Siaran pers/"Kampuang nan Dakek di Jari" Mempertahankan Penggunaan Bahasa Minangkabau di Internet

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Siaran Pers

Untuk disebar-luaskan
Bogor, 29 Juli 2015
"Kampuang nan Dakek Di Jari" Mempertahankan Penggunaan Bahasa Minangkabau Di Internet.

Wikimedia Indonesia yang bekerja sama dengan Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan acara diskusi "Kampuang nan Dakek di Jari: Standardisasi Penulisan Bahasa Minangkabau dalam Jaringan Internet".

Hal ini tercetus saat kontributor di Wikipedia Bahasa Minangkabau mengalami kesulitan dalam menentukan dialek baku untuk digunakan dalam penulisan artikel karena banyaknya dialek dalam bahasa Minangkabau. Padahal penulisan bahasa daerah dalam ranah internet sangat penting sehingga bahasa daerah mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Bahasa daerah adalah perekat budaya, apabila tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, berarti bahasa tersebut akan punah, dan ini berarti budayanya akan mengikuti pula atau malah akan berganti sama sekali.

Diskusi berlangsung pada hari Rabu, 29 Juli 2015 di Aula Lantai 1, Gedung B Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan, Komplek IPSC, Desa Tangkil, Sentul, Bogor dengan tujuh pengisi materi termasuk, Dr. Sugiyono (Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan) yang berpasangan dengan Dr. H. Gusdi Sastra, M.Hum. (akademisi Universitas Andalas) yang membawakan makalah dan pertanyaan penting “Bagaimana Bahasa Minangkabau dan Bahasa Ibu Lainnya Menghadapi/Beradaptasi dalam Era Teknologi”.

Dalam makalahnya, Dr. Sugiyono menyampaikan pentingnya menyelamatkan aset kebahasaan Indonesia, termasuk dalam hal ini bahasa Minangkabau, sedangkan Dr. Gusdi memaparkan perlunya kerja sama antara bidang ilmu-ilmu komputer, fisika, sistem informasi, dan komunikasi dengan ilmu linguistik, untuk penyerapan istilah yang tepat dari dan ke dalam bahasa Minangkabau, baik segmental maupun suprasegmentalnya.

Dr. Revo Arka Giri Soekatno (Wikipediawan dan penulis) membawakan makalah “Konservasi Bahasa/Budaya melalui Wikipedia” yang menekankan bahwa Wikipedia tidak butuh orang-orang yang ‘pintar’ internet, melainkan butuh rujukan dan referensi dari sumber tepercaya. Sementara itu, Dr. Eva Krisna (Balai Bahasa Sumatra Barat) dalam makalahnya membahas potensi Wikipedia sebagai alat konservasi sastra dan budaya lisan serta tulisan Minangkabau. Sedangkan Ahmad Fuadi (penulis novel “Negeri 5 Menara”) menyatakan bahwa “konservasi budaya melalui Wikipedia adalah baik untuk riset bagi seorang penulis, akademisi, jurnalis dan orang awam; dan mengingatkan kembali perantau (seperti saya) akan akar budayanya (Minangkabau).”

Yus Dt. Parpatiah (budayawan) dalam makalahnya membahas keragaman ejaan dalam berbagai dialek bahasa Minangkabau, yang perlu diperhatikan dalam upaya yang akan dilakukan, sedangkan Dr. Abdul Gaffar Ruskhan, M.Hum. (peneliti dari Badan Bahasa) menyampaikan bahwa dengan pertimbangan linguistik, sosiokultural, dan ekonomis-politis, maka dialek Agam-Tanahdatar atau dialek Padang dapat dipertimbangkan sebagai dialek standar dengan mengikuti pola-pola umum bahasa Minangkabau, yang beliau sampaikan saat membahas “Dialek Minangkabau Manakah yang Sebaiknya Diutamakan dalam Penulisan Daring?”

Peserta yang datang termasuk undangan kontributor Wikipedia bahasa Minangkabau yang didatangkan langsung dari Sumatra dan Jakarta, milis komunitas Minangkabau R@ntauNet (sejak 1993), Gebu Minang, paguyuban perantau, peneliti, dan publik yang pendaftarannya dibuka melalui formulir daring sejak 13 Juli 2015.

***SELESAI***

Untuk pertanyaan lebih lanjut silahkan hubungi Biyanto Rebin Sekretaris Jenderal Wikimedia Indonesia melalui surel: biyanto.rebin@wikimedia.or.id