dan bahasa Melayu memiliki kesamaan fonologi, struktur dan kategori fatis dan historis sehingga penutur bahasa Minangkabau mudah mengalihbahasakan suatu kata ke bahasa Melayu, dan sebaliknya.
      • Konsonan /f/, /z/, /sy/, dan /x/ tidak ditemukan dalam bahasa Minangkabau, begitu pula dengan bunyi vokal /θ/.
      • Dalam menghadapi era teknologi, bahasa Minangkabau perlu dilestarikan dengan cara menyisipkan ke dalam pengajaran di sekolah, strandardisasi pelafalan bunyi dan struktur bahasa, NLP dalam standardisasi bahasa, riset indisipliner, sosialisasi penulisan di WPMIN, menyediakan visual bahasa Minangkabau di media elektronik, dan pedoman untuk mengoreksi bahasa Minangkabau pada penamaan umum.

Sesi 2: Dialek Minangkabau manakah yang sebaiknya diutamakan dalam penulisan daring? oleh Drs. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum. dan Yus Dt. Perpatih, moderator Ibu Sastri

  • Drs. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum. : Penentuan Dialek Baku Bahasa Minangkabau dalam Penulisan Daring
    • Bahasa Minang merupakan bahasa yang besar, keempat besar di Indonesia yang dituturkan di berbagai wilayah geografis, bahkan di luar Indonesia. Dari sekian banyak ragam bahasa, kita harus menentukan ragam mana yang akan dipilih untuk dimanfaatkan dari segi kebakuan lisan dan tulis. Untuk menentukan itu akan lebih baik melihat dari segi tulisan, karena dari segi lisan akan sulit untuk membuat kebakuan. Penyebab susahnya membakukan itu adalah ada banyaknya dialek di Minangkabau. Misalnya antara lapeh di kota Padang dan lopeh di M kabupaten Lima Puluh Kota.
    • Pembakuan ini sangat penting karena dalam penulisan Wikipedia kita harus mempunyai kesepakatan bersama. Kesepakatan ini agar semua masyarakat dapat memanfaatkannya.
    • Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa sangat mendukung kegiatan yang digagas oleh Wikimedia. Pelestarian pada daring sangat menggembirakan.
    • Sampai saat ini belum ada pembaatasan bahasa dan dialek karena masih menjadi perdebatan di kalangan ahli dialektologi.
    • Bahasa merupakan kesepakatan sebagai sarana yang dipergunakan untuk komunikasi.
    • Setiap bahasa mempunyai variasi bahasa yang disebut dialek atau laras. variasi ini tercipta karena adanya perbedaan kelompok, waktu, dan tujuan penggunaannya.
    • Ciri-ciri dialek:
      • Adanya perbedaan dalam kesatuan dan kesatuan dalam perbedaan.
      • Adanya ujaran yang berbeda dari bahasa yang sama di daerah setempat.
      • Dialek tidak harus mengambil semua bentuk ujaran dalam sebuah bahasa.
    • Bahasa dan dialek diklasifikasikan melalui pehitungan dialektometri.
    • Bahasa Minangkabau memiliki berbagai macam dialek di wilayah berikut: (dari penelitian Badan Bahasa):
      • Sumatera Barat 5 dialek
  1. Aceh juga memiliki 3 dialek.
  2. Jambi memiliki 1 dialek.
  3. Riau -> 5 Dialek
  4. Sumatra Utara -> 2 dialek
  5. Bengkulu -> 1 dialek
    • Dialek dominan dalam bahasa Minangkabau adalah dialek Agam-Tanahdatar karena banyaknya penutur dan sebaran wlayah geografis yang luas.
    • Sub-subdialek yang banyak di Minangkabau (9 dari penelitian Pusba) perlu diberikan pembakuan dalam penulisan daring tanpa menghilangkan sub-sub tersebut.
