World Economic Forum Jakarta Panel: Norma dan Nilai di Media Digital Dalam Membentuk Solusi Untuk Era Baru

Dari Wikimedia Indonesia
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
World Economic Forum Logo.jpg
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hadir sebagai pembuka dan salah satu panelis diskusi

Pada 21 Oktober 2013 pukul 12:00 – 15:30 bertempat di GroupM, Tempo Scan Tower, Kuningan, Jakarta, Wikimedia Indonesia dan Creative Commons Indonesia berpartisipasi pada diskusi World Economic Forum Jakarta Panel: Norma dan Nilai di Media Digital Dalam Membentuk Solusi Untuk Era Baru

Diskusi ini adalah agenda industri untuk memetakan bagaimana teknologi mengubah praktek-praktek kreatifitas mulai dari ekosistem penciptaannya, hak cipta, akses, konsumen, partisipasi dan kolaborasi global. Acara diskusi ini diprakarsai oleh World Economic Forum dan merupakan satu dari dua acara diskusi yang dilaksanakan di Indonesia. Acara kedua dilaksanakan di Bali pada saat pertemuan internasional Internet Governance Forum 2013.

Ari Juliano dari Creative Commons Indonesia datang terlambat dikarenakan mendapatkan undangan sebagai pembicara di seminar mengenai Hak Cipta dan Creative Commons di ESQ Business School. Namun menjadi panelis di acara kedua di Bali.

Topik diskusi adalah: Norma dan Nilai di Media Digital Dalam Membentuk Solusi Untuk Era Baru Dengan pertanyaan utama: Bagaimana cara terbaik untuk menghargai kreativitas?

  • Bagaimana menyeimbangkan kemauan berbagi dan kepemilikan atas kerja kerja kreatif dan pada saat yang sama memberi tenaga untuk nilai nilai ekonomi agar tumbuh?
  • Bagaimana pemangku kepentingan yang berbeda beda bisa bekerja sama untuk membangun kepercayaan dan transparansi pada dunia yang telah digital?
  • Mungkinkah kita membangun proyek-satu-tahun yang dapat mengeksplorasi kaitan-kaitan antaran kebebasan berekspresi, privasi, dan properti intelektual pada dunia digital? WEF sendiri memiliki kerangka berpikir berupa Laporan 2012 untuk memberikan informasi pada pembuatan kebijakan di dunia yang saling terhubung.
  • Tahun ini WEF tengah bekerja untuk mengembangkan prinsip-prinsip untuk para pemangku kepentingan dengan tujuan membantu para pemain besar di bidang ini; pemerintah dan pembuat kebijakan, bisnis, dan warga sipil - lebih mengerti kepentingan dan kelompok kelompok berbeda yang ada didalamnya, dan bagaimana mereka dapat bekerjasama untuk menciptakan nilai ekonomi dan nilai sosial pada saat yang sama mengembangkan komunitas kreatif yang sehat.


Pembuka dan panelis

  • Mari Eka Pangestu (Menparekraf) - pidato pembuka
  • Edi Taslim (Digital Group Director, Kompas Gramedia Group)
  • Paolo Lanteri (Assistant Legal Officer, Copyright Law Division Culture and Creative Industries Sector, World Intellectual Property Organization - WIPO)
  • Siska Doviana (Ketua Umum, WMID)
  • Enda Nasution (New Mobile Platform)
  • Simon Milner (Policy Director UK & Ireland, Facebook)
  • Rajana Singh (CEO Group M, Moderator)