    • Untuk bandul (id) menjadi bandua dalam Minang, bukan bandue. Bandue merupakan dialektikalnya.
    • Kuda menjadi kudo bukan kudeo, kudo telah umum dipakai masyarakat. Kata-kata umum inilah yang nantinya kita lakukan pembakuan.
    • Dialek baku yang bisa diangkat menjadi bahasa baku Minangkabau adalah dialek Agam-Tanah Datar atau dialek Padang.
    • Dialek Padang dapat dipakai karena Padang merupakan pusat pemerintahan Sumatra Barat. Dialek ini banyak dipakai dalam kegiatan politik dan ekonomi.
  • Yus Dt. Perpatih: Sebuah Kajian Tentang Upaya Pembakuan Bahasa Minangkabau Standar
    • Bahasa Minangkabau merupakan bahasa yang sangat rumit dikarenakan banyaknya dialek yang dimiliki berbagai daerah. **Wilayah Minangkabau sendiri berbeda dengan wilayah provinsi di Indonesia saat ini. Meski pun tidak menggunakan bahasa Minang, hampir seluruh warga pulau Sumatera mengerti dengan bahasa Minangkabau.
    • Kelemahan bahasa Minang adalah kosakata yang dimilikinya minim. Akan tetapi, kelebihannya adalah dialek yang kaya perbedaan. Minimnya kosakata ini ditutupi dengan falsafah kato nan ampek. Kalimat yang dipakai untuk kata lalok untuk tidur akan berbeda tergantung dengan siapa berbicara.
    • Contoh lainnya adalah untuk ceker yang dalam bahasa minang hanya menjadi kaki ayam.
    • Tidak semua kata dalam bahasa Minang dapat dirubah dengan akhiran atau sisipan. Misalnya: kasus, saling, budaya, dan harmonis.
    • Minangkabau kaya dengan istilah. Kekayaan ini sering dipergunakan dengan maksud menyindir seseorang. Sebagaimana diketahui bersama, ada falsafah kato nan ampek. Salah satunya adalah kato malereng, inilah yang menjadikan banyaknya istilah di dalam bahasa Minang.
    • Dalam bahasa pergaulan, orang Minang sering memotong kata, misalnya: apo menjadi a, siapo menjadi sia, bagaimano menjadi baa.
    • Kata pergaulan yang sudah mati (tidak dipakai lagi). Meski demikian, masih banyak yang memakainya walau tidak tau artinya karena sudah akrab dalam pembicaraan. Contoh: lancuang, daciang, santo, anggo.
    • Ampek merupakan falsafah hidup orang Minangkabau. Ada istilah indak tau jo nan ampek atau indak ma ampek, ini maksudnya tidak mengenal adat Minangkabau (kato nan ampek).
    • Aturan Minang itu ampek sakabek.
    • Ada kata-kata yang tidak logis untuk dipakai namun dibenarkan, contoh: mananak nasi, mambuka lapau, mangguntang baju, dan sambahyang.
    • Ada kata-kata benar yang dianggap salah, misalnya: ketika seseorang tidak bisa menguasai suatu bidang, seharusnya disebut kurang aja (aja artinnya ajar), tetapi kurang aja berkonotasi negatif dalam bahasa Minang.
    • Sumbangan dari bahasa Minang sangat banyak bagi bahasa Indonesia.

Sesi 3: Konservasi Bahasa/Budaya melalui Wikipedia oleh Dr. Revo Arka Giri Soekatno, Dr. Eva Krisna dan Ahmad Fuadi

  • Dr. Revo Arka Giri Soekatno: Bahasa Jawa dan Wikipedia bahasa Jawa
    • Kebanyakan konten berbahasa Jawa di internet kurang dapat dipercaya kerana mayoritas berisi kategori kebatinan, perkerisan, neptu yang berasal dari orang ‘pintar’ di internet.
    • Yang dibutuhkan Wikipedia adalah sumber dan rujukan yang dapat dipercaya, bukan orang ‘pintar’.

Wikipedia Bahasa Jawa baku berdasarkan ejaan EYD Bahasa Jawa 1974 yang ditambahkan aspek ejaan Sriwedari dn menggunakan aksacara Hanacaraka.