Diskusi

Panelis World Economic Forum dari kiri ke kanan Edi Taslim (Digital Group Director, Kompas Gramedia Group), Mari Eka Pangestu (Menparekraf), Paolo Lanteri (Assistant Legal Officer, Copyright Law Division Culture and Creative Industries Sector, World Intellectual Property Organization WIPO), Siska Doviana (Ketua Umum, WMID), Enda Nasution (New Mobile Platform), Simon Milner (Policy Director UK & Ireland, Facebook), Rajana Singh (CEO Group M, Moderator)
MEP:
Mengetengahkan pertanyaan besar yaitu bagaimana Indonesia dapat meng-uangkan dan menciptakan nilai ekonomi dari warga yang saling terhubung ini. Banyak tantangan yang dihadapi Indonesia diantaranya adalah infrastruktur dan kemampuan untuk mengakses infrastruktur, apabila mau jujur, bahkan sumber daya manusianya pun "belum sampai".
Saat Geeks On A Plane diundang ke Indonesia dan ditanya bagaimana potensi Indonesia, menurut mereka sumber daya di Indonesia banyak yang kreatif - namun mereka kesulitan mendapatkan uang dari kreatifitasnya. Tantangan lain dari Indonesia adalah kurangnya insinyur dan teknisi informasi teknologi. Tanpa hal terakhir ini, apapun yang diciptakan orang kreatif tidak akan dapat berkembang besar naik pada level internasional (misalnya), karena infrastruktur besar membutuhkan insinyur dan teknisi agar dapat melayani arus besar.
ET:
Media lokal seperti kompas dan vivanews pun mengeluhkan mengenai pajak dari pemerintah, karena baru mau mulai, sudah dipajak. Sebanyak 25 persen dari pemasukan lari ke pajak, padahal pemain besar yang tidak ada di Indonesia seperti google, facebook, dan lainnya tidak kena pajak. Rasanya jadi ironis sudah kecil dipencet, padahal yang besar dibiarkan bebas.
PL:
Mengemukakan apabila ingin dilihat contoh sukses dari pemanfaatan ekonomi digital, negara yang dilihat sukses oleh WIPO adalah Korea Selatan. Mereka mampu "menguangkan" banyak hal kreatif dari keterhubungan digital mereka. Ekosistem untuk inovasi dan keberlanjutan inovasi terjamin dengan kapital ini, dan disaat yang sama masih memiliki ruang untuk digital disruption (menggoyang pasar dengan cara digital) tetapi ada catatan penting dari Korea yang diamati menjadi dasar keberhasilan, mereka memiliki sistem hak cipta yang sangat maju dan dipatuhi dengan baik.
SM:
Menanggapi pajak untuk pemain lokal, sebenarnya hal ini bukan hal baru untuk Facebook dan bukan hal khusus terkait Indonesia juga. Uni Eropa mengalami masalah yang sama dalam keinginan "menguangkan ketersambungan digital", barang di toko kena pajak, tapi bagaimana mereka dapat memajak barang yang dijual secara daring (online) bagaimana melacaknya? Kini mereka tengah berembuk dan berdiskusi dalam mencapai keputusan. Saran Simon adalah Indonesia pun harus mengambil keputusan kemana arah kaki akan dibawa melangkah? Hal ini bukan tergantung pemain besar seperti facebook dan google. Apakah akan mengikuti langkah Cina dengan Great Firewall of China atau memiliki kebijakan sendiri?
SD
Pertanyaan untuk Ibu Mari, mengapa harus diuangkan bu keterkaitan digital ini? Bukankah "kebesaran" dari keterkaitan digital ini adalah karena segala sesuatu dibiarkan bebas gratis? Mungkin kalau diuangkan, kita tak akan seterkait ini.
MEP
Saya pikir hal ini bukan kubu yang berbeda yah, karena bisa saja yang diuangkan dan yang dibebaskan bermain di lapangan yang sama, coexist. Idealnya pengetahuan media (media literacy) untuk Indonesia adalah para 'warga internet' memiliki kebijaksanaan bersama (Crowd Wisdom). Dimana kerumunan pengguna memiliki kebijaksanaan yang sama dalam menentukan mana yang benar dan mana yang salah, atau ada para pemain di lapangan memiliki tanggung jawab untuk mendidik konsumen. Idealnya konsumen pun memiliki self censorship (menahan diri) dan self governing (mengatur dirinya sendiri), tanpa pemerintah terlampau jauh mengintervensi. Namun apa benar kita telah sampai disana?
Pemerintah melalui kementrian pariwisata dan kreatif ekonomi mendukung penggunaan Creative Commons dan berpikir bahwa bank sebagai penyedia dana dan kapital seharusnya memiliki spesialis properti intelektual untuk mengukur peminjaman atau meniliai keter-"uang"-an suatu upaya yang adanya di internet.

Masukan dari non panelis untuk Mari Eka Pangestu

  • Kebijakan harus netral untuk teknologi sehingga bisa adaptif dan dinamis
  • Dari google dan YouTube upaya upaya untuk menguangkan pembuat konten telah dibuat dengan menggunakan adsense, dan kampanye bagaimana cara menguangkannya
  • Pemerintah sebaiknya tidak memilih "pemenang", dimana apabila persaingan melibatkan pemain lokal dan pemain non-lokal, janganlah dipilih pemain lokal sebagai pemenang hanya karena dia lokal walaupun tidak pantas unggul. Karena pada saatnya nanti akan ambruk karena sebenarnya tidak kuat dan tidak dipilih dengan baik. Pada saat yang sama pemerintah seharusnya tidak menghentikan pemenang, karena bukan pemain lokal.
  • Ada hal lain yang penting selain uang - yaitu data. Saat pemain luar negeri masuk ke Indonesia mereka memegang data akan apa yang terjadi di Indonesia untuk facebook, google, dan lainnya, pemerintah juga sebaiknya mulai berpikir untuk hal ini.

Pranala luar

  1. (Bahasa Indonesia) Situs lokal penyelenggara IGF 2013
  2. (foto) Foto-foto seminar mengenai Hak Cipta dan Lisensi Creative Commons di ESQ Business School via flickr.
  3. (Bahasa Inggris) Laporan World Economic Forum mengenai Norma dan Nilai di Media Digital
  4. (Bahasa Inggris) Geeks On A Plane
  5. (Bahasa Indonesia) Creative Commons