    • Dialek yang dipergunakan dalam Wikipedia bahasa Jawa adalah dialek Mataram (Dialek Surakarta dan Yogyakarta) daari Bahasa Jawa. Dialek ini telah digunakan sejak era kolonial Belanda karena alasan prestise. Dialek ini dipergunakan oleh kerajaan terbesar di Jawa.
    • Proyek revitalisasi Wikipedia bahasa Jawa berupa sayembara:
      • Papat Limpat 2011-2012
      • Papat Limpat 2012-2013
    • Wikipedia Bahasa Jawa memiliki tandingan, yakni dari dialek Banyumasan berupa Wikipedia Bahasa Banyumasan. Namun tidak disarankan membuat tandingan seperti ini, karena isinya kurang lebih sama.
  • Dr. Eva Krisna: Konservasi Kebudayaan Minangkabau melalui Wikipedia Baso Minangkabau
    • Wikipedia dapat dijadikan alat untuk memperkenalkan kebudayaan.
    • Tradisi lisan: Ada tradisi yang dilakukan di Minang memiliki istilah khusus pada daerah tertentu, contoh: turun mandi yang di Painan menjadi bakebam, khitanan (basunat), pernikahan (baralek), pengangkatan pemimpin adat (malewakan gala), kematian (manatiang riyan),
    • Sastra Lisan: pantun (bapantun), bercerita (bakaba), drama (barandai)
    • Situs Budaya: Gunung keramat: Gunuang Linggo, Makam Keramat: Syekh Burhanuddin dan Syekh brahim Mufti
    • Sastra Lisan Kaba: Banyak bahasa Minang dalam dialek tertentu yang hanya orang dari profesi/kalangan tertentu yang mengenalnya.
    • Istilah-istilah cemooh menjadi begitu banyak karena memang tradisi menyindir di Minang begitu kuat.
    • Yang membuat berkurangnya penutur bahasa adalah tradisi merantau, falafah Dimano bumi dipijak, disitu langik dijunjuang membuat banyak perantau yang mulai melupakan adat Minang. Ketika mereka kembali ke kampung, lidah sudah patah dan kosakata berkurang.
    • Wikipedia dapat dijadikan bahan riset melalui sumber dan rujukan yang terdapat pada artikelnya, palingtidak sebagai langkah awal.
    • Buku bagus namun punya keterbatasan bagi masyarakat umum.
    • Bahasa Minang cukup populer di Indonesia, dengan banyaknya tokoh Minangkabau yang berpengaruh. Ketertarikan dari luar Minang dapat dimanfaatkan tapi perlu pengenalan budaya Minangkabau.
    • Bahasa itu juga ada bunyi, disanalah dialek-dialek tertentu dapat diperkenalkan.

Tanya-jawab: dapat di lihat di sini

Acara pengisi rehat

Penari Minangkabau

Wikimedia Indonesia bekerja sama pula dengan Sanggar Bhinneka Srikandi menampilkan tarian-tarian asal Minangkabau diantaranya Tari Piring dan Tari Rantak (yang sudah dimodifikasi). Tari Piring ditampilkan setelah Sesi 1 selesai dan Tari Rantak ditampilkan setelah Sesi 2 selesai.

Pasca-acara

Mariyanah memberikan keterangan mengenai proyek-proyek yang dilakukan oleh Wikimedia Indonesia saat makan malam
Para peserta terlihat serius mendengarkan penjelasan mengenai Wikimedia Indonesia dari Mariyanah dan Nurleni
Diskusi ringan antara Djohan (kiri), Dr. Eva Krisna, peserta, dan Ichsan (kanan) mengenai hal yang dapat dilakukan setelah acara ini berlangsung

Setelah acara Sarasehan ini selesai, panitia mengajak para peserta, tamu undangan, dan beberapa staf Badan Bahasa untuk makan malam di Restaurant Ah Poong, Sentul. Dalam pertemuan yang dilakukan secara informal ini serta dari pembicaraan sebelumnya, didapatkanlah beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan dalam waktu dekat. Beberapa hal tersebut di antaranya adalah:

  • Muhammad Ibrahim Ilyas, seniman teater, akan mengundang dua komunitas ke Padang, yaitu komunitas teater & komunitas penulis. Dalam hal ini, Wikimedia Indonesia secara tidak langsung dapat berpartisipasi untuk memperkenalkan Wikipedia kepada komunitas-komunitas yang diundang tersebut serta memungkinkan untuk bekerja sama.
  • Azmi Dt. Bagindo, Sekjen LKAM, akan menyumbangkan dua buku mengenai polemik adat Minangkabau di internet. Satu di antaranya sudah diterbitkan, dan satu lagi telah mengalami proses editing oleh Dr. Edwar Djamaris, namun belum diterbitkan. Lisensi buku ini apabila dibebaskan untuk publik maka akan dapat disimpan di Wikisource.
  • Dr. Eva Krisna, staf Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat, akan mengirimkan kamus bahasa Minangkabau secara gratis dan menyumbangkan tulisan hasil risetnya untuk didigitalisasi. Wikimedia Indonesia juga telah mengirimkan surat untuk Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat untuk permintaan resmi dan dititipkan melalui Dr. Eva Krisna.
  • Dr. Gusdi Sastra, M.Hum., Kepala Jurusan Sastra Indonesia FIB Universitas Andalas, akan menjajaki kemungkinan penyuntingan Wikipedia dapat dimasukkan sebagai penambah nilai dalam mata pelajaran perkuliahan. Dr. Revo Arka Giri juga diminta oleh Dr. Gusdi Sastra untuk hadir ke Universitas Andalas untuk mengajar Wikipedia dan/atau sebagai dosen tamu untuk membahas topik mengenai ilmu bahasa.
  • Yus Dt. Parpatiah, seniman musik dan teater, mengundang untuk hadir dalam acara halal bi halal nagari-nagari sekeliling Danau Maninjau di Taman Mini Indonesia Indah sekitar tanggal 15 Agustus 2015. Yus Dt. Parpatiah memiliki koleksi karya lagu, drama, dan cerita jenaka dalam bahasa Minangkabau yang populer pada tahun 1980-an.
  • Drs. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum., peneliti bahasa di Badan Bahasa, akan mengajukan perbaharuan pedoman ejaan bahasa Minangkabau kepada Badan Bahasa untuk memutakhirkan kamus edisi sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 1990.
  • Dr. Sugiyono, Kepala Pusat Pelindungan dan Pengembangan Bahasa, mengatakan bahwa Badan Bahasa memiliki rekaman dari para maestro asal Minangkabau dalam bentuk gulungan pita rekaman, video VHS, dan disket, di mana media tersebut pada saat ini sudah sulit untuk diakses karena keterbatasan pemutar media. Dr. Sugiyono menyarankan untuk mengadakan proyek digitalisasi seperti proyek yang dikerjakan oleh Chris Woodrich dengan Museum Dewantara Kirti Griya, Yogyakarta.
  • Dr. Sastri Sunarti, peneliti bahasa di Badan Bahasa, memiliki beberapa kamus dan buku yang hak cipta buku-buku tersebut telah berakhir. Dr. Sastri mengatakan bahwa koleksi tersebut akan dipinjamkan ke Wikimedia Indonesia untuk didigitalisasi.
  • Ahmad Fuadi, penulis dan novelis, menyatakan bersedia mendukung untuk diundang ke acara-acara yang dilaksanakan oleh Wikimedia Indonesia terkait Bahasa Minangkabau.

Liputan media

Laporan penerima beasiswa Sarasehan Bahasa Minangkabau

Kontributorn

Pada tanggal 28-29 Juli 2015, Wikimedia Indonesia bekerjasama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Badan Bahasa, telah mengadakan Sarasehan Bahasa Minangkabau Kampuang Nan Dakek di Jari, sebuah kegiatan yang bertujuan untuk mendiskusikan dan menetapkan sebuah standardisasi penulisan bahasa Minangkabau secara daring di Wikipedia bahasa Minangkabau. Kegiatan ini berlangsung di Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Kompleks IPSC Sentul, Bogor.

Sebagai salah satu perintis dan kontributor Wikipedia bahasa Minangkabau, saya turut diundang hadir sebagai salah satu narasumber di sesi pra-sarasehan dan peserta. Bersama saya adalah sesama kontributor bahasa Minangkabau, yaitu Faishal Wafiq Zakiy dari Padang. Kami berdua diminta menjadi pengajar pada sesi pengenalan dan menyunting artikel di Wikipedia bahasa Minangkabau untuk staf Badan Bahasa sehari sebelum sarasehan berlangsung, yaitu pada hari Selasa, 28 Juli.

Saya tiba dari Pekanbaru pada pagi Senin 27 Juli, dan bertemu Faishal di Bandara Soekarno-Hatta. Kami dijemput oleh Mas Rachmat Wahidi dari WMID, dan kebetulan juga bertemu dengan Dr. Gusdi Sastra dari Universitas Andalas dan Dr. Eva Krisna Piliang dari Balai Bahasa Sumatera Barat. Setelah singgah sejenak ke Hotel Lorin Sentul dimana kami menginap, kami langsung dibawa menuju tempat pra-sarasehan di IPSC. Acara pra-sarasehan ini berlangsung dengan cukup baik, dimana peserta dari Badan Bahasa tampak cukup antusias dalam berkontribusi di Wikipedia. Total sekitar dua puluh orang yang mengikuti sesi yang dmulai pada sekitar pukul 14.30 ini, terdiri atas staf dan peneliti dari Badan Bahasa dan beberapa mahasiswa magang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Sesi dimulai oleh presentasi saya yang memperkenalkan Wikipedia dan Wikimedia secara umum (tampaknya ini cukup bisa dipahami beberapa peserta yang kerap tertukar antara Wikipedia dan Wikimedia), kemudian disusul oleh panduan menyunting di Wikipedia oleh Faishal. Jaringan Internet yang kurang stabil membuat hanya beberapa peserta yang dapat membuat akun dan menyunting Wikipedia, termasuk Dr. Sastri Sunarti yang berhasil membuat satu artikel tentang Bailau.

Kedua sesi ini diiringi juga oleh tanya jawab: para peserta dari Badan Bahasa tampak antusias dalam melontarkan pertanyaan-pertanyaan, dari yang nonteknis (Dr. Gusdi Sastra menanyakan mengenai kebijakan penulisan biografi orang yang masih hidup) hingga yang cukup teknis (ada yang menanyakan mengenai cara memasukkan referensi di ke dalam artikel). Dalam sesi tanya-jawab ini kami dibantu oleh Pak Ichsan Mochtar yang juga berbagi pengalamannya dalam menyunting dan menjelaskan tentang kebijakan Wikipedia.

Kegiatan sarasehan berlangsung pada keesokan harinya, yaitu Selasa, 28 Juli. Saya berkesempatan untuk bertemu beberapa pengurus Wikipedia bahasa Indonesia (yang kebetulan beberapa juga saya temui sewaktu LangCamp di UI tiga tahun silam) seperti Pak Revo Arka Giri Soekatno (yang menjadi salah satu narasumber hari itu), Da Gombang Nan Cengka, dan Mas Albertus Aditya. Peserta lain yang hadir juga cukup beragam: ada novelis Ahmad Fuadi dan seniman legendaris Yus Dt Parpatiah.

Sebelum acara, panitia membagikan makalah para pembicara, termasuk Pedoman Ejaan Bahasa Minangkabau yang diterbitkan oleh Badan Bahasa pada tahun 1990(!). Pedoman ejaan ini sudah lama saya cari-cari dan ternyata berhasil saya temukan di sini, terutama untuk memperbaiki konvensi ejaan di Wikipedia Minangkabau yang saat ini masih kacau balau. Acara dibuka oleh Pak Ichsan dari WMID dan Dr. Sugiyono dari Badan Bahasa. Dr. Sugiyono dan Dr. Gusdi menjadi narasumber sesi pertama, yang membahas mengenai asset kebahasaan Indonesia dan situasi bahasa Minangkabau saat ini. Fakta-fakta yang dipaparkan Dr. Gusdi cukup membangkitkan semangat para peserta untuk bertanya.

Sesi kedua disampaikan oleh Drs. Abdul Gaffar Ruskhan dan Pak Yus Dt. Parpatiah. Dalam presentasinya, Pak Gaffar memaparkan tentang kondisi dialek dalam bahasa Minangkabau dan upaya pemerintah (dalam hal ini Badan Bahasa) untuk mengkonservasinya. Beliau juga memaparkan tentang pandangan ilmu linguistik mengenai dialek, subdialek, dan kebahasaan. Presentasi Pak Yus yang sebagian besar dalam bahasa Minang (beliau menolak menggunakan bahasa Indonesia) memaparkan secara rinci perbedaan dialek-dialek dalam bahasa Minangkabau. Kedua pembicara ini sepakat untuk merekomendasikan dialek Agam-Tanah Datar dan Padang dalam penulisan di Wikipedia.

Selepas tengah hari, sesi ketiga diisi oleh tiga orang pembicara. Pak Revo memaparkan mengenai pengalamannya di Wikipedia bahasa Jawa dan sempat menyarankan agar tidak terjadi kasus sempal-menyempal seperti yang terjadi pada kasus bahasa Jawa dan Banyumasan. Dr. Eva Krisna berbicara mengenai konservasi kebudayaan Minang lewat Wikipedia, yang saya pikir bisa diwujudkan dengan memanfaatkan Wikimedia Commons dan sister project Wikipedia lain (seperti Wikisource). Khazanah kebudayaan Minangkabau yang sebagian besar berbasiskan lisan juga dapat dilestarikan di Wikipedia, mungkin dalam bentuk audio. Pembicara terakhir adalah novelis Ahmad Fuadi yang memaparkan perspektifnya sebagai seorang penulis dan pengalamannya dalam mencoba mengkonservasi bahasa Minang lewat film Negeri 5 Menara. Sarasehan ditutup dengan pembacaan rekomendasi oleh Pak Ichsan mewakili WMID.

Banyak hasil yang dapat diambil dari berlangsungnya sarasehan ini. Ide untuk menerapkan suatu dialek tertentu (seperti rekomendasi narasumber, yakni dialek Agam-Tanah Datar dan Padang) bisa dikaji lebih jauh, dan hal ini telah didiskusikan dengan beberapa penyunting Wikipedia bahasa Minang lainnya. Ide untuk mengkonservasi khazanah budaya Minangkabau lewat Wikipedia (dan sister projectnya) barangkali juga dapat diwujudkan (misalnya Wiki Loves Monument dan GLAM Project untuk warisan-warisan fisik di Sumatera Barat dan project artikel + audio di Wikipedia bahasa Minang).

Komunitas Wikipedia bahasa Minang juga mendapat beberapa hal yang mungkin dapat dilakukan sebagai tindak lanjut dari sarasehan ini. Dr. Gusdi dari Universitas Andalas menyatakan akan menjajaki kemungkinan penyuntingan Wikipedia dimasukkan dalam kurikulum perkuliahan, dan beberapa pihak dari Badan Bahasa menyatakan kesediaannya untuk menyumbangkan hasil riset mereka mengenai bahasa Minang (dapat diakomodir di Wikisource), mengirimkan kamus, memperbarui pedoman ejaan, dan kerjasama proyek digitalisasi.

Komunitas sendiri sekarang sedang menjajaki kemungkinan untuk membangun basis komunitas di Padang, dengan dukungan dari dua orang kontributor yang kebetulan sedang sama-sama kuliah di Universitas Andalas (Faishal dan Arjuna Fiqrillah) dan kontributor lain (Rahmatdenas dan Jayrangkoto). Upaya untuk membangun ini sepertinya akan dimulai dengan mengadakan kopi darat antar pengguna terlebih dahulu. Persoalan mengenai dialek juga akan menjadi bahasan utama dalam upaya ini, dan sepertinya akan melibatkan kerjasama dengan Balai Bahasa Sumatera Barat dan Universitas Andalas sendiri. Tindak lanjut selanjutnya mungkin adalah penyelenggaraan seminar lain di Padang, dimana sebagian besar pakar dan penyunting Wikipedia bahasa Minangkabau berada.

Perintis dan kontributor, Wikipedia bahasa Minangkabau.